Belajar Memahami Arti Mager Saat PPKM Darurat

Yudi Anugrah NugrohoYudi Anugrah Nugroho - Sabtu, 17 Juli 2021
Belajar Memahami Arti Mager Saat PPKM Darurat

Ternyata jadi kaum mager ada positifnya. (Foto: Unsplash-Kingacichewicz)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MAGER atau malas gerak jadi istilah paling populer di masa pandemi. Sejak muncul kebijakan PSBB sampai berubah PPKM Mikro, setiap orang diminta belajar, bekerja, dan beribadah di rumah.

Tempat perbelanjaan tutup lebih awal. Penyekatan terjadi di banyak titik. Hanya pengendara berbekal Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) bisa melintas.

Baca Juga:

Pekerjaan Rumah Kerap Menjadi 'Pekerjaan Sekolah' Saat Ngilmu di Negeri Aing

Beruntunglah bagi para kaum mager, sebab dengan rebahan aja sudah membantu memutus mata rantai penyebaran COVID-19 di tengah lonjakan kasus harian.

Saat beberapa orang merasa tak betah hanya di rumah saja, justru kaum mager senang bukan main ketika diminta tidak berkegiatan di luar rumah.

Biasanya, mager di rumah paling asyik main gadget di kamar sambil rebahan. Dunia serasa milik sendiri kalo udah mager. Apa mungkin dunia sedang menuntut orang jadi mager?

mager
Mager sambil nonton dapat membantu kesehatan mental. (Unsplash-Freestocks)

Kenyamanan hari ini, bagi banyak orang, menurut Brian O`Connor, Profesor Filsafat Univesity College Dublin dikutip Time, merupakan gambaran sekilas tentang bagaimana rasanya tidak melakukan apa-apa selama lebih dari beberapa jam di waktu senggang melupakan gangguan di tempat kerja.

Banyak orang, menurutnya, menggunakan tunjangan liburan berbayar untuk mengisi energi, mengatasi beberapa tingkat kesejahteraan emosional, dan kemudian bersiap untuk kembali bekerja. "Kenyamanan, dengan cara ini, dimasukkan ke dalam dunia kerja. Ini bukan subversi dari itu," kata O`Connor menepi hubungan semakin erat antara pekerjaan kita dan identitas pribadi.

Baca juga:

Bolos Sekolah Belum Tentu Anak Salah

Filsuf besar berpendapat, lanjutnya, tidak perlu belajar dari cara hidup di luar dunia peradaban Barat begitu sibuk.

Jika memiliki firasat dunia kita miliki saat ini menuntut terlalu banyak usaha sebagai imbalan atas kebahagiaan terlalu sedikit, sambungnya, kita dapat melakukan lebih buruk daripada melihat apa dapat kita pelajari dari bentuk kehidupan lain itu. "Potensi dalam kemalasan untuk kebebasan lebih besar tampaknya layak untuk dieksplorasi. Atau setidaknya upaya untuk memikirkan apa yang mencegah kita benar-benar tidak melakukan apa-apa saat ini".

mager
Mager berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan. (Unsplash-Ramiro pianarosa)

Jangan salah, mager juga bisa jadi produktif. Teknologi udah canggih, apa aja bisa dilakukan di Smartphone kalian.

Bisa buka scroll media sosial buat mendapat info-info terkait kondisi di luar rumah. Trus kalo mau belajar sesuatu bisa liat tutorial di Youtube, misalnya cara membuat kue, cara mengatur kamera, cara makeup, dan cara-cara lainnya.

Secara tidak langsung ilmu bisa diraih, tanpa harus mengikuti kelas tatap muka.

Mager juga ada manfaatnya bagi kesehatan. Pertama, dengan banyak beristirahat tentu akan menjaga metabolisme tubuh, supaya terhindar dari penyakit.

Kedua, dapat mengurangi stres akibat pikiran tidak berhenti bekerja atau cemas lantaran kabar tentang COVID-19 semakin mengkhawatirkan.

mager
Mager jadi hal penting di tengah pandemi. (Unsplash-Claudia Manas)

Ketiga, mager dapat menurunkan tekananan darah. Dilansir dari Alodokter, salah satu cara untuk menurunkan tekanan darah dengan beristirahat.

Mager di tengah pandemi Covid-19 juga memiliki sisi positif dan negatif. Apa sisi negatif dari mager?.

Dilansir dari halodoc, gaya hidup sendetery atau
diam dalam waktu lama atau mager, akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan seperti menguragi sirkulasi aliran darah, meningkatkan kadar serta asam lemak, dan menyebabkan diabetes, jantung serta hipertensi.

Kamu tidak perlu berasa bersalah jika mengatakan mager kepada teman mengajakmu pergi di masa PPKM Mikro. Justru mager akan menyelamatkanmu dan orang kamu sayangi. (Cil)

Baca juga:

Meja Sekolah Jadi Arena Psywar Anak Pagi Versus Siang

#Kesehatan #Juli Ngilmu Di Negeri Aing #Hobi
Bagikan

Berita Terkait

Berita Foto
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Ketua Tim Bidang Penyusunan Rencana Prioritas Pemanfaatan Dana Desa, Sappe M. P. Sirait saat Program Keluarga Sigap di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 15 Januari 2026
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Indonesia
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Ratusan pengungsi pascabanjir bandang di Aceh Tamiang mengalami berbagai penyakit seperti ISPA hingga diare. Tim Dokkes Polri turun beri layanan kesehatan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 15 Januari 2026
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Dunia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Perubahan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump meminta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) meninjau bagaimana negara-negara sejawat merekomendasikan vaksin.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
  AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Indonesia
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Pemerintah DKI telah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ihwal Super Flu ini.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Indonesia
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Dikhawatirkan, penyakit ini berdampak pada beban layanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Indonesia
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Indonesia
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Indonesia menjadi salah satu negara yang terpapar jenis virus ini.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Lifestyle
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Siloam Hospitals Kebon Jeruk memiliki dan mengoperasikan tiga sistem robotik, yakni Da Vinci Xi (urologi, ginekologi, bedah digestif, dan bedah umum), Biobot MonaLisa (khusus diagnostik kanker prostat presisi tinggi), dan ROSA (ortopedi total knee replacement).
Dwi Astarini - Jumat, 19 Desember 2025
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Fashion
'Heavier Than Ever': Perpaduan Heavy Metal dan Subkultur Motor dari Lawless Jakarta
Kolaborasi Black Sabbath dan Lawless Jakarta menghadirkan koleksi eksklusif "Heavier Than Ever" berupa apparel, helm, dan skate deck edisi terbatas.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 12 Desember 2025
'Heavier Than Ever': Perpaduan Heavy Metal dan Subkultur Motor dari Lawless Jakarta
Fun
GJAW 2025 Hadirkan Program Komunitas Seru, Dari Campervan Show hingga Diecast
GJAW 2025 menghadirkan program komunitas seperti Campervan Show dan Diecast On GJAW, memperkaya pengalaman pengunjung di ICE BSD.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 28 November 2025
GJAW 2025 Hadirkan Program Komunitas Seru, Dari Campervan Show hingga Diecast
Bagikan