Indonesia Kekurangan Ribuan Kapal, 70 Persen Kegiatan Ekonomi Libatkan Perkapalan
Kapal Penumpang PELNI saat sandar di Pelabuhan Manokwari. ANTARA/Ali Nur Ichsan
MerahPutih.com - Kebutuhan kapal nasional hingga tahun 2030 diproyeksikan mencapai ribuan unit, mencakup kapal kargo, tanker, kapal perikanan hingga kapal penumpang.
Dalam Diskusi Strategis Industri Maritim Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara Sigit Puji Santosa mengungkapkan besarnya backlog atau kekurangan kapal yang harus segera dipenuhi.
Ia memaparkan, untuk dry cargo ship backlog sampai tahun 2030 mencapai 700 unit. Sementara untuk tanker ada backlog sekitar 300 unit.
Kekurangan tersebut, kata ia, menjadi peluang besar bagi industri galangan dalam negeri untuk memperkuat sinergi sekaligus membangun kemandirian industri maritim nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Baca juga:
Danantara Tegaskan Pembelian Saham BEI tidak Otomatis Jadi BUMN
Selain itu, kebutuhan kapal perikanan (fishing vessels) diperkirakan mencapai 1.500 unit, bahkan di level pengambil kebijakan jumlahnya bisa lebih dari 1.900 unit. Sementara untuk kapal penumpang, termasuk yang dioperasikan PT Pelni, backlog mencapai 710 unit.
PT PAL Indonesia sebagai BUMN yang bergerak di industri galangan kapal harus berperan sebagai penggerak utama industri perkapalan nasional, termasuk dalam memenuhi kebutuhan kapal BUMN seperti Pelni, ASDP dan Pertamina.
“PT PAL harus dibantu oleh ekosistem teman-teman yang ada di Indonesia, apakah di Batam, Riau, Sumatera, Jawa maupun Lombok dan lain-lain,” katanya.
Selain memperkuat kapasitas galangan, pentingnya penguasaan teknologi komponen utama kapal, mulai dari power pack dan mesin diesel, sistem navigasi dan elektronik, hingga struktur dan bahan baku baja.
“Kita harus membangun perkapalan yang kuat, yang mandiri, sehingga kita tidak perlu tergantung kepada barang-barang dari asing, karena hampir 70 persen kegiatan ekonomi kita pasti melibatkan perkapalan,” ungkapnya.
Sementara itu, PT PAL Indonesia sedang disiapkan menjadi induk atau holding khusus bagi galangan kapal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai bagian dari konsolidasi industri maritim nasional.
Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod menyebutkan bahwa kajian mengenai pembentukan holding tersebut saat ini sedang dibahas di Danantara.
“Danantara sedang melakukan konsolidasi industri galangan kapal BUMN. PT PAL diperintahkan untuk menjadi induk dari galangan-galangan kapal BUMN. Tetapi bentuknya seperti apa, ini masih dalam proses pembahasan,” kata Kaharuddin. (*)
Bagikan
Alwan Ridha Ramdani
Berita Terkait
Indonesia Kekurangan Ribuan Kapal, 70 Persen Kegiatan Ekonomi Libatkan Perkapalan
Danantara Tegaskan Pembelian Saham BEI tidak Otomatis Jadi BUMN
Dananara Buka Peluang Investor Asing Beli Saham BEI
Danantara Genjot Reformasi Pasar Modal: Demutualisasi BEI dan Free Float 15 Persen
Ambil Alih Tambang Martabe, Perminas Bakal Kuasai Komoditas Mineral Kritis
Danantara Bersiap Menjadi Pemegang Saham BEI, Kurangi Potensi Benturan Kepentingan
Danantara Perintahkan Kembangkan Rute KRL Sampai Sukabumi di 2026
Izin Agincourt Dicabut, Tambang Emas Martabe Diambil BUMN Baru Perminas
Presiden Prabowo Sebut Indonesia kini Mitra Setara Investor Global lewat Danantara
Danantara Mulai Lakukan Reformasi BUMN di Tahun Ini