MerahPutih.com - Anggota Komisi X DPR RI, Andi Muawiyah Ramly, menyoroti meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia, khususnya di sektor pendidikan.
Berdasarkan data yang disampaikan oleh OpenAI melalui Head of Education Asia Pacific, Raghav Gupta, Indonesia kini masuk dalam lima besar negara dengan penggunaan ChatGPT tertinggi untuk pembelajaran.
Menurut pria yang akrab disapa Amure ini, capaian tersebut tidak bisa dibanggakan jika tak diiringi dengan penguatan kualitas literasi dan kemampuan berpikir kritis generasi muda.
“Ini bukan semata prestasi bagi anak bangsa,” kata dia kepada wartawan di Jakarta, Jumat (10/4).
Baca juga:
OpenAI Buka Data Pengguna ChatGPT yang Tunjukkan Tanda Psikosis dan Pikiran Bunuh Diri
Menurut Amure, AI di satu sisi memang membantu. Sedangkan di sisi lain, ketergantungan terhadap AI justru berbahaya.
“Tingkat literasi, inovasi, dan kreativitas bisa tergerus jika penggunaannya tidak dikendalikan dengan bijak,” ujar dia.
Amure menilai, fenomena ini menjadi peringatan serius bahwa transformasi digital di sektor pendidikan harus diiringi dengan kesiapan mental, metodologi belajar yang kuat, serta penguatan karakter peserta didik.
Ia juga mengkritik belum optimalnya kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi dampak masif penggunaan AI di ruang belajar.
Baca juga:
349 Ribu Warga Jakarta Menganggur, PSI Kritik Sistem Pendidikan
“Pemerintah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam arus besar ini. Harus ada langkah mitigasi yang serius dan terukur. Jangan sampai teknologi justru membuat generasi kita kehilangan daya juang intelektual,” tegasnya.
Sebagai langkah konstruktif, Amure mendorong pemerintah untuk memperkuat kampanye literasi digital yang menekankan penggunaan AI secara bijak. Lalu, menegaskan bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti proses berpikir
Pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu juga mendorong integrasi etika penggunaan AI dalam kurikulum pendidikan, serta metode pembelajaran yang tetap mengutamakan kreativitas dan analisis mandiri.
Publik harus diberi pemahaman bahwa AI itu alat bantu, bukan alat utama dalam inovasi dan kreasi.
“Kalau ini tidak ditegaskan, kita berisiko menciptakan generasi yang serba instan, tapi minim kedalaman berpikir,” tambahnya. (knu)

