MerahPutih.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia secara kumulatif sepanjang 2021 berhasil tumbuh positif mencapai 3,69 persen, atau lebih baik dibandingkan 2020 yang mengalami kontraksi 2,07 persen.
Perekonomian Indonesia sepanjang 2021 diwarnai dengan gejolak maupun peluang yang sangat bergantung pada perkembangan pandemi COVID-19. Realisasi triwulan I 2021 meski terkontraksi 0,74 persen (yoy), namun jauh lebih baik dibanding realisasi 2020 yang masih sangat tertekan oleh masifnya penyebaran COVID-19.
Baca Juga:
Pemulihan Ekonomi Tak Ingin Terganggu, Pegawai Hotel di Cirebon Dapat Vaksin Booster
Sementara momentum ekonomi nasional melambung tinggi terjadi pada triwulan II 2021 yang mencapai 7,07 persen (yoy) mengingat baseline dari kuartal yang sama tahun sebelumnya sangat rendah yakni minus 5,32 persen (yoy).
Selain karena baseline yang rendah, realisasi triwulan II 2021 juga dilatarbelakangi oleh upaya pemerintah yang mulai gencar menjalankan program vaksinasi sehingga mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk melakukan mobilitas.
Di sisi lain, pencapaian itu tidak berlanjut di triwulan III 2021 karena realisasinya hanya sebesar 3,51 persen (yoy) seiring pemerintah menerapkan PPKM darurat untuk menekan penyebaran COVID-19 varian Delta yang melambung tinggi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2021 yang tercatat 5,02 persen didorong oleh pemulihan sektor industri dan perdagangan.
"Pertumbuhan ekonomi di kuartal IV sebesar 5,02 persen didorong oleh pulihnya sektor industri dan perdagangan dengan pertumbuhan di atas pertumbuhan nasional yakni 4,92 persen dan 5,56 persen," kata Airlangga di Jakarta, Senin.
Ia menuturkan, kontribusi industri yang mencapai 18,8 persen merupakan kontributor terbesar terhadap struktur PDB dengan andil sebesar 1,01 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, kinerja perdagangan yang tercatat positif juga memberikan manfaat kepada perekonomian nasional pada periode ini dengan ekspor yang tumbuh 29,83 persen dan impor tumbuh 29,6 persen.
Airlangga memastikan, kebijakan gas dan rem yang telah dilakukan selama masa pandemi COVID-19 oleh pemerintah berjalan secara harmonis.
"Kebijakan stimulus fiskal terhadap sektor otomotif dan properti terbukti mendorong multiplier effect dari segi produksi dan dari sisi konsumsi," katanya.
Airlangga memastikan, pemerintah akan menjaga momentum kinerja positif ini agar pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2022 semakin baik di kisaran lima persen.
"Pemerintah melihat momentum ini untuk terus dijaga di kuartal I tahun 2022 yang tahun lalu tumbuh negatif 0,74 persen agar di kuartal I dapat dijaga di level yang sama dengan kuartal IV," katanya.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan kinerja ekonomi pada triwulan IV-2021 yang tumbuh 5,02 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy) menunjukkan menguatnya pemulihan ekonomi.
"Keberhasilan pengendalian pandemi, partisipasi masyarakat menerapkan protokol kesehatan dan vaksinasi, efektivitas kebijakan stimulus fiskal oleh pemerintah, serta sinergi yang baik antar otoritas dalam menjaga stabilitas dan percepatan pemulihan ekonomi menjadi faktor utama terjaganya keberlanjutan pemulihan ekonomi nasional”, ungkapnya.
Tercatat, tingkat PDB per kapita Indonesia pun berhasil naik dari 57,3 di tahun 2020 ke 62,2 juta rupiah di tahun 2021 atau naik 8,6 persen, setara dengan 4.349,5 dolar AS, sehingga Indonesia diperkirakan kembali masuk ke kelompok negara berpendapatan menengah ke atas pada tahun 2021.
Kemenkeu mencatat realisasi belanja negara tahun 2021 mencapai Rp 2.786,8 triliun atau 101,3 persen dari pagu, sementara realisasi sementara Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 adalah sebesar Rp 658,6 Triliun atau 88,4 persen dari pagu Rp 744,77 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yaitu Rp 575,8 Triliun.
Laju pemulihan ekonomi juga memberikan efek positif pada pendapatan negara yang tumbuh sebesar 21,6 persen, terutama ditunjang oleh penerimaan perpajakan yang tumbuh 19,2 persen (yoy) atau mencapai 103,9 persen dari target APBN dan kembali pada level pra pandemi pada tahun 2019. (Knu)
Baca Juga:
DPR Dorong BUMN Jadi Sandaran Pemulihan Ekonomi Nasional