Efek Berantai Tekanan Ekonomi Jika Iuran BPJS Kesehatan Jadi Dinaikkan

Wisnu CiptoWisnu Cipto - Senin, 27 April 2026
Efek Berantai Tekanan Ekonomi Jika Iuran BPJS Kesehatan Jadi Dinaikkan

Ilustrasi - Pasien BJPS pemegang kartu Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Wacana pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan menuai polemik. Pengamat kebijakan publik Achmad Nur Hidayat menilai, langkah tersebut berpotensi menimbulkan dampak kontraktif terhadap perekonomian nasional.

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diperkirakan mengalami defisit antara Rp 20–30 triliun pada tahun ini. Dengan jumlah peserta lebih dari 270 juta jiwa atau 95 persen populasi, tekanan pembiayaan terus meningkat seiring kenaikan biaya layanan kesehatan.

“Pendekatan ini perlu diuji secara lebih komprehensif,” kata Achmad, dalam keterangannya kepada media, Senin (27/4).

Baca juga:

Bayi Baru Lahir Otomatis Jadi Peserta BPJS Kesehatan Diklaim Percepat Layanan

Kelas Menengah Paling Terdampak

Saat ini, iuran BPJS berada di kisaran Rp 42.000 per bulan untuk kelas III, Rp 100.000 untuk kelas II, dan Rp 150.000 untuk kelas I.

Achmad mencontohkan, kenaikan Rp 20 ribu per orang akan berdampak signifikan bagi rumah tangga kelas menengah dengan empat anggota keluarga. Tambahan beban sekitar Rp80 ribu per bulan berarti hampir Rp 1 juta per tahun.

“Dalam konteks pertumbuhan upah riil yang terbatas, tambahan beban ini tidak bisa dianggap sepele,” tutur pengajar UPN Veteran tersebut.

Baca juga:

Profil Prihati Pujowaskito, Dokter Jantung yang Kini Jadi Dirut BPJS Kesehatan

Efek Berantai ke Ekonomi

Menurut Achmad, kelas menengah yang tidak termasuk penerima bantuan iuran pemerintah, merupakan kelompok paling rentan terdampak. Mereka juga kontributor utama konsumsi domestik.

Ketika daya beli tertekan, dampaknya langsung terasa pada sektor usaha, terutama UMKM yang menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja nasional. “Penurunan permintaan akan menekan produksi, mengurangi investasi, dan berpotensi meningkatkan pengangguran,” ucap Achmad.

Dengan tingkat pengangguran terbuka masih di kisaran 5 persen, tekanan tambahan terhadap pasar tenaga kerja tentu harus dihindari.

“Dengan kata lain, kenaikan iuran BPJS berisiko menjadi kebijakan yang bersifat kontraktif di tengah kebutuhan akan stimulus ekonomi,” papar Achmad. (Knu)

#BPJS Kesehatan #Kelas Menengah #Ekonomi
Bagikan

Berita Terkait

Dunia
Hong Kong Rebut Takhta Swiss, Jadi Pusat Pengelolaan Kekayaan Lintas Negara Terbesar Dunia
Hong Kong resmi menggeser Swiss sebagai pusat pengelolaan kekayaan lintas negara terbesar dunia. Aset naik 10,7% jadi 2,95 triliun dolar AS, didorong IPO dan family office.
Wisnu Cipto - Sabtu, 13 Juni 2026
Hong Kong Rebut Takhta Swiss, Jadi Pusat Pengelolaan Kekayaan Lintas Negara Terbesar Dunia
Indonesia
Mensesneg Minta Masyarakat tak Mudah Terpengaruh Narasi Menyesatkan Terkait Kondisi Ekonomi
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah terus bekerja keras menangani berbagai persoalan ekonomi melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
Dwi Astarini - Jumat, 12 Juni 2026
Mensesneg Minta Masyarakat tak Mudah Terpengaruh Narasi Menyesatkan Terkait Kondisi Ekonomi
Indonesia
BPJS Kesehatan Defisit Rp 2 Triliun Tiap Bulan, DPR Minta Evaluasi Total
Persoalan defisit tidak boleh dipandang sebagai masalah rutin yang cukup diatasi melalui suntikan dana jangka pendek. 

Dwi Astarini - Jumat, 12 Juni 2026
BPJS Kesehatan Defisit Rp 2 Triliun Tiap Bulan, DPR Minta Evaluasi Total
Lifestyle
Nahan Jajan, Ngejar Cuan: Cara Gen Z Kreatif Bertahan in This Economy
Tekanan ekonomi membuat Gen Z harus lebih selektif dalam mengatur keuangan.
Dwi Astarini - Kamis, 11 Juni 2026
Nahan Jajan, Ngejar Cuan: Cara Gen Z Kreatif Bertahan in This Economy
Indonesia
Imbau Warga Lepas Dolar, Dasco: Minggu Depan Rupiah Menguat, Bisa Rugi Kalau Disimpan
Dasco meyakini nilai tukar rupiah akan menguat pada pekan depan sehingga pemegang dolar berpotensi mengalami kerugian.
Dwi Astarini - Kamis, 11 Juni 2026
Imbau Warga Lepas Dolar, Dasco: Minggu Depan Rupiah Menguat, Bisa Rugi Kalau Disimpan
Indonesia
BPJS Kesehatan Jebol Rp 2 Triliun Sebulan, DPR Bongkar Carut Marut Data PBI Kemensos
Akurasi data peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) menjadi persoalan utama
Angga Yudha Pratama - Kamis, 11 Juni 2026
BPJS Kesehatan Jebol Rp 2 Triliun Sebulan, DPR Bongkar Carut Marut Data PBI Kemensos
Indonesia
Prabowo Optimistis Indonesia Jadi Raksasa Ekonomi Lewat Hilirisasi dan Swasembada Energi
Presiden Prabowo Subianto menegaskan hilirisasi dan industrialisasi menjadi kunci Indonesia menuju kekuatan ekonomi dunia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 11 Juni 2026
Prabowo Optimistis Indonesia Jadi Raksasa Ekonomi Lewat Hilirisasi dan Swasembada Energi
Indonesia
DEN Sebut Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Solid di Tengah Gejolak Global
Dewan Ekonomi Nasional menilai ekonomi Indonesia tetap solid dan jauh dari krisis. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen dan inflasi tercatat 3,08 persen pada 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 09 Juni 2026
DEN Sebut Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Solid di Tengah Gejolak Global
Indonesia
Strategi Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Kejar Pertumbuhan Ekonomi 2027
Pemerintah bertumpu pada penguatan peran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara guna menarik minat para pemodal internasional
Angga Yudha Pratama - Selasa, 09 Juni 2026
Strategi Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Kejar Pertumbuhan Ekonomi 2027
Indonesia
DPR dan Pemerintah Bahas Strategi Percepatan Pertumbuhan Ekonomi
Pembahasan difokuskan pada penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.
Dwi Astarini - Senin, 08 Juni 2026
DPR dan Pemerintah Bahas Strategi Percepatan Pertumbuhan Ekonomi
Bagikan