MerahPutih.com – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang patut diwaspadai.
Sepanjang Juni hingga Juli 2026, PVMBG mencatat 19 kali erupsi dengan status aktivitas masih berada di Level III (Siaga).
Baca juga:
Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, BMKG Ungkap Kondisi Terbaru Potensi Tsunami di Selat Sunda
Ancaman Erupsi Anak Krakatau Bukan Main-Main
Ancaman erupsi Anak Krakatau ini bukan main-main, sehingga Basarnas Lampung memperkuat edukasi mitigasi kepada masyarakat pesisir, terkait pentingnya kesiapsiagaan warga
“Dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kegawatdaruratan akibat bencana, khususnya erupsi Gunung Anak Krakatau, telah dilakukan sejumlah upaya, salah satunya memperkuat edukasi kepada masyarakat,” kata Kepala Kantor Basarnas Provinsi Lampung, Deden Ridwansah, di Bandarlampung, Senin (3/8).
Edukasi yang diberikan mencakup tata cara penyelamatan diri saat terjadi erupsi. Basarnas membekali masyarakat agar mampu melakukan evakuasi awal sebelum tim SAR, TNI, maupun aparat tiba di lokasi.
Baca juga:
Gempa 5,5 Guncang Selat Sunda Saat Status Anak Krakatau Naik Siaga III, Ini Pemicunya!
Pemberdayaan Warga Pesisir
Deden menekankan, pelatihan ini sangat penting bagi warga di wilayah rawan seperti Desa Way Muli, Lampung Selatan, yang pernah terdampak erupsi besar pada 2018, serta masyarakat di Pulau Sebesi dan pulau-pulau terdekat.
Warga juga diharapkan mampu membantu evakuasi keluarga dan tetangga, mengingat lokasi terdampak seringkali jauh dari pusat bantuan sehingga membutuhkan waktu tempuh panjang.
Dengan membekali masyarakat agar bisa melakukan evakuasi awal, risiko darurat dapat dikurangi secara mandiri,
Kepala Kantor Basarnas Provinsi Lampung, Deden Ridwansah
Kolaborasi Berkelanjutan
Basarnas menegaskan langkah antisipatif harus dilakukan secara berkelanjutan bersama unsur terkait. Tujuannya dilansir Antara, meminimalisir korban jiwa dan dampak negatif bila kedaruratan terjadi.
Baca juga:
“Kesadaran dan peran aktif masyarakat sangat penting untuk mencegah bencana kebakaran hutan dan lahan maupun erupsi gunung,” tandas Deden.

