MerahPutih.com – Dunia otomotif Amerika Serikat diguncang kabar mengejutkan. Sebanyak 51 unit Jeep Wrangler dan Gladiator dilaporkan terbakar akibat dugaan cacat pada konektor listrik pompa power steering.
Insiden ini memicu gugatan hukum serius terhadap FCA US, produsen Jeep, di pengadilan federal.
Kasus Terbaru Gugatan Hukum Menguat dari Keluarga Teuber
Kasus terbaru datang dari keluarga Sandra dan James Teuber di Bull Valley, Illinois. Jeep Gladiator 2022 yang mereka sewa tiba-tiba terbakar saat diparkir di depan rumah pada 5 Juli 2024. Api melalap kendaraan, merusak pintu garasi, hingga bagian trim rumah.
Api sulit dipadamkan, bahkan petugas harus mengangkat kendaraan untuk menjangkau sumber api,
Hasil Laporan CarsCoops.
Tahun ini, Keluarga Teuber resmi menggugat FCA US dengan tuduhan tanggung jawab produk, kelalaian, pelanggaran garansi, hingga dugaan penipuan konsumen.
Upaya FCA membawa perkara ke arbitrase ditolak hakim federal, membuat kasus ini semakin menekan reputasi Jeep.
Recall 1.076.999 Unit Jeep Wrangler dan Gladiator model 2021–2025
Ironisnya, peringatan resmi dari FCA baru muncul dua tahun setelah insiden Teuber. Pada Juni 2026, FCA melakukan recall besar-besaran terhadap 1.076.999 unit Jeep Wrangler dan Gladiator model 2021–2025.
Konektor listrik dengan resistansi tinggi disebut berpotensi memanas berlebih, memicu kebakaran bahkan saat kendaraan dalam kondisi mati. NHTSA mencatat 51 kebakaran dan satu cedera terkait masalah ini.
Fakta Penting Recall Jeep
-
Recall: 1.076.999 unit Wrangler & Gladiator (2021–2025).
-
Penyebab: konektor listrik pompa power steering elektro-hidraulik.
-
Risiko: panas berlebih, kebakaran meski mobil mati.
-
Catatan NHTSA: 51 kebakaran, 1 cedera.
-
Instruksi: parkir di luar ruangan, jauh dari bangunan.
-
Kasus Teuber: Gladiator terbakar 2024, gugatan hukum 2026.
Kasus ini menyoroti lemahnya pengawasan kualitas dan menambah daftar panjang masalah recall Jeep. Dilansir Antara, publik menilai FCA terlambat bertindak, sementara korban sudah mengalami kerugian besar.
Kini, proses hukum akan menentukan apakah FCA benar-benar lalai atau sekadar menjadi korban cacat teknis yang tak terduga. (*)