MerahPutih Nasional - Menjalankan rukun Islam kelima yakni ibadah haji memang menjadi impian setiap warga muslim. Tak heran banyak orang yang rela berlomba-lomba untuk berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji.
Namun kuota pemberangkatan yang dibatasi setiap tahunnya membuat warga muslim harus menunggu bahkan sampai bertahun-tahun. Hingga akhirnya banyak juga orang yang mencari ibadah alternatif lain seperti umrah.
Umrah yang dianggap sebagai lahan basah dipakai segelintir perusahaan travel untuk mencari uang dengan cara licik. Banyak dari mereka menawarkan harga terbilang tidak realistis. Bukan hanya itu, tak sedikit pula perusahaan travel memberikan cicilan bagi seseorang yang ingin berangkat umrah.
"Umrah itu kuenya empuk, sekarang kalau haji kan kuotanya terbatas jadi kebanyakan pada beralih ke umrah. Apalagi Indonesia itu sebagian besar warganya umat muslim," kata Tinny Prayogi, President Director Tima Wisata di kantornya, Jalan Jendral Basuki Rahmat, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (24/3).
Tinny yang juga sebagai Dewan Penasehat Asosiasi Penyelenggara Haji Khusus Umrah dan Inbound Indonesia (Asphurindo) melanjutkan, sebenarnya sah-sah saja perusahaan travel membuat program haji dan umrah. Namun, masyarakat harus jeli melihat mana perusahaan travel yang benar-benar terdaftar untuk menyelenggarakan program haji dan umrah.
"Sebenarnya kita butuh pencerdasan. Salah satunya cerdas memilih travel dan jangan tergiur dengan harga murah. Kalau Rp15 juta sampai Rp16 juta bisa berangkat, perusahaan travel pasti nombok Rp7-8 juta. Nah, itu pakai duit siapa. Ada kemungkinan pakai uang orang lain. Tapi apa terus-terusan begitu. Padahal di dalam Islam sendiri kita tidak boleh menyengsarakan orang lain," terang Tinny.
Bukan hanya itu, perusahaan travel yang menyediakan layanan cicilan bagi para pelanggannya pun harus dicurigai. Pasalnya, tak ada jaminan bagi pelanggan untuk keamanan uang disimpan.
"Kalau dia (perusahaan travel) ngutip uang, apakah ada jaminan? Mereka kan bukan bank. Kalau kita sudah nyicil tapi tiba-tiba perusahaan itu kabur, bagaimana? Kan bisa saja," katanya.
Meski begitu, Tinny mengakui, jika di perusahaan travelnya menyediakan layanan cicilan untuk umrah. Bedanya, cicilan tersebut diserahkan pada pihak bank syariah swasta dengan atas nama si pelanggan.
"Kalau pakai atas nama travel saya enggak mau. Kita ini bukan bank. Program ini cuma buat bantu orang yang enggak mampu saja, tukang ojek, tukang cuci. Nyicil Rp15 ribu sehari. Kalau ngeberangkatin mereka itu ada rasa kebanggaan tersendiri," tuturnya. (Yni)
BACA JUGA:

