Islah KIH-KMP Dalam Perspektif Kultur Politik Egaliter

Eddy FloEddy Flo - Sabtu, 15 November 2014
Islah KIH-KMP Dalam Perspektif Kultur Politik Egaliter

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih Politik - Dalam sepekan ini, berita islah Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP) mengisi tajuk pemberitaan media massa. Pertemuan terakhir kedua kubu DPR itu, terjadi di kediaman pribadi Ketua Umum PAN, Ir. Hatta Rajasa kawasan Fatmawati Jakarta Selatan, menghasilkan kesepahaman terkait alat kelengkapan dewan dan revisi UU MD3. Dua hal inilah yang menjadi titik perseteruan kubu KIH yang dimotori PDIP dan KMP yang dibekingi Gerindra.

 

Sejak pelantikan DPR-RI tanggal 1 Oktober lalu, pertentangan KIH vs KMP menjurus kepada budaya tandingan. Alilh-alih bersatu dan memperjuangkan hak para konstituennya, para anggota dewan malah membentuk kubu-kubuan. Beberapa anggotanya secara terbuka melakukan perang pernyataan di media. Kenyataan ini membuat DPR mengabaikan fungsi mereka baik legislasi, budgeting maupun pengawasan. Kubu-kubuan para wakil rakyat di Senayan tampak kontradiktif dengan antusiasme rakyat menyambut pemerintahan baru Jokowi-JK.

 

Apa yang salah dengan para pengemban suara rakyat ini? Keterwakilan adalah sesuatu yang niscaya dalam demokrasi. Terlepas dari segala cacat yang pernah mengisi sejarah demokrasi dalam perababan manusia, sejatinya demokrasi secara tidak langsung menghadirkan kesetaraan, egalite. Sophokles dalam perbincangan di tepi sungai Thames, menguraikan satu paradoks yang menarik. Katanya, demokrasi itu ibarat kakek dan cucunya yang sedang bepergian ke sebuah tempat dengan menunggang seekor keledai. Awalnya, sang kakek yang berada di atas punggung keledai. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan sekelompok orang. Orang-orang itu dengan keras menegurnya, “dasar kakek tak tahu diri, sudah tua masih saja egois. Turun dari keledai sekarang juga dan biarkan anak kecil ini yang menungganginya. Sang kakek dengan malu hati turun dari keledai dan membiarkan cucu naik ke punggung keledai. Tak seberapa lama, keduanya bertemu dengan ibu-ibu yang baru pulang mengambil air. Mereka semua berteriak, “anak kurang ajar, tak tahu menghormati orang tua, lekas turun dan biarkan kakek tua ini yang tunggangi keledai.” Kejadian itu terus berulang hingga keduanya memutuskan berjalan kaki sambil menghela keledai yang membawa bekal mereka.

 

Jauh sebelum era reformasi, pada usia republik ini masih muda sekitar tahun 1950-1960, kultur politik Indonesia begitu egaliter. Mendiang Frans Seda dalam memoar untuk mengenang 80 tahun T.B. Simatupang menuliskan pengalamannya seputar perbedaan sikap dan friksi politik yang keras antara para wakil rakyat dan tokoh-tokoh partai seperti Sjahrir, Mohamad Hatta, Burhanudin Harahap, Agus Salim, Mohamad Natsir dan I.J Kasimo. Di luar arena politik, para suhu politik ini sangat berkawan baik. Bahkan setiap perayaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Natal, mereka saling berkunjung dan mengucapkan selamat. Meski memiliki pandangan politik yang berbeda tajam satu sama lain, namun para tokoh ini selalu satu suara jika menyangkut kepentingan rakyat banyak dan kelangsungan republik tercinta. Artinya, para tokoh pendiri republik ini tetap menjunjung tinggi sikap egalitarian dalam konstelasi politik yang terjadi saat itu. Berkaca dari memoar Frans Seda ini, sesungguhnya kultur egaliter sudah ada dalam politik Indonesia.

 

Islah KIH dan KMP seyogyanya menunjukan kepada rakyat, bahwa perbedaan sikap atau kekalahan dalam sebuah pertarungan politik bukanlah bibit perpecahan apalagi disintegrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemikir politik kontemporer Robert Dahl menyatakan, demokrasi tidak terlepas dari kompetisi kepentingan dan kompetensi. Jika kedua hal ini bisa disinkronkan maka yang muncul adalah kondisi egalitarian antar semua pemangku keputusan, baik tingkat pembuat maupun pelaksana keputusan.

