Lagu Mendayu dan Merengek Rahmat Kartolo Meminjam Semangat Elvis Presley
Halaman Muka Kaset Rahmat Kartolo Album Kunanti Jawabanmu Tahun 1977 (Foto: Kaset Lalu)
SELEPAS pemerintah Sukarno melarang musik ngak ngik ngok, muncul tren baru di dunia musik Indonesia selain kemunculan lagu-lagu daerah. Ya, lagu pop mendayu-dayu dan merengek atau terkenal dengan istilah "lagu cengeng".
Lagu berjudul Patah Hati menjadi hits dan digandrungi banyak remaja, terutama para gadis. Si pelantun tembang tersebut, Rahmat Kartolo, kontan jadi sorotan.
Baca juga: Rachmat Kartolo, Penembang Patah Hati yang Abadi
"Rachmat Kartolo menjadi tonggak musik pop Indonesia di samping Koes Bersaudara," tutur pengamat musik Remy Sylado, seturut Kompas 19 Juli 1998.
Sebelum Rahmat Kartolo muncul, lanjut Remy Sylado, musik industri di Indonesia penuh dengan lagu-lagu daerah seperti Anging Mamiri, Ampar-Ampar Pisang, Sing Sing So, Sarinande, dan lainnya, imbas larangan musik ngak ngik ngok di masa pemerintahan Presiden Sukarno. Para musisi sibuk mencari jati diri musik Indonesia.
Di tengah kondisi tersebut, muncul sosok Rahmat Kartolo berjambul tinggi dengan musik mendayu dan lirik merengek-rengek. Gadis-gadis muda langsung tergila-gila. Rahmat Kartolo pun menjadi idola para pemudi di tahun 1960-an.
Penggemarnya melihat sosok pelantun tembang Patah Hati dan Pusara Cinta serupa Elvis Presley lantaran di masa itu lagu-lagu sang raja rock n roll begitu mendayu seperti Don't Leave Me Now dan I Need You, I Love You, I Want You.
"Rachmat Kartolo mengambil alih semangat Elvis Presley. Pada waktu itu penggemarnya tentu saja kebanyakan remaja perempuan. Karena lagunya yang merengek-rengek minta dicintai, remaja perempuan jadi suka mendengarnya," ungkap Remy Sylado.
Kemunculan Rahmat Kartolo, seturut musisi senior Ireng Maulanan dikutip Kompas, 19 Juli 1998, dengan mencatat lagu semisal Pusara Cinta, dan terutama Patah Hati atau Sengsara, merupakan titik awal model lagu-lagu mendayu-dayu dan bertutur tentang seseorang nan ditinggal pacar, maka kemudian muncul istilah lagu cengeng. (*)
Bagikan
Yudi Anugrah Nugroho
Berita Terkait
Man Sinner Rilis 'Bumi Menangis (Unplugged)', Respons Banjir Bandang di Sumatra dan Aceh
Peron dan Post-Punk Kaum Kerja: Membuka Realitas Lewat EP Perdana 'SINGKAP'
Dul Jaelani Kembali dengan Lagu Emosional 'Sebenarnya, Selamanya…', Simak Lirik Lengkapnya
Sundari Gasong Kembali dengan Single 'Sedih', Lagu Tentang Cinta Tak Terucap
Billkiss Tutup Album Perdana dengan Lagu Pop Ceria 'Maunya Kamu'
Lewat Alter Ego Romo, Dimensi Hardi Tampilkan Sisi Gelap dan Eksperimental lewat 'Adiksi'
Unit Sufi Rock Magelang Musuffer Gugat Ego dan Dogma lewat Single 'Last Trip'
Soy Kongo Rilis EP 'Sekap', Kritik Pembangunan dan Lanskap Kesadaran Lewat Gelapnya Darkwave
Idgitaf Buka 2026 dengan 'Rutinitas', Lagu Jujur tentang Awal yang Tak Selalu Bahagia
Daniel Dyonisius dan Varnasvara Rilis 'Wanita', Lagu Kontemplatif tentang Kekerasan dan Trauma Perempuan