MerahPutih.com - Pemerintah memastikan bantuan sosial reguler yang menyasar terhadap 18 juta keluarga penerima manfaat tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Adapun saat ini pemerintah sedang mempersiapkan untuk periode salur triwulan kedua, yang ditargetkan dimulai pekan ketiga April.
Pemerintah melalui Kementerian Sosial masih mengkaji kemungkinan penebalan bantuan sosial (bansos) pada 2026 sebagai bagian dari skema stimulus ekonomi di tengah kebijakan efisiensi yang menyiasati ketidakpastian ekonomi global akibat ketegangan di Timur Tengah.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan pembahasan mengenai stimulus ekonomi, termasuk opsi penebalan bansos, saat ini masih berada pada tahap awal berupa simulasi dan koordinasi lintas kementerian.
Baca juga:
Kemensos Diminta Segera Beri Afirmasi Khusus Daerah Status UHC JKN
"Sudah ada semacam pembahasan ya, belum keputusan. Baru simulasi-simulasi untuk memberikan semacam stimulus ekonomi. Stimulus ekonomi itu macam-macam kebijakannya, salah satunya biasanya itu adalah penebalan atau juga penambahan penerima manfaat Bansos," kata dia dalam wawancara cegat selepas pertemuan dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Senin.
Skema penebalan bansos umumnya digunakan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama pada periode tertentu yang memang dinilai dibutuhkan.
Adapun sebagaimana tahun lalu, pemerintah melalui Kementerian Sosial sempat menambah bantuan sosial pada pertengahan tahun, serta memperluas jumlah penerima manfaat pada akhir tahun.
Saat ini, jumlah penerima bantuan sosial berupa bantuan langsung tunai meningkat dari sekitar 18 juta keluarga penerima manfaat menjadi 35 juta keluarga yang mencakup kelompok desil 1 - 4 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
"Jadi itu kalau belajar dari tahun lalu. Nah apakah tahun ini seperti itu kita tunggu kebijakan dari Bapak Presiden," katanya.