Kiai Ma'ruf Beberkan Fakta Lain Dibalik Kedekatan Jokowi dengan Para Ulama dan Santri
KH Ma'ruf Amin (Foto: MUI)
MerahPutih.Com - Presiden Jokowi menurut Kiai Ma'ruf Amin memiliki rekam jejak yang bagus dalam hubungan dengan para ulama dan santri.
Menurut Kiai Ma'ruf, Presiden Jokowi sangat mencintai kiai dan santri karena beliau pernah belajar agama di pondok pesantren di Situbondo, Jawa Timur.
"Jokowi itu ternyata santri dari Situbondo," kata Ma'ruf Amin dihadapan ribuan ulama, kiai, santri dan masyarakat Kabupaten Lebak, Senin (12/11).
Kiai Ma'ruf mengetahui Jokowi sebagai santri saat melakukan pertemuan bersama kiai di Sukorejo.
Dalam pertemuan itu para kiai bahwa Jokowi ternyata santri di Situbondo dan belajar agama di Ponpes KH As'ad Samsul Ali. Karena itu, Jokowi mencintai kiai dan santri sehingga dibuktikan dengan memilih calon wakil presiden (Cawapres) berasal dari santri.
Padahal, Jokowi bisa saja memilih Cawapres dari kalangan politikus, profesi dan ahli ekonomi.
Namun, kecintaan terhadap kiai dan santri menunjuknya Ma'ruf Amin sebagai Cawapres juga putra Banten.
"Kita berdua sama-sama dari santri, jika Jokowi santri di Situbondo dan Ma'ruf Amin dari Tebuireng," ujarnya menjelaskan.
Menurut dia, dirinya merasa prihatin adanya berita hoaks melalui media sosial bahwa Jokowi itu beragama Kristen, padahal beliau mencintai kiai dan santri.
Penyampaian berita hoaks itu fitnah dan tidak benar Jokowi menganut agama Kristen.
Bahkan, keluarga dan adik-adiknya juga sebagai santri di Ponpes Solo.
"Kita jangan mempercayai berita hoaks yang menyebar fitnah itu," katanya.
Lebih lanjut, KH Ma'ruf Amin mengungkapkan fitnah dan hoaks bisa mengancam integrasi bangsa. Ma'ruf Amin mengatakan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati, karena hasil perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari penjajah.
"NKRI harga mati dan bukan hadiah, tetapi perjuangan," kata Kiai Ma'ruf Amin saat bersilatuhrahmi bersama masyarakat Kabupaten Lebak, Provinsi Banten sebagaimana dilansir Antara.
Perjuangan NKRI penuh dengan pengorbanan darah dan air mata para ulama, umat dan pejuang.
Indonesia baru saja merdeka dan satu bulan penjajah kembali datang pada Oktober 1945. Mereka penjajah akan merebut Tanah Air setelah bangsa Indonesia merdeka.
Saat itu, Indonesia belum siap untuk menerima penjajah Belanda dan sekutunya. Sebab, aparat TNI dan kepolisian tidak terkonsolidasi untuk melakukan perlawanan.
Karena itu, hampir saja NKRI tamat riwayat jika tidak bisa mengusir penjajah.
Namun, resolusi jihad yang dikeluarkan Syekh Hasyim Ashari Ar-Raisul Akbar dan Iyyah Nadhlatul Ulama, sehingga bangsa Indonesia melakukan perlawanan. Mereka para ulama, santri, pejuang dan masyarakat dengan penuh keberanian melawan penjajah.
"Perlawanan terhadap penjajah hukumnya fardhu Ain dan wajib melawannya," pungkas Kiai Ma'ruf Amin.(*)
Baca berita menarik lainnya dalam artikel: YM Passang Rinpoche Akan Pimpin Upacara Chau Tu dan Yen Kung di Denpasar
Bagikan
Berita Terkait
Masih Dibangun, Jokowi Belum Tempati Rumah Hadiah Negara Setelah 1 Tahun Lengser
Cerita Ajudan Saat Jokowi Pemulihan Sekaligus Liburan di Bali Bersama Semua Cucu
Anggota Watimpres Era Presiden Jokowi, Djan Faridz Jalani Pemeriksan KPK
Pulang ke Solo, Jokowi Akan Dilibatkan dalam Kegiatan Kampung oleh Pengurus RT/RW Setempat
H-1 Pensiun, Mural Infrastruktur Era Jokowi Mejeng di Jalan Slamet Riyadi
Hari Kerja Terakhir di Istana Negara, Jokowi Bicarakan Proses Transisi Pemerintahan
Mitos Seputar Pohon Pulai yang Ditanam di Istana Negara oleh Jokowi
[HOAKS atau FAKTA]: Jokowi Marah karena Prabowo Tiba-tiba Pilih Anies Jadi Wapres
Di Penghujung Jabatan, Jokowi Bentuk Korps Pemberantasan Korupsi Polri
Gantikan Heru Budi, Sekda Joko Ditunjuk Jadi Plh Pj Gubernur Jakarta