Merahputih.com - Binance mengungkap modus di balik serangan siber yang menyebabkan pencurian aset kripto senilai 6,34 miliar dollar AS atau sekitar Rp 100 triliun.
Dalam investigasinya, bursa kripto terbesar di dunia itu menemukan bahwa pelaku menggunakan wawancara kerja palsu, malware, hingga perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menyusup ke sistem internal perusahaan.
Binance menjelaskan bahwa para penyerang telah merancang operasi tersebut sejak Juni. Mereka tidak langsung menyerang sistem utama, melainkan terlebih dulu mengincar karyawan perusahaan melalui rekayasa sosial dan perangkat lunak berbahaya.
Baca juga:
Korea Utara Bantah Dalangi Peretasan Binance, Tuding AS Memprovokasi
Binance menyatakan telah memulihkan sekitar 98 persen aset yang terdampak menggunakan dana internal perusahaan. Sementara itu, sebagian kecil sisanya terdiri dari mata uang kripto yang jarang diperdagangkan sehingga lebih sulit diperoleh kembali.
Pencurian Kripto Terbesar
Serangan yang berlangsung sekitar empat jam pada 29 Oktober itu dikaitkan oleh Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) dengan kelompok peretas yang berafiliasi dengan Korea Utara.
Pemerintah Korea Utara membantah tuduhan tersebut. Saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Binance juga mengungkapkan bahwa sekitar 2,85 miliar dollar AS dari total aset yang dicuri telah dibekukan. Dengan demikian, dana tersebut tidak dapat digunakan atau ditukar oleh para pelaku.
Baca juga:
Peristiwa ini disebut sebagai salah satu pencurian kripto terbesar yang pernah terjadi. Kabar peretasan tersebut turut memicu tekanan terhadap pasar, dengan harga sejumlah mata uang kripto utama dilaporkan mengalami penurunan tajam.
Wawancara Kerja Palsu Jadi Pintu Masuk Malware
Serangan berlanjut pada September. Kali ini, pelaku menghubungi insinyur Binance lainnya melalui platform pencarian kerja resmi dengan menawarkan kesempatan wawancara di sebuah perusahaan fiktif.
Untuk membangun kepercayaan, mereka terlebih dahulu melakukan komunikasi melalui media sosial, termasuk bertukar foto dan video.
Setelah hubungan terjalin, korban diminta mengunduh tugas uji coba sebagai bagian dari proses rekrutmen. Namun, berkas tersebut ternyata berisi malware yang dirancang dengan teknik penyamaran dan penghindaran deteksi tingkat lanjut.
Baca juga:
Waspadalah! Korea Selatan Peringatkan Kemungkinan Penggunaan AI dalam Peretasan Bank
Binance menjelaskan bahwa malware tersebut bahkan mampu mengganti komponen sah dalam perangkat pengembangan dengan versi berbahaya. Cara ini memungkinkan penyerang menyusup lebih jauh tanpa mudah terdeteksi.
Malware tersebut kemudian menjadi kunci bagi para pelaku untuk membangun koneksi ke sistem internal Binance.