Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1
Kesehatan

Ini Trik Cerdik Perusahaan "Sembunyikan" Kandungan Gula pada Produk Makanan

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Rabu, 05 Juni 2019
Ini Trik Cerdik Perusahaan

Perhatikan kandungan gula dalam informasi gizi produk kemasan. (Foto: pixabay/eismannhans)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KITA semua tahu bahwa mengonsumsi gula secara berlebihan akan berdampak buruk bagi tubuh, antara lain obesitas, diabetes tipe 2, serta cenderung terkena serangan jantung. Karena fakta tersebut, maka banyak orang yang telah menghindari penambahan gula terhadap apapun yang akan mereka konsumsi. Meskipun begitu, sebagian besar asupan gula harian di dalam tubuhmu biasanya tersembunyi dalam berbagai produk makanan kemasan dan olahan yang mengklaim produknya sendiri sebagai produk sehat. Tapi, jangan sampai terkecoh, perhatikan beberapa hal penting dibawah ini!

1. Menyebut gula dengan nama lain

Ini Trik Cerdik Perusahaan "Sembunyikan" Kandungan Gula pada Produk Makanan
Industri makanan sering menggubah istilah gula. (Foto: pixabay/pexels)

Gula merupakan nama identik yang diketahui hampir semua orang sebagai bahan yang memberikan perisa manis dalam makanan kamu.

Meskipun begitu, ternyata gula memiliki bentuk yang berbeda-beda dengan nama yang juga berbeda-beda. Kamu mungkin telah mengetahui istilah seperti glukosa, fruktosa, serta sukrosa. Namun ternyata masih ada banyak nama yang merepresentasikan gula berdasarkan bentuknya.

Gula kering akan dinamakan para produsen makanan kemasan sebagai barley malt, beet sugar, brown sugar. buttered sugar, cane sugar, caster sugar, coconut sugar, corn sweetener, malt powder, ethyl maltol, fruit juice concentrate, maltodextrin, maltose, muscovado sugar, panela, palm sugar, organic raw sugar, dan evaported cane juice.

Tidak hanya bentuk gula kering, gula juga bisa dimasukkan ke dalam makanan dalam bentuk sirup. Sirup biasanya berbentuk cairan kental yang merupakan larutan gula yang sangat banyak.

Beberapa sirup akan dicantumkan dengan nama lain seperti agave nectar, carob syrup, high-fructose corn syrup, malt syrup, honey, maple syrup, rice bran syrup, rice syrup, dan molasses.

2. Menggunakan istilah kesehatan

Ini Trik Cerdik Perusahaan "Sembunyikan" Kandungan Gula pada Produk Makanan
Syrup menjadi bentuk dari gula yang paling berbahaya. (Foto free-photos)

Biasanya, perusahaan akan membuat beberapa produk yang dikatakan telah menggunakan bahan pemanis alternatif yang lebih sehat. Beberapa pemanis ini biasanya terbuat dari getah, buah, bunga, atau biji tanaman.

Produk kemasan ini biasanya akan dilabelkan dengan tulisan contains no refined sugar, atau refined sugar-free. Sesungguhnya, ini hanya mengartikan bahwa produk tidak mengandung gula putih.

Beberapa bahan ini memang lebih sehat karena memiliki angka yang sedikit lebih rendah pada Glycemic Index (GI), namun jumlah nutrisi yang diberikan bahan-bahan ini juga sangat rendah. Namun, Sampai sekarang tidak ada bukti ilmiah bahwa penggantian bahan pemanis bisa lebih menyehatkan karena bahan unrefined sugar juga masih ditambahkan gula.

Beberapa pemanis "alami" yang diberi label sehat oleh perusahaan antara lain adalah agave syrup, coconut sugar, honey, maple syrup, sugar beet syrup dan birch syrup.

3. Memperkecil ukuran per porsi

Ini Trik Cerdik Perusahaan "Sembunyikan" Kandungan Gula pada Produk Makanan
Kemasan akan diperkecil agar kamu mengkonsumsi berkali-kali. (Foto: pixabay/suju)

Industri makanan biasanya akan membuat versi ukuran yang lebih kecil untuk merubah perasaan anda tentang seberapa banyak gula yang sudah anda konsumsi.

Ketika jumlah gula yang disajikan memang lebih kecil dari biasanya, namun kamu akan cenderung mengkunsumsi dua atau tiga kali lebih banyak sekali makan.

