Ketika Farhan Siki Berbicara Tantangan Perupa Muda Mengeksplorasi Karya
Pameran KODE yang diselenggarakan di Galerikertas-Studiohanafi, Jalan Raya Meruyung Gg. Manggis No 72 Kp Parung Bingung, Depok, Ahad (15/7).
SESELA kesibukan mengantar pembukaan pameran, menghampiri tetamu, pria dengan rambut digelung berkemeja putih tersebut masih sempat menghampiri tim merahputih.com untuk membincang masing-masing karya ketiga perupa pada pameran KODE, di Galerikertas-Studiohanafi, Jalan Raya Meruyung Gg. Manggis No 72 Kp Parung Bingung, Depok, Ahad (15/7).
"Kekuatan karya itu adalah ketepatan mengatakan suatu karya. Bukan asal sembarang begitu saja," kata Street Artist asal Yogyakarta, Farhan Siki, memulai perbincangan.
Farhan menegaskan tentang kemajuan teknologi pada proses ekplorasi masing-masing seniman. Tiap zaman tentu para seniman tak hanya bersinggungan dengan kenaifan pembangunan, tantangan pembaruan, tetapi juga keterampilan berkomunikasi terhadap kemajuan teknologi.
Melalui pameran KODE, lanjut Farhan, para seniman muda diberi ruang leluasa untuk berdialog dengan zaman, pembaruan, dan tantangan untuk lebih tajam bereskplorasi.
Studiohanafi memberi medium bagi para perupa muda untuk beraktualisasi dan berinteraksi dengan para senior untuk berdialektik menajamkan konsep dan tema keryanya. "Pengalaman ini bakal menjadi bekal mereka," kata Farhan.
Farhan menyadari di setiap generasi tentu melahirkan orang-orang kreatif. Ironisnya, kata Farhan, wadah bagi para perupa muda sangat minim bahkan kehadiran seniman tersebut seperti dianaktirikan bangsa ini. "Mereka butuh ruang dan kesempatan untuk memamerkan karyanya," kata Farhan.
Karena itu, pada kesempatan tersebut Farhan bersama Studiohanafi, menggelar pameran bertajuk KODE untuk memberi ruang interaksi bagi para perupa muda mengeksplorasi karyanya.
Pemilihan kata KODE, menurut Farhan, merupakan sebuah kalimat bermakna mendalam dan memiliki definisi khusus.
Setiap perupa, ujarnya, pasti memiliki bahasa-bahasa atau karya tidak bisa diterjemahkan. "Selalu ada isyarat di dalamnya. Bukan asal sembarang karya," katanya.
Di sisi lain, bagi Farhan, kode itu pula kemudian bisa mengantarkan masyarakat kepada pemahaman lebih luas. "Kode itu harus dipegang setiap perupa." tuturnya. "Para perupa harus bisa menyampaikan pesan itu dengan tepat. Setiap sisi karya harus bisa dipertanggungjawabkan dengan sebuah pengetahuan," tandasnya. (*)
Bagikan
Berita Terkait
Resmi Ditutup, ini 5 Galeri di Art Jakarta 2025 yang Menarik Perhatian Pengunjung
Buka Art Jakarta 2025, Menbud Fadli Zon Janji Kirim Perupa Indonesia Ikut Pameran Internasional
Art Jakarta 2025 Tampilkan 75 Galeri dari 16 Negara, Kembali Bawa Segmen Unggulan
Mengubah Lelah Jadi Perayaan: Instalasi Seni Heineken Hadirkan Pengalaman Afterwork
Kisruh Royalti Lagu, Pelaku Usaha dan Seniman Desak DPRD Solo Bubarkan LMKN
Ruang Seni Portabel Pertama Hadir di Sudirman, Buka dengan Pameran ‘Dentuman Alam’
Gamelan Ethnic Music Festival 2025 Siap Digelar, Seniman dari 7 Daerah Bakal Ikut Meramaikan
Seniman Tato Korea Selatan Perjuangan Revisi Tattooist Act, Janjikan Praktik Sesuai Standar Kesehatan dan Keamanan
Seniman Tak Mau Kalah dari Ilmuwan yang Temukan Olo, Ciptakan Warna Baru yang Disebut Yolo
ara contemporary Hadirkan Galeri Seni Beriskan 17 Seniman Asia Tenggarra