BRIN Temukan 93 Habitat Paus dan Lumba-Lumba di Barat Sumatra Berada di Luar Area Konservasi
Penampakan paus omura (Balaenoptera omurai) di perairan barat Sumatera saat ekspedisi OceanX Indonesia Mission di perairan barat Sumatera, Senin (3/6/2024) ANTARA/HO-OceanX
MERAHPUTIH.COM — SEBANYAK 93 persen wilayah habitat paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatra berada di luar kawasan konservasi yang patut dilindungi. Demikian temuan survei yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Konservasi Indonesia (KI), dan OceanX. Oleh karena itu, BRIN mendorong informasi ilmiah yang memadai untuk merancang intervensi tepat.
Seperti dilansir ANTARA, Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto menyatakan ketersediaan dan informasi ilmiah yang sahih sangat penting guna memberikan masukan bagi pemerintah dalam upaya merancang intervensi yang relevan dan dapat diimplementasikan secara efektif.
"Dalam bidang riset ilmiah kelautan, penyediaan armada kapal riset dengan berbagai peralatan riset canggih menjadi penting guna mengumpulkan data dan informasi tentang keanekaragaman biodiversitas dan sumber daya laut di Indonesia. Kerja sama penggunaan Kapal Riset RV OceanXploration milik OceanX dengan melibatkan para periset dari BRIN, Konservasi Indonesia, dan perguruan tinggi kini telah menghasilkan temuan penting yang akan berdampak signifikan," katanya.
OceanX Indonesia Mission yang dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2024 menyurvei wilayah yang mencakup 15.043 kilometer. Kegiatan ini mencatat 77 sighting dari 10 spesies cetacean atau ordo mamalia laut, termasuk konfirmasi udara pertama paus pembunuh (Orcinus orca) dan paus pembunuh kerdil (Feresa attenuata) di wilayah barat Indonesia. Hasil survei ekspedisi OceanX Indonesia Mission baru saja dipublikasikan dalam Frontiers in Marine Science.
Baca juga:
6 Paus Pilot Mati Terdampar di Pantai Terpencil Selandia Baru, 15 Ekor masih Berusaha Diselamatkan
Dengan mengintegrasikan data historis, jumlah spesies cetacean yang terdokumentasi di kawasan itu kini mencapai 23 spesies atau 68 persen dari total cetacean yang diketahui di Indonesia. Titik kepadatan tinggi, yang didominasi lumba-lumba moncong panjang (Stenella longirostris) dan lumba-lumba belang atau lumba-lumba garis (Stenella coeruleoalba) teridentifikasi terutama di luar kawasan konservasi.
Sebanyak 93 persen titik berada di luar kawasan konservasi laut yang ada maupun yang diusulkan. Peneliti dalam studi ini mengidentifikasi hal tersebut sebagai penanda ketidaksesuaian antara jejaring kawasan konservasi saat ini dan distribusi aktual habitat penting cetacean, khususnya di wilayah offshore.
Pemodelan spasial juga menunjukkan tumpang tindih yang signifikan antara habitat cetacean dengan aktivitas perikanan intensif dan lalu lintas maritim, yang berpotensi meningkatkan risiko bagi spesies tertentu, seperti paus pembunuh, paus Omura (Balaenoptera omurai), dan paus sperma (Physeter macrocephalus) yang masuk kategori spesies terancam punah.
"Survei ini mengisi kekosongan data yang selama ini membatasi pengelolaan cetacean di laut lepas Indonesia," ujar Iqbal Herwata selaku Focal Species Conservation Senior Manager of Konservasi Indonesia dan penulis utama studi.
Ia menyebut skala dan kualitas data ini memungkinkan perencanaan konservasi yang benar-benar berbasis bukti.
Konservasi Indonesia, yang berkolaborasi dengan OceanX dan BRIN dalam ekspedisi ini, menilai temuan tersebut menegaskan kebutuhan akan perlindungan spasial yang terarah, perencanaan ruang laut adaptif, serta langkah mitigasi spesifik per spesies sebagai pelengkap upaya perluasan kawasan konservasi laut Indonesia menuju target 30×45.
Temuan itu juga memperkuat pelaksanaan program inisiatif nasional Blue Halo S, yang fokus pada penguatan tata kelola perikanan, perlindungan habitat laut penting, serta pengembangan ekonomi biru berkelanjutan di perairan barat Sumatra.(*)
Baca juga:
Lumba-Lumba Kini Sering Muncul di Pulau Pramuka Itu Pertanda Apa?
Bagikan
Berita Terkait
BRIN Temukan 93 Habitat Paus dan Lumba-Lumba di Barat Sumatra Berada di Luar Area Konservasi
BRIN: Jakarta Utara Ambles 3,5 Cm per Tahun, Risiko Banjir Naik 40 Persen
Mampu Deteksi Radiasi C-137, BRIN Sasar Produksi Massal Mesin X-Ray Peti Kemas
[HOAKS atau FAKTA]: Presiden ke-7 RI Joko Widodo Ditugaskan BRIN jadi Ketua Gugus Tugas Penanggulangan Bencana
BRIN Tunjuk Joko Widodo Ketua Satgas Penanggulangan Bencana Sumatra
Presiden Prabowo Perintahkan Optimalkan 8.000 Periset, Kembangkan Produk Indonesia
BRIN Kembangkan Pesawat Amfibi Dengan PT DI, Pas Buat Wilayah Kepulauan
Jakarta Juara Nasional Provinsi SDGs 2025, Disusul Kalsel dan DIY
BRIN Tegaskan Komitmen Kawal Program Prioritas Presiden Prabowo Bidang Pangan, Energi, dan Air
Kepala BRIN Gandeng Kementerian hingga Danantara, Bangun Fokus Riset dan Inovasi