MerahPutih.com - Sejak tahun 1999, Megawati Soekarnoputri sudah memimpin PDI Perjuangan. Di bawah kepemimpinan Megawati, partai berlambang banteng ini mampu memenangkan Pemilu sebanyak dua kali.
Pengamat politik Hanta Yudha menilai, PDIP mampu mengelola pendukungnya menjadi pemilih yang solid.
Baca Juga: Megawati Pertimbangkan Bentuk Ketua Harian PDIP
"Yang membedakannya adalah konsolidasi dan solidaritas kuat itu tokoh ada di PDIP. Sementara Partai Golkar tidak, di sana hantaman turbulensinya sangat keras" kata Hanta kepada wartawan di Jakarta, Rabu (7/8).
Kuatnya trah Soekarno pada keluarga Mega merupakan modal besar bagi PDIP.
"Jadi tidak ada pertumbuhan faksi, dia tumbuh dibanding Golkar (yang terpecah kubuny)," jelas Direktur Poltracking ini.
Hanta mencontohkan di Golkar setiap kali akan kongres atau Munas selalu melahirkan partai baru. Tahun 1999 misalnya lahir PKPI, kemudian 2004 Hanura lahir dari Wiranto, Gerindra dari Prabowo. Kemudian 2009 lahir NasDem dari Surya Paloh.
Baca Juga: Ahmad Basarah Tegaskan Megawati Hampir Pasti Jadi Ketua Umum PDIP Lagi
"Dari perjalanan itu kita lihat berbanding terbalik dengan PDIP yang tidak pernah ada partai genelogi. Ini sejatinya sangat menguntungkan PDIP karena partai genelogi akan berpotensi mengerus suara partai," jelas Hanta.
"Itu salah satu bukti dan uji konsolidasi soliditas kuat pada PDIP," tambah Hanta.
Hanta menjelaskan, PDIP ini memiliki figur kuat tidak hanya di internal namun di eksternal. Pertama itu figur utama partai seperti Megawati Soekarnoputri.
"Beliau mantan presiden, tentu secara ekternal sangat kuat. Tetapi yang paling penting adalah jangka utana soliditas ekternal PDIP, meskipun tantangannya adalah konteks jangka panjang," terang Hanta.
Figur kedua yang menguntungkan lagi PDIP seperti figur capresnya yang kemudian memenangkan dua kali pemilu bernama Jokowi.
"Itu juga memberikan credit point, memberikan dampak positif, dampak elektoral," terang dia.
Lalu ada figur-figur di daerah seperti kepala daerah seperti Ganjar Pranowo hingga Tri Rismaharini.
Baca Juga: PDIP Bocorkan Alasan Megawati Tak Mungkin Diganti Sebagai Ketua Umum
"Coba kita buka data-data, maka kepala daerah yang dipimpin PDIP berkolerasi positif dengan legislatifnya, menang. Selain basis seperti Jawa Tengah, seperti Semarang. Itu ada korelasi," jelas dia
Sementara, Golkar tidak memiliki keuntungan itu.
"Mereka tidak memiliki figur yang kuat secara elektoral di ekternal maupun di internal," pungkas Hanta. (Knu)