Kesehatan

FDA Beri Lampu Hijau Alat Tes COVID-19 Mandiri di Rumah

Dwi AstariniDwi Astarini - Minggu, 22 November 2020
FDA Beri Lampu Hijau Alat Tes COVID-19 Mandiri di Rumah

FDA izinkan alat tes mandiri untuk COVID-19. (foto: Unsplash/ani kolleshi)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

THE Food and Drug Administration (FDA) Amerikan Serikat (AS) telah memberikan lampu hijau darurat untuk alat tes cepat COVID-19 pertama yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Tes itu dilakukan dengan usap hidung dengan durasi untuk mendapatkan hasil dalam 30 menit. Namun, alat tes COVID-19 mandiri ini hanya bisa didapat dengan resep dari dokter dan belum ada evaluasi menyeluruh pada orang tanpa gejala.

Tes yang dikembangkan perusahaan yang berbasis di California, Lucira Health, ini membutuhkan resep dari penyedia layanan kesehatan. Selain itu, anak di bawah usia 14 tahun juga tidak dapat melakukan tes sendiri.

BACA JUGA:

Sayangi Mata Selama Pandemi

Dengan teknik usap hidung yang relatif sederhana ini, perusahaan memperkirakan biaya alat tes ini sekitar US$50 atau Sekitar Rp800 ribu dikatakan. Hal itu diungkapkan pada situs Lucirahealth.com. Alat ini juga dapat digunakan dokter untuk pasien mereka, termasuk anak-anak di bawah 14 tahun, dalam satu kali kunjungan, tanpa harus mengirimkan sample ke fasilitas laboraturium.

COVID-19
Alat tes dibuat Lucira Health. (foto: pingpoint)

Sejumlah tes lainnya telah diberikan otorisasi darurat oleh FDA untuk pengambilan sampel di rumah. Namun, yang lain kemudian harus dikirim ke lab untuk diproses. Tes Lucira ini menjadi yang pertama menghilangkan kebutuhan akan perantara lain dalam pengetesan.

"Otorisasi hari ini untuk tes lengkap di rumah menjadi langkah signifikan menuju program cepat tanggap nasional FDA terhadap COVID-19," kata Direktur Pusat Perangkat dan Kesehatan Radiologi FDA Jeff Shuren seperti diberitakan Nytimes.com, Rabu (18/11).

Dengan makin meningkatnya kemungkinan orang Amerika yang terjangkit COVID-19, menurut Shuren, mereka dapat mengambil tindakan segera berdasarkan hasil yang cepat. "Untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang sekitar,” Shuren menambahkan.

Uji laboratorium yang mencari materi genetik virus corona menggunakan teknik yang disebut reaksi rantai polimerase, atau PCR, masih dianggap sebagai golden standar untuk mendeteksi virus. Namun, tes mandiri di rumah ini juga bergantung pada prinsip yang sama, menggunakan metode yang disebut reaksi amplifikasi isotermal bermediasi loop, atau LAMP.

Seperti PCR, LAMP berulang kali menyalin materi genetik virus hingga mencapai tingkat yang dapat dideteksi. Hal ini memungkinkan tes untuk mengidentifikasi virus bahkan ketika hanya ada pada tingkat yang sangat rendah di saluran pernapasan. LAMP lebih cepat dan tidak terlalu merepotkan dibandingkan PCR, tetapi umumnya dianggap kurang akurat.

Cara melakukan tes ini dengan alat yang menggunakan baterai. Pertama, Anda harus memutar kapas di kedua lubang hidung, lalu mencelupkan dan mengaduk kapas ke dalam botol bahan kimia. Botol itu kemudian dicolokkan ke kartrid uji yang memproses sampel. Dalam setengah jam, kartrid uji akan menyala sebagai 'positif' atau 'negatif'.

COVID-19
Akurat hingga di atas 90%. (Foto: pingpoint)

Menurut petunjuk produk, uji LAMP Lucira mampu secara akurat mendeteksi 94,1% infeksi yang ditemukan tes berbasis PCR. Alat ini juga mengidentifikasi dengan tepat 98% orang sehat dan tidak terinfeksi. Studi yang dilakukan perusahaan itu kecil, dan hanya melibatkan orang-orang yang memiliki gejala COVID-19. Kemasan untuk tes mencatat bahwa itu 'belum dievaluasi' pada orang tanpa gejala.

Meskipun perusahaan belum merilis hasil yang lebih detail tentang performa produknya, 'datanya terlihat bagus' dan bisa memungkinkan pengujian untuk mengisi celah penting, kata Dr Susan Butler-Wu, ahli mikrobiologi klinis di University of Southern California. “Jenis pengujian ini dapat memainkan peran besar di sana,” kata Butler-Wu.

Saskia Popescu, seorang ahli pencegahan infeksi dan ahli epidemiologi di Universitas George Mason, memperingatkan pengujian di rumah, meskipun merupakan kemajuan penting, bukanlah obat mujarab. “Tidak ada tes yang sempurna,” katanya. Hasil negatif tidak boleh dianggap sebagai umpan bebas untuk berbaur. Selain itu, pengujian saja tidak dapat mencegah penyebaran penyakit dan harus dikombinasikan dengan tindakan kesehatan masyarakat lainnya seperti jaga jarak dan penggunaan masker.(Aru)

BACA JUGA:

Cerita Unik di Balik Proses Pembuatan Album 'BE' BTS

#Kesehatan #COVID-19 #Test Covid 19
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Pria ini membutuhkan prosedur kolonoskopi untuk mengeluarkan perangkat tersebut.
Dwi Astarini - Jumat, 30 Oktober 2026
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Bagikan