Dari Hal Kecil Tercipta Kebahagiaan
Kebahagiaan dalam diri seseorang merupakan gabungan dari banyak unsur dalam hidup. (Pexels/Andrea Piacquadio)
DI dunia ini, ada banyak hal yang bisa membuat seseorang gembira. Mungkin saat menemukan hobi baru, bertemu orang baru, membeli rumah, atau diterima kerja di suatu perusahaan. Setiap manusia punya momen bahagianya masing-masing dan patut disyukuri.
Dilansir laman Human Resource Director, ternyata momen besar dalam hidup kita belum tentu membuat benar-benar bahagia. Hal-hal kecil lah yang ternyata membuat semuanya jadi berbeda.
Baca Juga:
"Satu definisi yang biasa dikutip dan yang saya gunakan dalam penelitian saya berasal dari Dr. Sonja Lyubomirsky. Kebahagiaan adalah pengalaman kegembiraan, kepuasan, atau kesejahteraan positif, dikombinasikan dengan perasaan bahwa hidup seseorang itu baik, bermakna, dan bermanfaat," kata Dr. Gillian Mandich, peneliti dari Kanada dan pakar kebahagiaan.
Apa yang mendorong seseorang untuk bahagia? Mandich menyebutkan bahwa langkah pertama dalam mencari tahu bagaimana menjalani kehidupan yang bahagia adalah mempelajari apa itu kebahagiaan. Bagian dari tantangan menemukan kebahagiaan. Seseorang tidak diajarkan bagaimana menjadi bahagia.
"Kami tumbuh belajar matematika, sains, bahasa di sekolah. Tetapi tidak ada yang mengajari bagaimana menjadi bahagia. Belum lagi peran media, TV, film, dan media sosial dalam menciptakan tentang apa itu kebahagiaan," tuturnya.
Mandich menyebutkan hal-hal itu mengajarkan bahwa seseorang bahagia ketika memiliki sejumlah uang atau menunggu pangeran tampan datang menunggang kuda.
"Kami tahu dari penelitian bahwa kebahagiaan bukanlah tujuan, itu adalah praktik. Mirip dengan bagaimana kita mempraktikkan makan sehat atau kesehatan mental. Itu adalah proses berkelanjutan yang harus dilakukan setiap hari," kata Mandich.
Baca Juga:
Mencari makna kebahagiaan meningkat selama beberapa tahun terakhir. Sayangnya, digitalisasi dan munculnya media sosial hanya menciptakan 'kehidupan online'. Yakni kehidupan yang menampilkan potret kesempurnaan tanpa realitas. Gambaran yang tidak lengkap ini membuat orang mencari versi kebahagiaan yang tidak realistis.
"Orang sering berpikir bahwa momen-momen besar dalam hidup membawa kebahagiaan paling besar dalam hidup, seperti wisuda, liburan, atau ulang tahun. Tetapi penelitian yang sama menemukan bahwa kehidupan yang bahagia adalah jumlah dari kegembiraan kecil sepanjang hari," tuturnya.
Jadi, menurut Mandich, alih-alih berfokus pada momen besar yang tidak terlalu sering terjadi, lebih baik fokus pada kegembiraan kecil agar menambah kebahagiaan.
"Ketika kita menempatkan diri dalam kerangka berpikir yang lebih baik, kita lebih siap untuk orang lain. Kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki," tutupnya. (and)
Baca Juga:
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya