MerahPutih.Com - Kehadiran kontingen Amerika Serikat bersama sejumlah pejabat dalam Olimpiade Musim Dingin di Korea Selatan, tidak berdampak sama sekali terhadap kebijakan Korea Utara. Bahkan, Korea Utara enggan bertemu dengan pejabat Amerika Serikat selama Olimpiade Pyeongchang.
Sebagaimana dilansir KCNA Jumat (8/2), delegasi Korea Utara yang dihadiri langsung saudari kandung Kim Jong Un tidak berniat bertemu memupuskan harapan Olimpiade Musim Dingin bisa membantu mengatasi ketegangan di semenanjung Korea.
Wakil Presiden AS Mike Pence, yang menyebut Korut sebagai rezim paling kejam di dunia pada Rabu, terbang ke Korsel pada Kamis menjelang upacara pembukaan di lokasi wisata pegunungan Pyeongchang, hanya 80 kilometer dari perbatasan Korut.
Upacara tersebut juga akan dihadiri perutusan pejabat tinggi Korut, termasuk adik perempuan pemimpin Kim Jong-un dan menteri luar negeri Korut, Kim Yong-nam.
"Kami tidak pernah memohon berunding dengan AS dan ke depannya akan tetap sama," kata KCNA pada Kamis, mengutip Cho Yong-sam, direktur jenderal departemen Amerika Utara kementerian luar negeri Korut.
Sebagaimana dilansir Antara dari Reuters, penolakan delegasi Korut didasarkan sikap Pyongyang yang enggan memanfaatkan olimpiade sebagai kendaraan politik.
"Agar menjadi jelas, kami tidak berniat bertemu dengan AS selama kunjungan kami ke Korsel dan tidak ada rencana menggunakan Olimpiade Musim Dingin sebagai kendaraan politik," kata Cho.
Korsel ingin menggunakan acara tersebut untuk kembali bersama dengan Korut dan membuka jalan bagi perundingan untuk menyelesaikan salah satu krisis paling berbahaya di dunia, di mana Presiden AS Donald Trump dan Pyongyang telah bertukar ancaman nuklir.
Saat berbicara setelah bertemu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Tokyo dalam perjalanannya ke Korsel, Pence mengatakan Washington akan segera mengungkap sanksi ekonomi terberat dan paling agresif yang pernah ada terhadap Korut.
Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan bahwa sanksi tersebut akan diumumkan dalam beberapa minggu mendatang dan mendesak semua negara menerapkan sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa sepenuhnya serta mendukung tekanan AS dengan mengusir pendukung keuangan dan perdagangan Korea Utara.(*)