BRIN: Jakarta Utara Ambles 3,5 Cm per Tahun, Risiko Banjir Naik 40 Persen

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Senin, 12 Januari 2026
BRIN: Jakarta Utara Ambles 3,5 Cm per Tahun, Risiko Banjir Naik 40 Persen

Kawasan Teluk Jakarta dilihat dari Pantai Maju, di Jakarta Utara, Jumat (26/8/2021). (ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan terjadinya penurunan muka tanah (land subsidence) di wilayah Jakarta Utara dengan laju mencapai 3,5 sentimeter per tahun. Kondisi ini berkontribusi signifikan terhadap meningkatnya risiko banjir Jakarta hingga lebih dari 40 persen, termasuk banjir rob yang semakin sering terjadi.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Yus Budiyono, menjelaskan bahwa penurunan tanah di Jakarta, khususnya wilayah utara, merupakan kombinasi antara proses geologi alami dan aktivitas manusia, terutama pengambilan air tanah secara masif dan berlangsung selama puluhan tahun.

Secara geologi, wilayah Jakarta Utara tersusun atas tanah aluvium, jenis tanah yang secara alami mengalami pemadatan atau kompaksi seiring waktu.

“Yang pertama, geologi Jakarta itu tersusun di bagian utara utamanya oleh tanah aluvium. Tanah aluvium itu sebenarnya mengalami kompaksi secara alami,” kata Yus saat dikonfirmasi, Senin (12/1).

Namun, proses alami tersebut menjadi jauh lebih cepat ketika air tanah di bawah lapisan aluvium dieksploitasi secara berlebihan.

“Tanah aluvium itu akan lebih cepat kompaksinya kalau air tanah yang ada di bawahnya diambil secara berlebihan, sehingga tanahnya berkonsolidasi dan permukaannya turun,” ujarnya.

Baca juga:

BMKG Sebut Penurunan Permukaan Tanah Pemicu Lain Pulau Jawa Rentan Banjir

Yus menjelaskan, pada sekitar 1975–1976, wilayah Jakarta Utara masih berada sekitar satu meter di atas permukaan laut. Seiring meningkatnya kebutuhan air tanah—baik untuk permukiman, industri, maupun sektor komersial—permukaan tanah menurun secara bersamaan di berbagai wilayah.

“Karena pengambilannya merata ke seluruh daerah Jakarta, baik pemukiman maupun industri dan komersial, tanahnya juga turun bersama-sama,” ungkapnya.

Tanpa disadari, penurunan tanah terus berlangsung hingga kini dan memicu berbagai persoalan serius, terutama banjir rob.

“Kita enggak sadar bahwa tanahnya turun sampai kemudian sekarang terjadi rob. Kita tahu bahwa di titik terendahnya, Jakarta sudah sekitar tiga meter di bawah permukaan laut, bahkan bisa mencapai 3,5 meter,” imbuh Yus.

Lebih lanjut, Yus menilai bahwa dampak jangka panjang penurunan tanah sangat bergantung pada pilihan manusia dalam mengelola kota. Keberlanjutan Jakarta sebagai kota layak huni, menurutnya, ditentukan oleh keputusan kolektif antara pemerintah dan masyarakat.

“Kalau dampak jangka panjang terhadap keberlanjutan kota, itu tergantung kita. Apakah kita masih ingin tinggal di Jakarta atau Jakarta itu akan kita tinggalkan,” ucapnya.

Baca juga:

Cegah Penurunan Permukaan Tanah, Warga Muara Angke Dilarang Ambil Air Tanah

Meski tidak mungkin mengembalikan kondisi tanah seperti puluhan tahun lalu, Yus menegaskan bahwa laju penurunan tanah masih bisa dihentikan. Langkah paling realistis adalah menghentikan atau membatasi pengambilan air tanah agar perencanaan kota ke depan dapat dilakukan secara lebih aman dan berkelanjutan.

“Kalau dibiarkan pengambilan air tanah terus-menerus dan land subsidence berlanjut, niscaya gedung-gedung akan miring, retak, dan mengalami kerusakan struktural,” jelasnya.

Sebagai pembanding, Yus mencontohkan Tokyo, Jepang, yang mulai menyadari masalah penurunan tanah sejak 1925. Pemerintah setempat kemudian membatasi pengambilan air tanah secara bertahap mulai 1950, hingga akhirnya melarang pengambilan untuk sektor industri.

“Tokyo mulai membatasi sejak 1950, dan sekitar 1975 land subsidence-nya baru berhenti,” ujarnya.

