Internasional

Mengapa Petahana Bisa Kalah Telak dan Pemenangnya Seorang Pelawak di Pilpres?

Thomas KukuhThomas Kukuh - Senin, 22 April 2019
Mengapa Petahana Bisa Kalah Telak dan Pemenangnya Seorang Pelawak di Pilpres?

Seorang warga Ukraina memberikan hak suaranya di bilik suara. (UNIAN)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Tak lama setelah pemilihan umum serentak digelar di Indonesia pada 17 April lalu, Ukraina yang jauh di sana juga menggelar pemilihan presiden. Tepatnya pada hari Minggu (21/4).

Dan hasilnya pun cukup mengejutkan. Pasalnya berdasarkan exit poll, pilpres Ukraina dimenangkan seorang pelawak: Volodymyr Zelenskiy.

Pria 41 tahun itu secara mengagetkan mengalahkan sang petahana Petro Poroshenko dengan suara sangat telak. Yakni 73 persen. Data-data survei itu diklaim sangat akurat.

Zelenskiy sejatinya tak memiliki pengalaman apapun dalam pemerintahan. Bahkan dalam kampanyenya banyak yang menganggap dia tak menawarkan kebijakana atau visi misi yang terperinci.

Pemilu Ukraina
Volodymyr Zelenskiy yangs secara mengejutkan menurut exit poll memenangkan pemilu di Ukraina. (abc7news.com)

Lantas mengapa masyarakat Ukraina memercayakan nasibnya kepada seorang komedian?

Ternyata mayoritas rakyat Ukraina menganggap Poroshenko sebagai petahana bertanggung jawab atas kegagalan pemerintah menangani korupsi yang dianggap amat parah di sana.

Hal itu diungkapkan salah seorang warga Inna Bellenko kepada Al Jazeera di Kiev. Menurutnya, standar hidup yang rendah dan korupsi adalah masalah yang akan Anda derita di mana pun Anda tinggal di Ukraina. “Orang-orang berbondong untuk bermigrasi ke Polandia. Mengapa Polandia hidup lebih baik daripada kita?" Bellenko.

"Generasi baru (tim Zelensky) semoga akan membawa ide dan kekuatan baru untuk membangkitkan negara kita dari keterpurukan. Saya percaya dia benar-benar berkomitmen untuk membangkitkan Ukraina," katanya.

Lain halnya dengan Olesia, 34 tahun. Kata dia, Ukraina mengambil resiko besar dengan membawa presiden baru yang belum diuji. "Tapi kami tidak punya pilihan. Kami harus hidup di masa lalu atau mencoba sesuatu yang baru. Dia tampak seperti orang yang baik. Kami lebih percaya padanya,” ujar Olesia.

Seorang warga lainnya bernama Tetyana Alekseieva, 26 tahun mengaku juga memilih Zelensky. Dia menjelaskan alasan memilih sang komedian karena ingin adanya perubahan. "Saya berharap perubahan ini adalah untuk kebaikan. Semoga perang akan berakhir," katanya mengacu pada konflik di Ukraina timur.

Dia sebenarnya mengaku tidak tahu apakah Zelensky akan lebih baik dari presiden sebelumnya. Tapi dia lebih suka memberi seseorang kesempatan baru. "Kita perlu menghentikan korupsi yang ada di mana-mana sekarang. Saya harap presiden ini akan membantu."

Kemenangan aktor yang memerankan tokoh presiden dalam sebuah film populer bersambung di televisi Ukraina itu menjadi pukulan bagi Poroshenko. Padahal Poroshenko sudah berupaya merebut hati rakyat Ukraina dengan menggambarkan dirinya sebagai benteng melawan agresi Rusia. Bahkan dia mencitrakan diri sebagai pejuang jatidiri Ukraina.

Dalam konferensi pers, Poroshenko mengakui kekalahannya. Dengan jiwa besarnya dia mengatakan akan membantu presiden baru sambil menunggu pengumuman resmi KPU dan proses pelantikan.

"Bulan depan, saya akan meninggalkan kantor kepala negara. Ini adalah keputusan mayoritas orang Ukraina. Saya menerima keputusan ini. Saya meninggalkan kantor, tetapi saya ingin menegaskan bahwa saya tidak meninggalkan politik. Saya akan berjuang untuk Ukraina," kata Poroshenko.

Petro Poroshenko
Petro Poroshenko (ft.com)

Bahkan dalam akun twitternya @poroshenko, dia menuliska, “kami berhasil memastikan pemilihan yang bebas, adil, demokratis dan kompetitif. Tidak diragukan lagi bahwa Ukraina telah menetapkan standar tinggi baru untuk kampanye pemilihan demokratis. Saya akan menerima kehendak orang-orang Ukraina," tulis dia.

