Gus Nuril Harap Jokowi Tingkatkan Kunjungan ke Pesantren

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Senin, 06 November 2017
Gus Nuril Harap Jokowi Tingkatkan Kunjungan ke Pesantren

Ilustrasi santri. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Pengasuh Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal Nuril Arifin Husein meminta Presiden Joko Widodo lebih meningkatkan intensitas kunjungannya ke pesantren-pesantren.

Pasalnya, kata Nuril, untuk menangkal aliran radikal dan intoleran yang semakin massif tumbuh di tanah air.

"Jangan cuma pesantren besar yang didatangi, coba datang ke pesantren kecil. Mereka ini pembela yang setia. Kalau yang besar biasanya transaksional," kata Nuril Arifin saat dijumpai di Gedung Perpustakaan Nasional Jalan Merdeka Selatan, Senin (6/11).

Menurut pria yang akrab disapa Gus Nuril, jika saja pendekatan terhadap pesantren tidak segera dilakukan dan intensitasnya kurang bisa jadi ke depannya kelompok radikal akan semakin berkembang pesat.

"Melihat 1 sampai 2 tahun ini Jokowi diam maka yang muncul kelompok radikal," tandasnya.

Hal itu sudah diuji dan berhasil. Mantan Gubernur DKI Jakarta adalah korbannya. Ahok berhasil digulingkan kelompok radikal, padahal tingkat kepuasan terhadap Ahok mencapai 70 persen.

Ke depannya, tidak menutup kemungkinan hal serupa bisa terjadi kepada Jokowi. Apalagi berdasarkan sejumlah survei masih ada PR berat yang harus segera diselesaikan, di antaranya persoalan tenaga kerja, lapangan kerja dan pada sejumlah sisi perekonomian.

"Mereka sudah melakukan uji coba dan berhasil menggulingkan Ahok yang mendapat tingkat kepuasan 70 persen maka bisa jadi Jokowi merasakan hal serupa," katanya.

Untuk itu, Jokowi harus segera bergerak cepat mengatasi sejumlah persoalan krusial tersebut. Pasalnya, orang-orang ini mudah disusupi aliran dan ideologi radikal dan intoleran, sehingga mudah melakukan tindakan yang tidak masuk akal

"Dalam konteks Islam kemiskinan itu dekat dengan kekafiran, mereka ini semua pemilih Jokowi mereka berharap dapat saluran yang benar kalau tidak bisa jadi kelompok kufur sekurang-kurangnya terhadap Jokowi," katanya. (Fdi)

#Radikalisme #Pondok Pesantren
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Fadhli

Berkibarlah bendera negerku, tunjukanlah pada dunia.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Prabowo Hadir di 100 Tahun Gontor, Hasan Abdullah Sahal Ungkap Makna di Balik Nama 'Gontor'
Presiden Prabowo Subianto menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo. Hasan Abdullah Sahal mengungkap makna satu abad pengabdian Gontor.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 19 September 2026
Prabowo Hadir di 100 Tahun Gontor, Hasan Abdullah Sahal Ungkap Makna di Balik Nama 'Gontor'
Indonesia
100 Tahun Gontor: Prabowo Hadir, Mushaf Al-Qur'an Karya Santri Diluncurkan
Presiden Prabowo menghadiri puncak peringatan 100 tahun Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu 19 September 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 19 September 2026
100 Tahun Gontor: Prabowo Hadir, Mushaf Al-Qur'an Karya Santri Diluncurkan
Indonesia
Kemarau Panjang Makin Terasa, 2.000 Santri Gelar Salat Istisqa dan Panjatkan Doa
Sebanyak 2.000 santri Ponpes Budi Utomo menggelar Salat Istisqa di tengah kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah Soloraya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 10 September 2026
Kemarau Panjang Makin Terasa, 2.000 Santri Gelar Salat Istisqa dan Panjatkan Doa
Lifestyle
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Regulasi penggunaan sosial media pada anak di Indonesia belum seketat negara maju lainnya.
Dwi Astarini - Senin, 07 September 2026
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Indonesia
Kemendikdasmen Perkuat Peran Sekolah Cegah Anak Terpapar Radikalisme di Media Sosial
Kekerasan yang perlu dicegah tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga dalam bentuk nonfisik, baik di dunia nyata maupun ruang digital.
Dwi Astarini - Kamis, 03 September 2026
Kemendikdasmen Perkuat Peran Sekolah Cegah Anak Terpapar Radikalisme di Media Sosial
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Indonesia
Dapur SPPG Kalitengah Disuspend Usai 431 Santri Ponpes Manbaul Hikam Diduga Keracunan
Sebanyak 431 santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo diduga keracunan usai menyantap MBG. Dapur SPPG Kalitengah Tanggulangin disuspend sementara BGN.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 02 September 2026
Dapur SPPG Kalitengah Disuspend Usai 431 Santri Ponpes Manbaul Hikam Diduga Keracunan
Indonesia
Bicara di DPR, Ibu Santri Tewas Dibakar Hidup-Hidup di Ponpes Ketuk Pintu Hati Prabowo
Ibu santri korban pembakaran di Ponpes NTB menyampaikan surat haru ke Presiden Prabowo Subianto dalam RDPU DPR.
Wisnu Cipto - Senin, 13 Juli 2026
Bicara di DPR, Ibu Santri Tewas Dibakar Hidup-Hidup di Ponpes Ketuk Pintu Hati Prabowo
Indonesia
Paham Radikal Menyebar Cepat, Kadensus 88 Minta Orangtua Lindungi Anak di Ruang Digital
Pendekatan terhadap anak yang terpapar persoalan di ruang digital mengedepankan perlindungan, rehabilitasi, dan pendampingan.
Dwi Astarini - Kamis, 21 Mei 2026
Paham Radikal Menyebar Cepat, Kadensus 88 Minta Orangtua Lindungi Anak di Ruang Digital
Indonesia
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Kadensus 88 AT Polri mengungkap pola baru terorisme digital yang menyasar generasi muda melalui algoritma, komunitas virtual, dan kerentanan psikologis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Bagikan