MerahPutih.com - Israel dan Amerika Serikat melancarkan duet serangan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan itu juga selain menewaskan termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, juga menyerag infrastruktur minyak Iran, termasung kilang.
Amerika Serikat (AS) dilaporkan kecewa dengan skala serangan udara Israel terhadap depot bahan bakar Iran pada akhir pekan, dan hal itu menjadi perbedaan pendapat yang menonjol pertama antara kedua sekutu tersebut sejak dimulainya penyerbuan terhadap Iran.
Laporan Axios, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, menyebutkan bahwa serangan pada Sabtu menargetkan sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran, jumlah yang melebihi perkiraan pejabat AS setelah Israel sebelumnya memberi tahu Washington mengenai operasi tersebut.
Kebakaran besar dilaporkan terjadi di ibu kota Iran, Teheran, setelah serangan tersebut, dengan asap tebal terlihat membubung di atas tangki penyimpanan bahan bakar dan kawasan industri.
Baca juga:
Berkah Harga Minyak Dunia Naik Bikin Pendapatan Industri Hulu Naik
Pernyataan pihak militer Israel menyebutkan, depot bahan bakar yang menjadi sasaran serangan itu digunakan pemerintah Iran untuk memasok bahan bakar kepada berbagai pihak, termasuk unit-unit militernya.
Para pejabat AS mengatakan Israel telah memberi tahu militer AS sebelum operasi dilaksanakan, namun Washington tetap terkejut dengan luasnya cakupan serangan tersebut.
“Presiden tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak. Ia ingin menyelamatkan minyak itu, bukan membakarnya. Dan hal itu mengingatkan orang pada kenaikan harga bensin,” kata seorang penasihat Presiden AS Donald Trump.
Pejabat AS khawatir serangan terhadap infrastruktur yang melayani masyarakat Iran dapat menimbulkan dampak strategis yang berbalik arah dengan memperkuat dukungan publik terhadap kepemimpinan Iran serta mendorong kenaikan harga minyak global.
“Kami tidak berpikir itu adalah ide yang baik,” kata seorang pejabat senior AS tersebut.
Laporan itu menyebutkan bahwa meskipun fasilitas yang diserang bukan merupakan lokasi produksi minyak, para pejabat di Washington khawatir rekaman yang memperlihatkan depot bahan bakar yang terbakar dapat mengguncang pasar energi.
Pejabat Iran memperingatkan bahwa serangan yang terus berlanjut terhadap infrastruktur energi dapat memicu pembalasan.
Juru bicara Markas Khatam al-Anbiya Iran, yang mengawasi operasi militer, mengatakan Teheran dapat merespons dengan serangan serupa di berbagai wilayah jika serangan semacam itu terus terjadi.
Ia menambahkan bahwa Iran sejauh ini menghindari menargetkan infrastruktur energi di kawasan, namun memperingatkan bahwa jika langkah tersebut diambil, harga minyak global dapat melonjak hingga 200 dolar AS (sekitar Rp3,4 juta) per barel..
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan, Teheran akan melakukan pembalasan “tanpa penundaan” jika serangan terhadap infrastruktur terus berlanjut.