Dalam kemasan yang lebih kecil namun dimakan berulang kali, kamu akan berakhir mengkonsumsi makanan dengan kadar gula lebih daripada biasanya. (shn)

#Tips Kesehatan #Makanan Sehat #Obesitas #Penyakit Diabetes #Diabetes Tipe 2
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Fun
6 Tips Menjaga Kesehatan Anak saat Liburan Sekolah di Tengah Cuaca Ekstrem
Cuaca ekstrem saat liburan sekolah dapat meningkatkan risiko dehidrasi, ISPA, hingga DBD pada anak.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 25 Juni 2026
6 Tips Menjaga Kesehatan Anak saat Liburan Sekolah di Tengah Cuaca Ekstrem
Lifestyle
Hari Diabetes Nasional: Indonesia Peringkat 5 Dunia, Dokter Soroti Pentingnya Ubah Pola Penanganan
Indonesia menduduki peringkat kelima dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia. Dokter pun menyoroti pentingnya pola penanganan.
Soffi Amira - Sabtu, 18 April 2026
Hari Diabetes Nasional: Indonesia Peringkat 5 Dunia, Dokter Soroti Pentingnya Ubah Pola Penanganan
Fun
Opor, Rendang, Kue Kering: Berapa Kalori Ideal yang Dikonsumsi saat Lebaran?
Berapa kalori makanan Lebaran seperti opor ayam, rendang, dan kue kering? Simak tips mengatur pola makan agar tetap sehat saat Lebaran.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 17 Maret 2026
Opor, Rendang, Kue Kering: Berapa Kalori Ideal yang Dikonsumsi saat Lebaran?
Fun
Cara Menikmati Hidangan Lebaran Tanpa Khawatir Berat Badan Naik, Simak 6 Tips Ini
Simak 6 tips menjaga berat badan saat Lebaran tanpa harus menahan makan. Tetap bisa menikmati opor, rendang, dan kue kering dengan bijak.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 17 Maret 2026
Cara Menikmati Hidangan Lebaran Tanpa Khawatir Berat Badan Naik, Simak 6 Tips Ini
Berita Foto
Kampanye Gerakan Batasi GGL Jelang Hari Obesitas Sedunia 2026
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi dalam media brifieng jelang Hari Obesitas Sedunia 2026
Didik Setiawan - Selasa, 03 Maret 2026
Kampanye Gerakan Batasi GGL Jelang Hari Obesitas Sedunia 2026
Indonesia
Dokter Spesialis Beberkan Beda Serangan Jantung dengan Kematian Jantung Mendadak
Gangguan irama jantung atau aritmia menjadi aktor intelektual di balik sekitar 26,3 persen kasus kematian jantung
Angga Yudha Pratama - Sabtu, 14 Februari 2026
Dokter Spesialis Beberkan Beda Serangan Jantung dengan Kematian Jantung Mendadak
Indonesia
Menu Makanan Penangkis Flu Musim Hujan Rekomendasi Dietisien RSCM
Tak kalah penting, kandungan zinc yang ditemukan dalam daging merah, susu, dan olahan kedelai berperan besar dalam meningkatkan fungsi sel imun
Angga Yudha Pratama - Rabu, 07 Januari 2026
Menu Makanan Penangkis Flu Musim Hujan Rekomendasi Dietisien RSCM
Indonesia
Jatah MBG untuk Anak Tetap Ada Saat Libur, Boleh Diambil Bapak atau Emak Lho
BGN menepis tudingan bahwa kelanjutan program di masa libur hanya demi menghabiskan sisa anggaran tahun 2025 yang mencapai Rp71 triliun
Angga Yudha Pratama - Selasa, 23 Desember 2025
Jatah MBG untuk Anak Tetap Ada Saat Libur, Boleh Diambil Bapak atau Emak Lho
Indonesia
579 Ribu Orang Jakarta Obesitas, Saatnya Pemerintah Gencarkan Kampanye Kurangi Gula
Masyarakat banyak mengonsumsi makanan serta minuman yang mengandung kadar lemak, gula, dan garam tinggi.
Dwi Astarini - Rabu, 05 November 2025
579 Ribu Orang Jakarta Obesitas, Saatnya Pemerintah Gencarkan Kampanye Kurangi Gula
Indonesia
62 Persen ASN Pemprov DKI Obesitas, Dinkes Juga Buka Data Hipertensi, Diabetes hingga Kejiwaan
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati mengatakan, angka tersebut hasil pemeriksaan kesehatan ASN DKI pada 2024.
Frengky Aruan - Jumat, 18 Juli 2025
62 Persen ASN Pemprov DKI Obesitas, Dinkes Juga Buka Data Hipertensi, Diabetes hingga Kejiwaan
Bagikan