Konsumsi Makanan Ultra-Olahan Tingkatkan Risiko Kematian Dini dan Gangguan Mental
Istilah ultra-olahan mengacu pada kategori luas produk makanan siap saji, termasuk makanan ringan kemasan, minuman berkarbonasi, dan mie instan. (Foto: Pexels/Robin Stickel)
MerahPutih.com - Makanan ultra-olahan (ultra-process food) mungkin masih jadi istilah asing bagi banyak orang. Padahal makanan ini telah dikonsumsi secara luas dan lama.
"Istilah ultra-olahan mengacu pada kategori luas produk makanan siap saji, termasuk makanan ringan kemasan, minuman berkarbonasi, dan mie instan," tulis newsweek.com (29/2).
Produk-produk ini biasanya mengandung daftar panjang bahan-bahan yang sering tidak dapat dikenali dan mengandung bahan pengawet, pengemulsi, pemanis, serta perasa dan pewarna buatan.
Di AS, makanan-makanan ini menyumbang lebih dari separuh asupan kalori harian masyarakat dan hal ini mengkhawatirkan mengingat potensi dalam meningkatkan risiko penyakit kronis dan kematian.
Baca juga:
Riset terbaru yang dipublikasikan di The BMJ menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi makanan ultra-olahan dengan risiko lebih tinggi terhadap lebih dari 30 kondisi kesehatan.
"Mulai dari semua penyebab kematian, kanker, kecemasan, gangguan mood, penyakit jantung, dan obesitas," terang newsweek.com.
Penelitian ini hasil dari tinjauan umum terhadap 45 meta-analisis yang mengambil data dari hampir 10 juta orang.
Meskipun banyak meta-analisis telah menyelidiki hubungan antara paparan makanan ini dan dampak buruknya terhadap kesehatan, gambaran luas mengenai hubungan ini masih kurang.
Untuk menjembatani kesenjangan ini, para peneliti dari Australia, Perancis, dan AS melakukan ringkasan bukti tingkat tinggi dari 45 kumpulan meta-analisis berbeda untuk menilai bukti yang menghubungkan makanan ultra-olahan dengan dampak kesehatan yang merugikan.
Secara keseluruhan, analisis menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan ultra-olahan dikaitkan dengan peningkatan risiko 32 dampak buruk bagi kesehatan.
Antara lain peningkatan risiko kecemasan dan gangguan mental umum sebesar 40 hingga 53 persen, peningkatan risiko kematian terkait penyakit kardiovaskular sebesar 50 persen, dan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 50 persen, dan risiko 12 persen lebih besar terkena diabetes tipe 2.
Terdapat juga bukti kuat mengenai peningkatan risiko kematian sebesar 21 persen, peningkatan risiko depresi sebesar 22 persen, dan peningkatan risiko kematian terkait penyakit jantung, obesitas, diabetes tipe 2, dan masalah tidur sebesar 40 hingga 66 persen.
Para peneliti mengatakan tinjauan umum seperti ini hanya dapat memberikan gambaran tingkat tinggi dari bukti yang tersedia dan tidak dapat mengesampingkan kemungkinan adanya faktor lain yang tidak terukur.
Namun, temuan ini menyoroti sejauh mana makanan ultra-olahan dapat mempengaruhi berbagai aspek kesehatan mental dan fisik kita. (dru)
Baca juga:
Berlebihan Mengonsumsi Makanan Olahan Berakibat Tubuh Cepat Menua
Bagikan
Hendaru Tri Hanggoro
Berita Terkait
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta