MerahPutih.com - Melansir Buku Nota Keuangan 2024, Presiden Joko Widodo bersiap menarik utang baru atau pembiayaan utang senilai Rp 648,1 triliun, atau naik 14,9 persen year on year (yoy) dibandingkan outlook tahun ini yang senilai Rp 406,4 triliun.
Target pembiayaan utang itu menurun apabila dibandingkan target tahun ini dalam APBN 2023 yang senilai Rp 696,3 triliun. Adapun, pembiayaan utang senilai Rp 648,1 triliun itu untuk menutup defisit anggaran tahun depan yang ditargetkan senilai Rp 522,8 triliun atau 2,29 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Baca Juga:
Posisi Utang Luar Negeri Pemerintah di Akhir Triwulan III 2023 Capai USD 188,3 Miliar
Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Deni Ridwan mengatakan pemerintah menarik utang baru pada tahun 2024.
"Secara nominal utang bertambah. Tahun depan dengan defisit sekitar 2,9 persen rata-rata kemungkinan kalau nggak ada penurunan defisit, utang bertambah Rp 600 triliun," ujar Deni dalam Peluncuran Electronic Indonesia Bond Market Directory (E-IBMD) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin (18/12).
Deni melanjutkan, naiknya angka penarikan utang pada 2024 akan menambah pembiayaan untuk utang pokok dan bunga, namun, menurutnya, rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih terbilang aman.
"Kalau kita bandingkan dengan negara peer, kita dengan debt to GDP makin kecil sekarang sekitar 37 persen. Kalau awal pandemi 40 persen, ini relatif masih rendah let's say ASEAN country Malaysia, Filipina, Thailand mencapai 70 persen," katanya. (*)
Baca Juga:
Pemerintah Didesak Bayar Utang ke Bulog

