Karakter Roaster yang Dicari di Indonesia Coffee Roasting Championship 2022
Peserta ICRC 2022 harus memiliki keterampilan yang tepat. (foto: MP/Dicke Prasetia)
PENCINTA kopi kembali dimanjakan dengan kehadiran Indonesia Coffee Roasting Championship 2022. Di hari ketiga kompetisi, Rabu (19/1), lima kompetitor unjuk kebolehan dalam roasting kopi. Kelima roaster yang tampil di Papa & Mama Bistro and Coffee, Jakarta Barat yakni Wisnu Aji (Pratter Coffee Roaster), Oki Herusatmoko (PT Pabrik Produksi Kopi), Jundullah Abdul (Djaya Roaster), Nizam Pasha Lolowang (Harapan Djaya Coffee Roaster), dan Januar Adnan Murwalistyo (Libertad Union).
Sejak pagi hari, kelima peserta telah siap di lokasi kompetisi yang diadakan oleh Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) ini. Satu jam sebelum pertandingan dimulai, yakni pukul 07.00, para peserta telah menyetorkan roast plan milik mereka.
BACA JUGA:
Siap-Siap, Indonesia Coffee Roasting Championship 2021 Digelar Juli ini
Pada pukul 08.00, Wisnu Aji menjadi peserta pertama yang tampil. Dalam waktu 5 menit, ia mempersiapkan semuanya sebelum mulai proses roasting. Selanjutnya, ia mulai dengan roasting single origin selama 30 menit lalu dilanjutkan dengan blend selama 60 menit.
"Single origin roast itu, para roaster harus roasting satu jenis biji kopi saja dari satu daerah tertentu. Misalnya untuk pertandingan kali ini kita pakai biji kopi dari Jawa Barat. Sementara itu, kalau blend, mereka harus menciptakan campuran dari ketiga jenis kopi dari origin Argopuro Jawa Timur, Sindoro Jawa Tengah, dan Sumatra mana yang paling balance dan enak," jelas Ketua Indonesia Coffee Roasting Championship Andrew Tandra.
Andrew mengatakan para roaster harus menemukan komposisi yang paling pas saat mencampur ketiga jenis kopi tersebut.
Untuk melenggang sebagai pemenang, Andrew menyebut ada beberapa tahap yang harus dilalui para roaster. Sebelum pertandingan Rabu (19/1), ada penilaian green bean grading. "Kita mau para roaster juga bisa menganalisis green beans mentah yang belum disangrai. Jadi mereka bisa sorting green beans yang rusak karena itu ilmu dasar," urainya.
Dalam tahap green beans grading, para panitia akan mencampur biji kopi dengan benda asing dan biji kopi yang jelek. Hal itu sengaja dilakukan agar peserta bisa memisahkan biji yang berkualitas dan yang jelek.
Tahap berikutnya, para roaster juga harus bisa men-translate dari sample roaster dipraktikkan di production roaster. "Mereka coba dulu di mesin 1 kg dulu. Mereka dapat profile. Baru mereka bisa membayangkan bagaimana jika profile itu diterapkan di mesin yang lebih besar," ungkapnya.
"Kita juga berharap juara roasting kali ini ialah peserta dengan roasting paling efisien," ungkapnya. Efisiensi yang dimaksud Andrew ialah roaster yang pergerakannya bagus, bisa memprediksi roasting dengan baik sehingga tidak buang-buang beans.
"Efisiensi itu kunci. Kami sengaja buat soal yang tricky dengan waktu supaya bisa lihat bagaimana time management dari peserta," terangnya.
Andrew mengungkapkan ia akan meminta pemenang roasting tahun ini untuk presentasi dan berbagi ke peserta lain di Coffee Roasting Championship. "Nantinya kami akan minta siapa pun pemenangnya untuk berbagi. Bagaimana sih cara dia bisa mengatur waktu sedemikian rupa, seperti apa pola latihannya dan lain-lain," tukasnya.(Avia)
Bagikan
Berita Terkait
12 Ribu Hektare Lahan Kopi di Aceh Tengah Rusak Akibat Banjir
USS 2025 Kembali Digelar di JICC, Lebih dari 300 Brand Bakal Ikut Berpartisipasi!
Roemah Koffie Perkenalkan ‘Anak Daro’, Hampers Kopi Eksklusif Pembawa Cerita Minangkabau ke Dunia
Roemah Koffie Ramaikan Jakarta Coffee Week 2025, Angkat Kopi Nusantara lewat Latte Art Competition
Jakarta Coffe Week 2025 'A Decade of Passion' Siap Digelar 31 Oktober - 2 November, Etalase Kopi Tanah Air
Pemanasan Global Ancam Stok Kopi, Picu Kenaikan Harga
SCAI Hunting Barista Terbaik Indonesia lewat Kompetisi Kopi di FLEI Business Show 2025
IdeaFest 2025 Kembali Lagi! Nyalakan Budaya Baru Lewat Kolaborasi dan Kreativitas
Coco Series dari Roemah Koffie Dikenalkan di Athena, Membawa Ciri Khas Tropis
Mengubah Lelah Jadi Perayaan: Instalasi Seni Heineken Hadirkan Pengalaman Afterwork