MerahPutih.com - Keputusan Indonesia gabung ke aliansi BRICS menuai tanda tanya. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, aliansi BRICS tidak begitu memberikan keuntungan bagi Indonesia.
Alasannya, ekonomi salah satu pentolan BRICS, China diproyeksikan akan melambat.
“Khususnya pascakembali terpilihnya (Presiden AS terpilih) Donald Trump yang memicu proteksionisme dagang. Ditambah, kekhawatiran ketergantungan yang semakin kuat pada China masih menghantui Indonesia,” kata Bhima kepada wartawan di Jakarta dikutip Rabu (8/1).
Tantangan ke depan bagi negara anggota BRICS, termasuk Indonesia di pasar global, adalah Donald Trump. Sebab, Trump diduga akan melakukan ancaman pada negara anggota BRICS apabila melakukan dedolarisasi.
Baca juga:
Indonesia Masuk BRICS, Gerindra Sebut Wujud Sejati Politik Bebas Aktif
Jika, AS memberlakukan tarif 100 persen pada negara anggota BRICS, tentu Indonesia akan terkena imbas dari kebijakan tersebut, tidak bisa dipungkiri ini juga akan menjadi tantangan bagi ekonomi Indonesia dalam jangka waktu pendek atau menengah.
Hal ini juga akan menyebabkan penurunan tajam pada volume ekspor, terutama untuk produk-produk yang sangat bergantung pada pasar AS.
Bhima menuturkan, Indonesia mesti mengambil peluang semaksimal mungkin.
“Indonesia berpeluang untuk berpartisipasi dalam solidaritas negara-negara Selatan atau global South dalam mengurangi hegemoni Barat,” kata Bhima
Dia mencontohkan, negara aliansi BRICS lain seperti Brasil, Afrika Selatan, India berpeluang menguasai ekonomi dunia.
"Jika terlalu pro-China, maka keanggotaan Indonesia di BRICS sebenarnya sia-sia, mereplikasi hubungan ekonomi dengan China yang sudah terlalu dominan," kata Bhima.
Baca juga:
BRICS Disebut Kubu Perlawanan Ekonomi Barat, Indonesia Harus Hati-Hati
Sebelumnya, Indonesia resmi menjadi anggota penuh blok ekonomi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS). Posisi Indonesia yang sudah tak lagi sekadar mitra, melainkan menjadi anggota penuh.
Negara pemegang kepemimpinan blok tersebut menegaskan anggota lain sudah menyetujui masuknya Indonesia ke dalam BRICS. (Knu)