MerahPutih.com - Sabtu (28/2), Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk ditutupnya selat Selat Hormuz, yang menjadi area lalu lintas pengiriman minyak dunia.
Kementerian Keuangan menyatakan terus memantau secara ketat potensi risiko dari konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS), khususnya usai penutupan Selat Hormuz.
“Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi mempengaruhi perekonomian nasional,” kata Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu.
Febrio menyebut, risiko gangguan terhadap rantai pasok global, terutama pasokan energi dan minyak bumi, serta peningkatan volatilitas pasar keuangan global menjadi perhatian utama.
Baca juga:
Tangker di Selat Hormuz Jadi Target Serangan Balasan Iran, Kapal AS dan Inggris Terbakar
Ketegangan perdagangan global juga berpotensi menekan kinerja ekspor nasional melalui pelemahan permintaan eksternal dan peningkatan biaya logistik.
Meski begitu, fundamental eksternal Indonesia tetap baik, tercermin dari kinerja neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut.
Neraca perdagangan surplus USD 950 juta pada Januari 2026. Surplus ditopang oleh kinerja ekspor yang mencapai USD 22,16 miliar atau tumbuh 3,39 persen (year-on-year/yoy), didorong oleh ekspor nonmigas.
Kinerja ekspor nonmigas didorong sektor industri pengolahan yang tumbuh 8,19 persen (yoy), utamanya minyak kelapa sawit, nikel, besi dan baja, serta komoditas bernilai tambah tinggi seperti otomotif dan elektronik.
Sementara itu, impor tercatat sebesar 21,20 miliar dolar AS atau tumbuh 18,21 persen (yoy), didominasi kenaikan bahan baku dan barang modal, sejalan dengan meningkatnya aktivitas produksi dan investasi domestik.
Secara paralel, Kemenkeu juga memastikan APBN dikelola secara hati-hati, termasuk dengan menjaga defisit anggaran tetap terkendali di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Pemerintah, tegas ia, terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.
"Upaya mitigasi risiko dilakukan melalui percepatan keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam dan peningkatan daya saing produk ekspor bernilai tambah," katanya. (*)