BRICS Kecam Ancaman Penaikan Tarif yang Dilontarkan Presiden AS Donald Trump
Agenda pertemuan Forum Urbanisasi BRICS ke-4, di Istana Itamaraty, Kementerian Luar Negeri Brazil, pada Senin, (23/06/2025) waktu setempat.. (Foto: Kemenko Infrastruktur)
MERAHPUTIH.COM — KELOMPOK negara berkembang BRICS pada Minggu waktu Brasil mengecam penaikan tarif dagang, meski tidak menyebut langsung Presiden AS Donald Trump.
KTT dua hari itu diwarnai ketidakhadiran dua anggota terkuat. Presiden China Xi Jinping absen untuk pertama kalinya sejak menjabat pada 2012. Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara melalui konferensi video, karena masih menghindari perjalanan ke luar negeri akibat surat perintah penangkapan internasional akibat invasi Rusia ke Ukraina.
Dalam sindiran tidak langsung terhadap AS, deklarasi BRICS menyatakan keprihatinan serius atas meningkatnya tarif yang dinilai tidak konsisten dengan aturan WTO (Organisasi Perdagangan Dunia). BRICS menambahkan pembatasan tersebut mengancam perdagangan global, mengganggu rantai pasokan, dan menciptakan ketidakpastian.
Baca juga:
Trump Ancam Terapkan Tarif Baru bagi Negara Anggota BRICS yang Dukung Kebijakan Anti-Amerika
Trump, melalui platform media sosial miliknya pada Minggu malam, menyatakan negara anggota BRICS yang berpihak kepada kebijakan anti-Amerika akan dikenai tarif tambahan sebesar 10 persen.
Trump sebelumnya mengancam akan mengenakan tarif 100 persen terhadap blok tersebut jika mereka mengambil langkah yang merugikan dolar AS.(dwi)
Baca juga:
Bagikan
Berita Terkait
Donald Trump Peringatkan Iran Jangan Coba-Coba Bangun Nuklir Baru
Ribuan Video dan Foto Kasus Epstein, Publik Lapar dan Haus Informasi Kejahatan
Ekspor Indonesia Tertekan Tarif Trump
Iran Siap Lawan Amerika, Uni Eropa Tambah Sanksi ke Pejabat Teheran
HNW Soroti Partisipasi Indonesia di Board of Peace, Ingatkan Amanat UUD 1945 soal Palestina
Tanpa Inggris-Prancis, Donald Trump Umumkan 26 Anggota Dewan Perdamaian Gaza Termasuk Indonesia
Pasal 5 NATO Bisa Jadi Penyelemat Greenland dari Obsesi Donald Trump
Dinilai Berisiko, Indonesia Harus Siap Mundur dari Board of Peace jika Abaikan Palestina
Indonesia Gabung Board of Peace, Eks Wamenlu Ingatkan Risiko Dominasi AS
Ditekan Trump, Kesepakatan Dagang China dan Kanada Batal