Sementara itu, Zelensky berjanji kepada pendukungnya untuk tidak mengecewakan mereka. "Meskipun saya belum secara resmi menjadi presiden, sebagai warga negara Ukraina saya dapat memberi tahu semua negara: Lihatlah kami! Segalanya mungkin!" katanya.

Sebagai informasi, Zelensky merupakan aktor sebuah situasi komedi (sitkom) televisi berjudul Servant of the People. Dalam acara itu, dia memerankan sosok sebagai guru yang berjuang melawan korupsi. Sampai akhirnya menjadi seorang presiden.

Akhirnya juga di dunia nyata dia beneran jadi presiden! (*)

#Pemilu #Internasional
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Kaesang Pangarep Resmi Masuk 'Kandang Banteng' Pada Pemilu 2029, Siap Bersaing dengan Puan Maharani
Bahkan kawasan kerap mendapatkan julukan sebagai daerah pemilihan terketat mengingat keberadaan sejumlah figur politisi berbobot tinggi
Angga Yudha Pratama - Senin, 27 Juli 2026
Kaesang Pangarep Resmi Masuk 'Kandang Banteng' Pada Pemilu 2029, Siap Bersaing dengan Puan Maharani
Indonesia
DPR Ngaku Mulai Berkeliling Serap Aspirasi RUU Pemilu Saat Masa Reses
Ada empat pilar utama yang mendesak dimasukkan dalam revisi Undang-Undang Pemilu yang saat ini sedang dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 21 Juli 2026
DPR Ngaku Mulai Berkeliling Serap Aspirasi RUU Pemilu Saat Masa Reses
Indonesia
DPR Dinilai Kurang Greget Bahas Revisi UU Pemilu, Idealnya Rampung di Tahun Ini
Secara ideal, RUU Pemilu seharusnya bisa dituntaskan pada tahun 2026 sehingga pada tahun 2027 cukup waktu untuk menyosialisasikan
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 05 Juli 2026
DPR Dinilai Kurang Greget Bahas Revisi UU Pemilu, Idealnya Rampung di Tahun Ini
Indonesia
Media Perkuat Pengawasan Etik Penyelenggara Pemilu
Sejak awal berdiri, DKPP memang menghadapi tantangan untuk memperkenalkan keberadaannya kepada masyarakat.
Dwi Astarini - Kamis, 02 Juli 2026
Media Perkuat Pengawasan Etik Penyelenggara Pemilu
Indonesia
DKPP Nilai Media Berperan Penting Menyampaikan Putusan Etik kepada Publik
Media memiliki peran penting dalam membangun transparansi sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap proses penegakan kode etik penyelenggara pemilu.
Dwi Astarini - Kamis, 02 Juli 2026
DKPP Nilai Media Berperan Penting Menyampaikan Putusan Etik kepada Publik
Indonesia
Ada Skenario Capres-Cawapres Harus Diusung 3 Partai di RUU Pemilu, Gerindra Membantah
Wacana tersebut memicu perdebatan karena sebelumnya Mahkamah Konstitusi telah memutuskan penghapusan ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 01 Juli 2026
Ada Skenario Capres-Cawapres Harus Diusung 3 Partai di RUU Pemilu, Gerindra Membantah
Indonesia
Komisi II DPR: RUU Pemilu belum Masuk Panja, masih Himpun Masukan Partai Nonparlemen
Berdasarkan arahan pimpinan DPR, Komisi II juga akan menggelar pertemuan dengan partai-partai nonparlemen.
Dwi Astarini - Senin, 29 Juni 2026
Komisi II DPR: RUU Pemilu belum Masuk Panja, masih Himpun Masukan Partai Nonparlemen
Indonesia
Putusan MK soal Kuota Perempuan, Jangan Hanya Sekadar Syarat Administratif
Partai harus melakukan kaderisasi politik perempuan yang serius dan berkelanjutan
Frengky Aruan - Kamis, 28 Mei 2026
Putusan MK soal Kuota Perempuan, Jangan Hanya Sekadar Syarat Administratif
Indonesia
Demokrat Sebut Putusan MK soal Kuota 30 Persen Caleg Perempuan Hanya Pertegas Aturan Lama
Sekjen Partai Demokrat Herman Khaeron buka suara soal putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mewajibkan partai politik memenuhi kuota 30 persen caleg perempuan.
Frengky Aruan - Selasa, 26 Mei 2026
Demokrat Sebut Putusan MK soal Kuota 30 Persen Caleg Perempuan Hanya Pertegas Aturan Lama
Indonesia
Komisi II DPR Nilai Putusan MK Jadi Perlindungan Hak Politik Perempuan
MK memutuskan ketentuan keterwakilan perempuan paling sedikit 30 persen dalam pencalonan anggota DPR dan DPRD bersifat wajib dipenuhi partai politik.
Frengky Aruan - Selasa, 26 Mei 2026
Komisi II DPR Nilai Putusan MK Jadi Perlindungan Hak Politik Perempuan
Bagikan