MerahPutih.com - Politikus PDI Perjuangan (PDIP), Guntur Romli, mengkritik pernyataan Presiden RI, Prabowo Subianto yang menyebut wartawan, jurnalis, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai "londo ireng" dalam pidatonya pada peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Menurut Guntur, penggunaan istilah yang memiliki muatan historis tersebut berpotensi menciptakan polarisasi dan mengancam kehidupan demokrasi.
Penggunaan istilah historis Londo Ireng oleh Presiden Prabowo terhadap wartawan hingga LSM merupakan taktik populisme klasik yang berbahaya bagi demokrasi.
kata Guntur, Jumat (24/7)
Ia menilai, narasi tersebut membangun dikotomi antara pemerintah sebagai pihak yang dianggap patriotik dengan kelompok kritis yang diposisikan seolah berpihak kepada kepentingan asing.
Menurut Guntur, pendekatan semacam itu bukan sekadar retorika bernuansa antikolonial, melainkan bentuk stigmatisasi terhadap kelompok yang menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah.
"Narasi ini sengaja membelah publik secara simplistis: penguasa sebagai 'patriot', sementara pilar kritis dicap sebagai 'pengkhianat penyokong asing'," ujarnya.
Kritik Dinilai Berpotensi Tergeser oleh Sentimen Emosional
Ia berpandangan, bahwa pelabelan tersebut dapat mengalihkan perhatian publik dari substansi kritik terhadap kebijakan pemerintah. Dengan menggeser pembahasan ke ranah emosional dan nasionalisme, kata dia, ruang akuntabilitas pemerintah justru berpotensi menyempit.
"Stigmatisasi ini bukan sekadar retorika antikolonial, melainkan bentuk intimidasi simbolis untuk mendelegitimasi substansi kritik tanpa perlu membantah data," katanya.
Guntur menegaskan, dalam sistem demokrasi modern, patriotisme tidak diukur dari kepatuhan kepada penguasa, melainkan dari keberanian berbagai elemen masyarakat, termasuk pers dan kalangan intelektual, untuk mengawasi jalannya pemerintahan.
Ia mengingatkan, bahwa fungsi pers sebagai pengawas (watchdog) merupakan salah satu pilar penting demokrasi. Karena itu, menurutnya, menyamakan kritik dengan bentuk pengkhianatan merupakan langkah yang berpotensi mengancam kebebasan berpendapat.
Prabowo Singgung Wartawan dan LSM dalam Pidato Harlah PKB
Sebelumnya, saat berpidato pada puncak peringatan Harlah ke-28 PKB di Jakarta Convention Center, Kamis (23/7), Presiden Prabowo menyebut masih ada "londo ireng" pada era modern. Ia menyebut istilah tersebut dapat merujuk kepada wartawan, jurnalis, pengamat, maupun LSM yang dinilai kerap mengkritik pemerintah.
Pada pidato yang sama, Prabowo juga menyoroti pemberitaan mengenai sekolah rusak yang dinilainya lebih banyak mendapat perhatian dibandingkan ribuan sekolah yang telah diperbaiki pemerintah. (Pon)