Contoh lain terjadi di Santa Clara, California, Amerika Serikat, di mana pengambilan air tanah untuk pertanian dihentikan dan lahan dialihfungsikan. Kebijakan tersebut berhasil menurunkan tekanan terhadap air tanah dan menghentikan amblesan tanah. (Asp)

#BRIN #Penurunan Muka Tanah #Jakarta
Bagikan
Ditulis Oleh

Asropih

Berita Terkait

Indonesia
BRIN: Jakarta Utara Ambles 3,5 Cm per Tahun, Risiko Banjir Naik 40 Persen
BRIN mengungkap Jakarta Utara mengalami penurunan tanah hingga 3,5 cm per tahun akibat pengambilan air tanah berlebihan. Meningkatkan risiko banjir.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 12 Januari 2026
BRIN: Jakarta Utara Ambles 3,5 Cm per Tahun, Risiko Banjir Naik 40 Persen
Indonesia
PSI Kritik Rencana Proyek Monorel Ragunan-Setu Babakan Jakarta
August juga mempertanyakan dari mana pendanaan dan keberlanjutan dari proyek monorel yang direncanakan oleh Pemprov DKI.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 11 Januari 2026
PSI Kritik Rencana Proyek Monorel Ragunan-Setu Babakan Jakarta
Indonesia
Aksi Tawuran Dengan Bawa Parang Digagalkan Polisi, 7 Pemuda Diamanankan
Seluruh terduga pelaku beserta barang bukti selanjutnya diamankan dan diserahkan ke Polsek Cakung, Jakarta Timur, guna proses pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 11 Januari 2026
Aksi Tawuran Dengan Bawa Parang Digagalkan Polisi, 7 Pemuda Diamanankan
Indonesia
Begini Rencana Anggaran Rp 100 Miliar Buat Bongkar Tiang Monorel di Jakarta
Anggaran tersebut juga untuk membuat jalan, trotoar, dan merapikan keseluruhan Jalan Rasuna Said.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 11 Januari 2026
Begini Rencana Anggaran Rp 100 Miliar Buat Bongkar Tiang Monorel di Jakarta
Berita Foto
Pemprov DKI Jakarta Bangun Kembali JPO Sarinah Dilengkapi Lift untuk Lansia dan Disabilitas
Aktivitas pekerja menyelesaikan pembangunan Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) Sarinag, Kawwasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (10/1/2026).
Didik Setiawan - Sabtu, 10 Januari 2026
Pemprov DKI Jakarta Bangun Kembali JPO Sarinah Dilengkapi Lift untuk Lansia dan Disabilitas
Berita Foto
Pemprov DKI Jakarta Beberkan Skema Pembongkaran Tiang Monorel di Kuningan
Suasana LRT Jabodebek dan kendaraan melintas dekat tiang monorel yang mankrak di Jalan Rasuna Said, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jum'at (9/1/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 09 Januari 2026
Pemprov DKI Jakarta Beberkan Skema Pembongkaran Tiang Monorel di Kuningan
Indonesia
TPS Rusunawa PIK 2 Ditutup untuk RTH, Penghuni Buang Sampah Harus ke Rawa Terate
Penutupan TPS Rusunawa PIK 2 dilakukan untuk mengatasi bau sampah yang sangat menyengat
Wisnu Cipto - Jumat, 09 Januari 2026
TPS Rusunawa PIK 2 Ditutup untuk RTH, Penghuni Buang Sampah Harus ke Rawa Terate
Berita Foto
Siswa SMK Negeri 1 Jakarta Santap Makan Bergizi Gratis (MBG) Perdana Tahun 2026
Siswa menunjukkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) perdana di tahun 2026 di SMK Negeri 1 Jakarta, Jl. Budi Utomo, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 08 Januari 2026
Siswa SMK Negeri 1 Jakarta Santap Makan Bergizi Gratis (MBG) Perdana Tahun 2026
Berita Foto
Melihat Penyuntikan Vaksinasi Influenza Flubio untuk Cegah Super flu bagi Warga di Jakarta
Dokter memberikan vaksin influenza Flubio kepada warga di Klinik Pratama Aisyah, Taman Sari, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Januari 2026
Melihat Penyuntikan Vaksinasi Influenza Flubio untuk Cegah Super flu bagi Warga di Jakarta
Indonesia
Begini Pengaturan Lalu Lintas Saat Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak di Jakarta
Dinas Bina Marga akan mulai melakukan pembongkaran tiang monorel yang mangkrak di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 07 Januari 2026
Begini Pengaturan Lalu Lintas Saat Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak di Jakarta
Bagikan