 

sumber foto : google.co.id

#Nasional #Anggota Dewan #Politik
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Eddy Flo

Simple, logic, traveler wanna be, LFC and proud to be Indonesian
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Stabilitas Politik Prabowo jangan cuma Untungkan Elite, Rakyat Tunggu Bukti Kesejahteraan
Jangan sampai elite politik sibuk dengan pertarungan kekuasaan, sedangkan persoalan ekonomi dan kebutuhan dasar masyarakat terabaikan,
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Stabilitas Politik Prabowo jangan cuma Untungkan Elite, Rakyat Tunggu Bukti Kesejahteraan
Indonesia
2 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo, Dukungan Politik Kuat tapi Ada Bahaya Pengawasan Lemah
Stabilitas politik tidak boleh dijadikan alasan untuk membatasi kritik, mengabaikan oposisi, atau menyeragamkan pandangan politik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
2 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo, Dukungan Politik Kuat tapi Ada Bahaya Pengawasan Lemah
Indonesia
Bongkar Isi Pertemuan 2 Jam dengan Prabowo, Jokowi: Bahas Bola, Ekonomi, hingga Politik
Jokowi mengungkap isi pertemuan dua jam dengan Prabowo di Kertanegara. Mereka membahas sepak bola, ekonomi, politik, hingga isu Pemilu 2029.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 08 Oktober 2026
Bongkar Isi Pertemuan 2 Jam dengan Prabowo, Jokowi: Bahas Bola, Ekonomi, hingga Politik
Indonesia
Parliamentary Threshold Naik, Proses Regenerasi Kader Politik Bakal Terpengaruh
peningkatan ambang batas juga dinilai bakal memberi tantangan berat bagi partai politik yang meraih suara di kisaran 1 - 3 perse
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 30 September 2026
Parliamentary Threshold Naik, Proses Regenerasi Kader Politik Bakal Terpengaruh
Indonesia
Prabowo Sebut Pakar Pesan Pemimpin Tidak Boleh Joget, Rakyat Kita Suka Joget
“Saya sudah dipesan saya tidak boleh joget. Jadi, pakar-pakar itu, mereka merasa tidak pantas pemimpin Indonesia joget. Gimana? Rakyat kita suka joget kok,” kata Prabowo
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 19 September 2026
Prabowo Sebut Pakar Pesan Pemimpin Tidak Boleh Joget, Rakyat Kita Suka Joget
Berita Foto
Nyatakan Sikap, Gerakan Pemuda Islam Tolak Aksi yang Memecah Belah
Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP - GPI) Khoirul Amin menyampaikan pernyataan sikap dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (25l6/8/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 26 Agustus 2026
Nyatakan Sikap, Gerakan Pemuda Islam Tolak Aksi yang Memecah Belah
Indonesia
Advokat Prabu Sutisna Imbau Tokoh Publik Jaga Persatuan, Sampaikan Pengaduan ke Bareskrim Polri
Advokat Prabu Sutisna mengimbau tokoh publik lebih bijak dalam menyampaikan pernyataan agar tidak memicu polemik di masyarakat.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 28 Juli 2026
Advokat Prabu Sutisna Imbau Tokoh Publik Jaga Persatuan, Sampaikan Pengaduan ke Bareskrim Polri
Olahraga
Timnas Argentina Terancam Sanksi FIFA Akibat Bentangkan Spanduk Politik Kontroversial Usai Kalahkan Inggris
Hukuman masa lalu tersebut jatuh setelah sejumlah pemain berpose menggunakan spanduk politik serupa menjelang laga persahabatan melawan Slovenia
Angga Yudha Pratama - Kamis, 16 Juli 2026
Timnas Argentina Terancam Sanksi FIFA Akibat Bentangkan Spanduk Politik Kontroversial Usai Kalahkan Inggris
Indonesia
KPK Ungkap Dugaan Intervensi Politik Fadia Arafiq dalam Kasus Outsourcing Pemkab Pekalongan
KPK mengungkap dugaan intervensi politik dalam kasus outsourcing di Pemkab Pekalongan. Pegawai outsourcing disebut diduga diarahkan mendukung Fadia Arafiq dalam pilkada.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 29 Mei 2026
KPK Ungkap Dugaan Intervensi Politik Fadia Arafiq dalam Kasus Outsourcing Pemkab Pekalongan
Indonesia
Dasco Dukung Putusan MK soal Kuota 30 Persen Perempuan, Bakal Masuk Revisi UU Pemilu
Putusan MK soal kewajiban 30 persen caleg perempuan mendapat dukungan dari Sufmi Dasco Ahmad. DPR memastikan aturan tersebut akan masuk dalam revisi UU Pemilu.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 26 Mei 2026
Dasco Dukung Putusan MK soal Kuota 30 Persen Perempuan, Bakal Masuk Revisi UU Pemilu
Bagikan