MerahPutih Nasional- Hampir setengah abad usia Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Utama, Kalibata, Jakarta. Namun, lahan seluas 25 hektar itu saat ini telah menampung lebih dari 9.000 pahlawan.
"Yang pertama kali dimakamkan di sini KH. Agus Salim tahun 1954, sebelum tahun itu ada juga tapi pindahan dari Ancol," ujar salah seorang security sambil menunjukkan dinding bertuliskan 9.000 nama pahlawan di pintu masuk TMPN yang berurutan berdasarkan tahun pemakaman, Kalibata, Jakarta, Jumat (13/2).
Dengan ramah, security tersebut menunjukkan beberapa hal menarik yang ada di TMPN Kalibata. Diantaranya, salah seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang gugur dalam usia muda, yakni Alberth P.H. Naiborhu, lahir 30 Agustus 1941 di Barus, tewas 5 Oktober 1965 di Jakarta. Menurut penuturan security yang enggan disebutkan namanya itu, Alberth meninggal saat perang Bekasi.
"Yang paling sering ke sini itu Pak Habibi, setiap Jumat jam 10.00 pagi," kata dia.
Hal menarik lainnya adalah, di TMPN Kalibata ternyata ada pahlawan Indonesia berdarah Jepang. Jumlahnya cukup banyak, sekira 20-an. Keberadaan mereka di TMPN cukup mengagetkan. Pasalnya, mereka bukan berdarah Indonesia.
Baca Juga: Agus Salim: Ketegasan Diplomat Berlidah Tajam
Menurut penuturan security yang sudah 8 tahun bekerja di TMPN Kalibata itu, mereka adalah warga negara Jepang yang pindah kewarganegaraan saat negeri Sakura itu menyerah pada sekutu. Kemudian, pada saat agresi militer Belanda II mereka turut membantu melawan negeri Kincir Angin itu. Salah satunya adalah Moch. Toha Nishimura yang diberi gelar Kapten Purnawirawan Angkatan Darat, wafat tahun 1975.
"Beberapa ada yang sudah masuk Islam, namanya ada aliasnya. Kedubes Jepang kadang berkunjung kesini," katanya.
Dia menambahkan, TMPN Kalibata untuk umum. Bagi yang ingin berziarah bisa langsung ke TMPN dengan berpakaian rapi dan dilarang membawa makanan atau minuman ke dalam makam. Jika rombongan, bisa mengajukan surat ke Direktorat Kepahlawanan dan Keperintisan dan Kesetiakawanan Sosial, Kementrian Sosial, lantai 5.
"Pakaian sopan, enggak boleh celana pendek, jangan pakai sandal jepit," tandasnya. (mad)