SEJAK pandemi berlangsung dari 2020 lalu, banyak orang yang mulai sadar betapa berharganya tubuh dan jiwa yang sehat. Orang pun berbondong-bondong mencari tips kesehatan dan ikut menerapkannya dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Hal ini disebut self-care, seperti berolahraga, makan makanan sehat, atau bermeditasi serta self-healing.
Namun, seiring berjalannya waktu, kegiatan self-care perlahan ditinggalkan. Hal ini disampaikan oleh Chief Business Leader Personal Health Philips Deeptha Khanna dalam konferensi pers Philips Wonder of You, Selasa (26/7).
Baca Juga:
Menurutnya, banyak orang sadar bahwa pola hidup sehat itu penting dilakukan. Bahkan berdasarkan hasil survei, di Indonesia 99 persen masyarakatnya memahami dampak positif dari gaya hidup sehat. Namun, sedikit sekali yang menerapkannya karena mereka tidak menikmatinya. Alasan terbesar dari hal ini adalah rasa malas.
Kemalasan ini bisa timbul karena berbagai hal. Salah satunya adalah rutinitas yang sulit dijalani. Setiap orang memiliki ritme kerja dan hidup yang berbeda tiap harinya. Belum lagi kebutuhan tubuh masing-masing individu juga tidak sama.
Namun, mereka cenderung mengikuti 1 tips kesehatan yang belum tentu cocok dengan gaya hidupnya. Akibatnya, kegiatan self-care jadi sulit untuk diikuti dan tidak memberikan dampak yang signifikan bagi diri sendiri. "Self care tidak hanya tentang hasil akhirnya, tetapi juga pengalamannya. Pengalaman haruslah menjadi cara bagaimana kita kemudian bisa menikmati proses tersebut," tambahnya.
Menurut Deeptha, untuk mendapatkan self-care, ada tiga metode yang bisa kamu terapkan, yakni personalized, proactive, dan collaborative.
Baca Juga:
Personalized adalah seseorang ingin metode dan alat yang bisa menyesuaikan kebutuhan pribadi mereka masing-masing. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mencari tahu dan mencoba berbagai kegiatan self-care. Dengan begitu, orang bisa mengetahui cara dan alat apa yang cocok untuk memenuhi kebutuhan. Cari yang paling sesuai untuk diri sendiri. Di samping itu, teknologi saat ini sudah semakin adaptif terhadap keinginan khusus penggunanya.
Lalu, proactive merupakan inisiatif untuk terus aktif menjalani pola hidup sehat. Hal ini bisa dilakukan dengan mengajak keluarga, teman, atau pacar untuk melakukan kegiatan self-care bareng. Atau, kamu bisa juga menggunakan aplikasi kesehatan yang bisa menjadi reminder untuk terus menerapkan pola hidup sehat. Misalnya dengan mengatur jam makan, jumlah kalori yang masuk, dan jam tidur.
"Yang lebih penting, orang-orang di masa kini tidak ingin tertinggal. Mereka akan selalu bersikap proaktif untuk tetap menjadi sehat. Sekaligus turut menjaga kesehatan orang di sekitarnya," ujar Deeptha.
Terakhir adalah collaborative. Poin ini biasanya berkaitan dengan penggunaan alat atau aplikasi kesehatan. Orang lebih suka alat yang bisa membantu mereka untuk terhubung langsung dengan dokter, ahli gizi, atau tenaga ahli lainnya. Ini semacam bentuk konsultasi ringan secara daring. Ketiga poin ini adalah yang paling bisa mengajak seseorang untuk lebih semangat dalam melakukan self-care.
Kamu juga bisa mengadaptasinya ke dalam pola hidup sehari-hari supaya merawat diri sendiri terasa lebih mudah dan menyenangkan. Selalu ingat bahwa kesehatan fisik yang baik dapat memengaruhi kesehatan mental. (mcl)
Baca Juga: