Fobia Terhadap Ayam, Jangan Dianggap Enteng
Fobia ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. (Foto: Unsplash/William Moreland)
TERDENGAR aneh, tapi begitu adanya. Ya, alektorophobia adalah ketakutan berlebih dan tidak rasional terhadap ayam yang bisa memengaruhi kehidupan sehari-hari bagi yang mengalami. Yuk, kenal lebih jauh tentang alektorophobia.
Mengutip Alodokter, alektorophobia merupakan salah satu jenis fobia spesifik, yakni fobia terhadap objek, tempat, atau situasi tertentu. Alektorophobia ditandai dengan rasa takut, panik, atau ketidaknyamanan yang intens ketika berada di sekitar ayam.
Baca juga:
Fakta Unik Ayam Taliwang, Salah Satu Sebagai Kuliner Pembawa Damai
Sebenarnya, ada beberapa hal yang dapat memicu seseorang mengalami alektorophobia seperti memiliki pengalaman yang buruk dengan ayam di masa lalu, punya keluarga yang juga fobia terhadap ayam, dan tinggal di lingkungan yang banyak ayam.
Seseorang dikatakan alektorophobia apabila sudah mengalami gejalanya selama kurang lebih enam bulan. Selain ketakutan yang spontan dan intens, ada beberapa gejala yang dialami saat dihadapkan pada situasi berkaitan dengan ayam, seperti berkeringat, detak jantung cepat, pusing, gemetar, dan sulit bernapas.
Pada anak-anak, gejala alektorophobia adalah mengamuk, nangis, atau tidak mau menjauh dari orang yang mendampingi saat ada ayam di sekitar mereka.
Alektorophobia masih bisa ditangani agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari di rumah, sekolah, atau lingkungan kerja. Untuk bisa mendiagnosis alektorophobia, seorang terapis akan meninjau gejala yang dialami dan mendiskusikan tentang berbagai pengalamanmu yang berkaitn dengan ayam.
Baca juga:
Yang pertama, lakukan terapi pemaparan untuk membantumu menghadapi rasa takut pada suatu hal, dalam kasus ini adalah ayam. Terapi ini dilakukan dengan cara menempatkanmu pada situasi yang berkaitan dengan rasa takut secara bertahap. Pertama-tama, mungkin kamu akan diminta untuk memikirkan, melihat gambar, atau menonton video ayam.
Bila sudah terbiasa, terapinya akan ditingkatkan dengan memperlihatkan seekor ayam seungguhan.
Yang kedua ada terapi perilaku kognitif untuk mengontrol sekaligus mengubah pola pikir dan respons negatif yang sering muncul saat kamu dihadapkan. Dengan begitu, diharapkan kamu bisa menjadl ebih tenang dalam menghadapi situasi yang berkaitan dengan ayam. Biasanya, terapi perilaku kognitif dilakukan bersamaan dengan terapi pemaparan.
Namun, jika kedua terapi di atas belum bisa membantu mengatasi alektorophobia, psikiater akan membuat obat anticemas untuk mengurangi tingkat kecemasan dan serangan panik. (and)
Baca juga:
Ayam Goreng Blambangan, Sajikan Istimewa untuk Wisatawan Banyuwangi
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya