Merahputih.com - Kasus penembakan ASN Jayawijaya oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kembali memakan korban jiwa dan memicu kemarahan publik setelah beredarnya video viral KKB Papua yang tak punya hati.
Tragedi pilu ini menimpa Wili Mbuik (26) beserta dua rekannya sesama ASN yang tewas ditembak KKB seusai menyalurkan bantuan ternak warga di Distrik Muliama.
Ironisnya, pelaku justru membajak ponsel korban untuk mengejek pihak keluarga di kampung halaman lewat panggilan video, berdalih bahwa kekejaman ini murni dilakukan demi mempercepat pengakuan kemerdekaan.
Baca juga:
Beredarnya rekaman video call tersebut sontak membuat netizen naik darah dan kembali menyoroti deretan panjang aksi teror KKB di Wamena.
Dalam potongan video berdurasi 50 detik yang tersebar luas di jagat maya, seorang pria berambut gondrong yang diduga kuat sebagai pelaku penembakan dengan santainya menguasai gawai milik korban.
Publik jelas geram melihat kelakuan pelaku yang seolah tanpa beban moral merenggut nyawa pelayan masyarakat yang niat aslinya murni membantu warga lokal.
Insiden berdarah yang menimpa korban penembakan Jayawijaya ini menjadi bukti nyata betapa rawannya eskalasi keamanan di wilayah tersebut saat ini.
Kronologi Penembakan dan Evakuasi Jenazah Korban

Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian, ketiga korban diserang di tengah perjalanan pulang menuju Wamena. Mereka baru saja selesai mengemban tugas mulia, yakni menyalurkan bantuan ternak babi ke Kampung Kimbim, Distrik Asologaima.
Sayangnya, saat melintas di sekitar Distrik Muliama, kelompok tak bertanggung jawab ini melepaskan tembakan mematikan.
Jenazah Wili Mbuik akhirnya berhasil dievakuasi ke Jayapura pada Kamis (10/09/2026). Setelah tiba di Bandara Sentani, jenazah pria malang ini rencananya langsung diterbangkan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk dimakamkan di tanah kelahirannya.
Terkait rekan korban lainnya, Kepala Bidang Humas Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Cahyo Sukarnito, memberikan pembaruan informasi:
Sedangkan dua jenazah lainnya, yaitu Aprida Rapi (49) dan Alfonsius Albinus Meha (35) masih berada di Wamena,
Kombes Pol Cahyo Sukarnito.
Di sisi lain, Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz (ODC), Kombes Polisi Yusuf Sutejo, membeberkan bahwa hasil penyelidikan sementara mengarah kuat pada KKB kelompok Nduga.
Kami masih mendalami untuk memastikan siapa pelaku penembakan terhadap ketiga ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di Muliama,
tegas Kombes Yusuf.
Bajak HP Korban, Terduga Pelaku Tantang Keluarga Lewat Video Call
Biadab!
— Miss tweet (@Heraloebss) September 10, 2026
Diduga Pelaku penembakan 3 ASN Dinas Pertanian Jayawijaya di Distrik Muliama, Wamena, diduga menggunakan ponsel milik korban untuk menghubungi pihak keluarga korban, sambil tertawa pic.twitter.com/c3q6n6mTrv
Selain aksi penembakan yang keji, hal yang paling bikin publik geram adalah kelakuan terduga pelaku seusai melancarkan aksinya. Pria berkalung dalam video viral tersebut tidak cuma mencuri ponsel korban, tapi juga nekat menghubungi keluarga Wili Mbuik di NTT.
Bahkan, terduga pelaku ini kedapatan aktif menggunakan akun Instagram mendiang Wili dan sengaja mengunggah Instagram Story. Dalam rekaman video call WhatsApp, percakapan antara pelaku dan pihak keluarga berlangsung cukup alot dan emosional. Pelaku sempat melontarkan ejekan yang tidak pantas.
Kau sudah makan? Tambah, mau tambah,
ledek pria tersebut kepada keluarga korban yang tengah berduka.
Mendengar hal itu, pihak keluarga tak mau terpancing dan langsung mempertanyakan alasan di balik pembunuhan keji tersebut, sembari mengingatkan soal karma.
Nanti ada orang pergi cari kau (pelaku). Perbuatanmu akan dipertanggungjawabkan di surga (akhirat),
balas pihak keluarga.
Baca juga:
3 Pegawai Pertanian Meninggal Akibat Serangan KKB, Warga Sipil Paling Rentan Alami Kekerasan
Dalih Kekejaman Demi Pengakuan Merdeka
Respons keluarga ternyata malah dijawab dengan tudingan politik yang tidak berdasar. Pria gondrong itu tiba-tiba mengaitkan status korban dengan Presiden.
Kamu orang Presiden ini, orang Prabowo,
cetusnya santai.
Tidak terima anaknya dituduh macam-macam, pihak keluarga terus mencecar dan menuntut penjelasan mengapa Wili, yang hanya seorang ASN biasa, harus dihabisi nyawanya secara brutal.
Anak saya salah apa kau bunuh, kau tembak?
tanya perwakilan keluarga dengan nada pilu. "Itukan supaya cepat pengakuan merdeka," jawab pelaku tanpa rasa bersalah.