MerahPutih.com - Indonesia ingin menjadikan Bandung Spirit yang dihasilkan dari Konferensi Asia Afrika 1955 sebagai fondasi untuk melanjutkan pembangunan kerja sama antara Indonesia dengan negara-negara Afrika di masa mendatang.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) mengatakan Forum Indonesia-Afrika (IAF) 2024 harus mengubah persepsi masyarakat Indonesia tentang negara-negara di kawasan Afrika.
"Afrika tidak hanya tentang kemiskinan, tidak hanya tentang konflik, tetapi ada hal lainnya," kata Direktur Jenderal Asia, Pasifik, dan Afrika (Dirjen ASPASAF) Kemlu RI Abdul Kadir Jailani dalam konferensi pers yang diadakan selama rangkaian IAF ke-2 di Badung, Bali, pada Minggu(1/9).
Abdul Kadir menyampaikan, pernyataan itu ketika ditanya tentang masih kurangnya jumlah partisipan dari negara-negara Afrika yang mengikut IAF ke-2 yang digelar di Badung, Bali, dari 1-3 September 2024.
Baca juga:
Jokowi Kenalkan Prabowo Sebagai Penggantinya ke Para Pemimpin Afrika di Bali
Ia kemudian menjawab bahwa gagasan utama digelarnya Forum Indonesia-Afrika adalah untuk menekankan dan menyoroti potensi-potensi yang dimiliki negara-negara Afrika.
IAF ke-2 digelar pada tahun ini guna memperluas kerja sama dengan negara-negara Afrika setelah IAF pertama digelar pada 2018. Upaya untuk mengubah citra Afrika di mata masyarakat Indonesia juga perlu dilakukan.
Afrika, kata dia, tidak hanya terkait dengan negara-negara kemiskinan atau didera banyak konflik, tetapi kawasan tersebut juga memiliki banyak potensi.
Oleh karena itu, forum tersebut, menjadi kesempatan penting untuk memahami lebih dalam potensi yang dapat dikembangkan guna meningkatkan kesejahteraan di negara-negara di kawasan tersebut.
Baca juga:
Sejumlah Pemimpin Negara Afrika Sudah Tiba di Bali Hadiri Indonesia-Africa Forum
"Forum ini juga memberikan kesempatan baik bagi akademisi, pelaku bisnis untuk berkomunikasi satu sama lain, untuk terlibat satu sama lain sehingga mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang potensi Afrika," kata dia.
Sementara itu, terkait peran IAF bagi penanganan konflik yang terjadi di kawasan Afrika, Abdul Kadir menilai ada forum atau perhimpunan lain yang menurutnya lebih tepat untuk membahas masalah-masalah tersebut, yaitu PBB.
Menurut aturan internasional, semua konflik yang ditangani PBB tidak sepatutnya dicampuri oleh negara lain, meski dalam upaya mencari solusi. Meski demikian, Indonesia tetap berusaha mendorong terwujudnya perdamaian internasional dan ketertiban dunia.
Forum Indonesia-Afrika lebih fokus pada kerja sama ekonomi sehingga isu-isu lain yang terkait dengan upaya penyelesaian konflik tidak dibahas dalam forum tersebut. (*)