MerahPutih.com - Perkembangan kecerdasan artifisial (AI), terus menunjukan peningkatan di segala bidang. Kondisi itu membuat adanya kecemasan akan hilangnya berbagai pekerjaan yang dilakukan manusia.
Vice President Customer Engineering Google Cloud Asia Pacific Moe Abdula mengungkapkan dua kemampuan manusia yang tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi baru, termasuk kecerdasan artifisial (AI).
Menurut Moe, sejumlah kemampuan dasar yang dimiliki manusia tidak pernah tergantikan meski melewati berbagai gelombang perkembangan teknologi dan diperkirakan akan tetap relevan di era AI.
Saya pikir ada keterampilan manusia yang akan bertahan, dan mereka telah melewati semua pergeseran teknologi di masa lalu. Kemampuan kita untuk memiliki empati dan koneksi adalah hal yang sangat manusiawi,
kata Moe saat diwawancara usai acara taklimat media yang digelar Google Cloud di Jakarta, Rabu (16/7).
Baca juga:
Pengelola Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Gunakan Kecerdasan Artifisial Layani Jemaah Haji
Ia menjelaskan, kemampuan untuk memahami emosi, merasakan kondisi orang lain, serta memberikan respons yang tepat dalam interaksi sosial merupakan aspek yang sulit digantikan teknologi. Sebagai contoh, petugas kepolisian yang harus berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam berbagai situasi.
Menurut dia, kemampuan polisi dalam meredakan ketegangan, memahami kondisi seseorang, hingga membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat membutuhkan penalaran dan empati yang merupakan karakteristik manusia.
Keterampilan memahami bagaimana meredakan ketegangan, memahami kondisi, dan membantu seseorang memahami apa yang benar atau salah adalah hal yang sangat manusiawi,
ujarnya.
Moe menilai kemampuan tersebut menjadi alasan mengapa beberapa profesi akan sulit terdampak atau tergantikan oleh AI, terutama yang membutuhkan penalaran dan perasaan manusia.
Selain empati, Moe menyebut kemampuan manusia untuk terus menemukan bagaimana sesuatu bekerja dan beradaptasi dengan perubahan sebagai keunggulan lain yang tidak dimiliki AI.
AI pada dasarnya bekerja berdasarkan data dan instruksi yang diberikan manusia sehingga cenderung hanya mampu bereaksi terhadap apa yang dipelajarinya.
Sebaliknya, manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan cara baru dalam melakukan sesuatu dan terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman.
Moe mencontohkan bagaimana manusia terus beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, mulai dari menggunakan hewan sebagai alat transportasi dan terus mengembangkan sesuatu yang baru hingga akhirnya tercipta kendaraan modern.
Hal serupa juga terjadi dalam dunia pendidikan dan pekerjaan, ketika kemampuan berhitung manual yang dahulu dianggap sebagai indikator kecerdasan kemudian bergeser setelah hadirnya kalkulator.
Manusia tidak berhenti pada penggunaan teknologi baru tersebut, tetapi memanfaatkannya untuk menyelesaikan persoalan yang lebih kompleks dan kemampuan beradaptasi dan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan sesuatu yang baru akan menjadi keterampilan penting yang perlu terus dikembangkan di era AI.

