Hasil Riset: Mayoritas Anak Muda Menolak Terorisme, Tapi Intoleransi Menguat

Luhung SaptoLuhung Sapto - Rabu, 14 Juni 2017
Hasil Riset: Mayoritas Anak Muda Menolak Terorisme, Tapi Intoleransi Menguat

Koordinator jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid (tengah). (Foto Ist)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Jaringan Gusdurian yang tersebar di berbagai daerah bekerja sama dengan International NGO Forum on Indonesian Development (Infid) melakukan penelitian terhadap masalah intoleransi dan masalah terorisme. Hasilnya, mayoritas anak muda tidak setuju dengan terorisme, tapi di sisi lain sikap intoleran juga menguat.

Koordinator jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Qotrunnada Munawaroh tidak menampik atas kekhawatiran yang terjadi selama ini terhadap pesan permusuhan yang beredar di media sosial yang semakin menguat.

"Sebanyak 88 persen anak muda di Indonesia itu sebenarnya tidak setuju dengan terorisme. Tidak menganggap terorisme itu wujud sebagai keberagamaan, bahwa ini adalah jihad atas nama tuhan, itu tidak dipercaya oleh mereka," katanya dalam keterangan, di Jakarta, Rabu (14/6).

“Tapi pada saat yang sama, sikap intoleran itu ternyata juga semakin menguat. Jadi walaupun tidak setuju dengan terorisme pada saat ini, tetapi ada sikap-sikap tidak menyukai atau tidak setuju kepada orang-orang yang berbeda agama, berbeda suku,” ujar perempuan yang akrab disapa Alissa Wahid ini.

Kelompok ekstrimis ini, menurut Alissa, menggunakan istilah-istilah yang menyulut kemarahan. Yang pertama adalah soal bagaimana kelompok agama tertentu itu ditindas dan memandang orang lain menjadi musuh.

“Jadi bahan bakarnya adalah permusuhan, rasa takut dan kebencian. Jadi rasa takut diserang oleh kelompok yang berbeda, kemduian yang kedua yaitu benci. Benci kepada kelompok yang berbeda, lalu yang ketiga permuuhan dan upaya untuk menguasai. Jadi menyerang kelompok yang berbeda,” ujarnya lagi.

Dijelaskan putri sulung Presiden RI ke-4, (Alm.) KH. Abdurrachman Wahid atau Gus Dur ini, toleransi itu pada dasarnya sikap untuk saling menghormati. Dan sikap saling menghormati itu sendiri dasarnya adalah keyakinan bahwa semua manusia itu adalah ciptaan tuhan. Dan karena itu setiap manusia memiliki posisi yang setara yang nantinya akan dinilai oleh Tuhan.

“Jadi yang membedakan atau manusia berbeda hanya dari ketaqwaannya. Dan Tuhan akan menilai manusia hanya dari ketaqwaan. Bukan manusia yang menilai. Tetapi selain itu manusia di muka bumi ini adalah setara,” ujarnya

Dan dari situlah, kata Alissa, kita sebagai manusia yang beragama kemudian bisa saling menghormati dan bisa saling bertoleransi antar sesama umat. Untuk itu dirinya meminta kepada seluruh umat manusia untuk memulainya dari berpikir adil.

Baca juga berita lain terkait intoleran di: Kikan Eks Cokelat Nilai Ancaman Radikalisme dan Intoleransi Mengkhawatirkan

#Alissa Wahid #Jaringan Gusdurian #Terorisme #Kasus Intoleransi
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Luhung Sapto

Penggemar Jones, Penjelajah, suka makan dan antimasak
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Kopilot yang diketahui merupakan warga negara Oman tersebut dilaporkan merupakan seorang ekstremis ‘lone wolf’ (bertindak sendiri).
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Berita Foto
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Silence momen dan doa dalam acara Peringatan Hari Internasional untuk Peringatan dan Penghormatan bagi Korban Terorisme 2026 di Jakarta, Jum'at (21/8/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 21 Agustus 2026
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Indonesia
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Ancaman terorisme saat ini sudah mulai bergeser. Kini, internet dijadikan sarana untuk melakukan rekrutmen, kontrapropaganda, hingga pendanaan terorisme
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 27 Juli 2026
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Indonesia
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Kadensus 88 AT Polri mengungkap pola baru terorisme digital yang menyasar generasi muda melalui algoritma, komunitas virtual, dan kerentanan psikologis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Indonesia
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Wakapolri mengungkap pola baru terorisme dan ekstremisme yang kini berkembang melalui ruang digital. Polri juga menyoroti ratusan anak terpapar radikalisme di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Indonesia
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Densus 88 Antiteror Polri masih terus melakukan pengembangan dan pendalaman terhadap kedelapan tersangka tersebut
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Indonesia
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Presiden RI, Prabowo Subianto, meneken Perpres RAN PE. DPR pun mengapresiasi pencegahan terorisme.
Soffi Amira - Selasa, 05 Mei 2026
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Indonesia
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
untuk aspek penegakan hukum, peran Polri tetap menjadi yang utama. Sementara itu, pelibatan TNI akan disesuaikan dengan bentuk dan tingkat ancaman terorisme yang dihadapi.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 10 Februari 2026
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
Indonesia
SETARA Institute Kritik Rencana Libatkan TNI dalam Penanggulangan Terorisme
Rencana pelibatan TNI dalam penanggulangan terorisme tuai kritik. SETARA Institute menilai kebijakan tersebut bertentangan dengan supremasi sipil dan sistem peradilan pidana.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Januari 2026
SETARA Institute Kritik Rencana Libatkan TNI dalam Penanggulangan Terorisme
Bagikan