MerahPutih.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memerintahkan Bulog untuk mengakuisisi beberapa sumber beras di Kamboja agar dapat memberikan kepastian stok cadangan beras dalam negeri aman.
Namun, Bulog belum mendapat arahan lebih lanjut dari kepemimpinan direktur utama (Dirut) yang baru Wahyu Suparyono perihal investasi terhadap produsen beras di Kamboja.
"Beliau (Wahyu Suparyono) belum memberikan arahan tentang investasi ke depan, beliau masih baru konsolidasi dulu. Kita juga lihat dulu sign-nya dari pemerintahan berikutnya seperti apa," kata Direktur Transformasi dan Hubungan Kelembagaan Bulog Sonya Mamoriska, di Bali, Jumat (20/9).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional pada 2023 turun 1,39 persen, dari 31,54 juta ton pada 2022 menjadi 31,10 juta ton pada 2023.
BPS mencatat produksi beras di Indonesia mengalami fluktuasi yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti krisis iklim, makin berkurangnya lahan pertanian dan kondisi tanah serta akses pengairan.
Baca juga:
Bulog Minta Perintah Impor Beras Dikeluarkan Lebih Cepat Buat Stok Tahun 2025
Kondisi ini membuat produksi padi pada periode Januari-April 2024 turun 17,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu saat mencapai 22,55 juta ton.
Di sisi lain, konsumsi beras per kapita di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan negara lain. Pertumbuhan penduduk yang pesat menyebabkan permintaan beras terus meningkat.
Untuk mengatasi kesenjangan antara produksi dan konsumsi, impor beras pun dilakukan agar tidak terjadi kelangkaan yang dapat memicu kenaikan harga beras secara drastis. Dilansir dari Antara, Bulog mendapatkan persetujuan impor beras 3,6 juta ton tahun ini. (*)