MerahPutih Nasional - Elektabilitas Partai Golkar yang merosot tajam, yaitu 8,4 persen membuat elit dan kader muda partai berlambang pohon beringin itu meradang. Politisi Golkar, Poempida Hidayatulloh mengatakan elektabilitas 8,4 persen sebagaimana hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merupakan posisi terendah dalam sejarah perjalanan politik Golkar.
"Hal ini jelas menunjukkan kepercayaan publik terhadap Golkar kian menurun. Secara logika politik pun pada dasarnya masyarakat tidak akan bersimpati pada Partai yang konflik, apalagi terjadi dualisme. Artinya dukungan masyarakat yang tinggal 8,4 persen pun bisa jadi akan terbagi dua oleh dualisme yang ada," kata Poempida kepada Merahputih.com, Sabtu (20/12).
Poempida juga mengkorelasikan penurunan elektabilitas Golkar itu dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang akan dilaksanakan pada pertengahan 2015 mendatang. Sekiranya, pada bulan April mendatang semua calon-calon kepala daerah sudah harus terdaftar di KPU. Maka dengan begitu, dualisme kepemimpinan di Partai Golkar ini akan berimbas pada dualisme pencalonan kepala daerah.
"KPU bisa jadi kemudian membatalkan pencalonan tersebut sehingga Partai Golkar berpotensi tidak memiliki calon di Pemilukada mendatang," katanya.
Bukan hanya soal dualisme pencalonan, dualisme kepengurusan Golkar ini juga akan menyebabkan dualisme kepengurusan di daerah daerah yang akan membuat persoalan politik di daerah akan makin menajam. Terutama pada basis perhelatan di DPRD.
"Aksi pecat memecat dan tuntut menuntut yang tidak akan ada habisnya sudah pasti akan terjadi. Ini akan menjadi suatu pemandangan/berita yang tidak enak dilihat/didengar, kecuali oleh orang-orang yang mendapatkan keuntungan dari proses kehancuran ini," katanya.
"Sekali lagi sebagai kader muda yang
berharap eksistensi Golkar tetap ada untuk puluhan tahun mendatang, saya berharap agar Dualisme Partai Golkar ini segera disudahi dengan rekonsiliasi. Saya yakin bahwa kebesaran hati dari Para elit Golkar ini masih ada dan ini yang akan menjadi bibit penyelamat Partai Golkar ke depan," tutup Poempida.