MerahPutih.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah yang ditutup pada level Rp 17.105 per dolar AS, Selasa (7/4).
Politikus Golkar itu menegaskan pelemahan mata uang tidak hanya dialami rupiah, melainkan juga terjadi pada sejumlah mata uang negara lain.
"Itu kan bukan hanya rupiah, berbagai currency lain juga demikian," kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4).
Baca juga:
Skenario Terburuk Defisit APBN Capai 4,06 Persen, Nilai Tukar Rupiah Rp 17.300 Per dolar AS
Tren Rupiah Melemah
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan melemah 70 poin atau 0,41 persen dari posisi sebelumnya Rp 16.980 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat melemah ke Rp 17.092 per dolar AS dari Rp 17.037 per dolar AS.
Baca juga:
Kenaikan 1 Dolar Harga Minyak Bikin Negara Defisit Rp 6,8 Triliun, dan Beban Utang Rp 1,9 Triliun
Eskalasi Timur Tengah
Sementara itu, Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran.
“Investor bersiap menghadapi potensi eskalasi di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz,” ujarnya, dilansir Antara.
Iran menolak proposal AS untuk gencatan senjata 45 hari dan pembukaan Selat Hormuz secara bertahap. Sebaliknya, Iran menuntut penghentian permusuhan permanen, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerusakan.
Baca juga:
Gaji Menteri Mau Dipotong, Menko Airlangga: Kita Monitor Saja
Trump merespons dengan menegaskan tenggat waktu tersebut bersifat tegas dan memperingatkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur Iran jika tidak dipatuhi.
Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar energi global, mendorong harga minyak naik, dan memperbesar risiko inflasi. Imbas ketidakpastian global ini membuat rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya tertekan. (*)