MerahPutih.com - Amerika Serikat dan Iran dikabarkan hampir menandatangani nota kesepahaman sepanjang satu halaman untuk mengakhiri perang serta menetapkan kerangka negosiasi nuklir yang lebih rinci.
Dilansir Axios, AS berharap Iran dapat merespons dalam waktu 48 jam terhadap isu-isu utama.
Menurut laporan tersebut, kondisi itu adalah kesepakatan terdekat yang pernah dicapai keduanya sejak perang dimulai pada akhir Februari lalu.
Dalam draf kesepakatan tersebut, Iran diminta menangguhkan pengayaan nuklir, Amerika harus mencabut sanksi dan membebaskan dana yang dibekukan, serta keduanya harus melonggarkan pembatasan transit di jalur Selat Hormuz.
Baca juga:
Trump Kembali Ultimatum Iran Soal Nuklir, Uni Eropa Desak Pemulihan Selat Hormuz
Dari sumber Axios, banyak ketentuan bergantung pada kesepakatan akhir AS dan Iran, sehingga hal itu bisa menimbulkan risiko konflik baru maupun gencatan senjata yang sudah berkepanjangan menjadi tak terselesaikan.
Laporan menyebut Presiden AS Donald Trump menunda operasi baru di Selat Hormuz guna mempertahankan gencatan senjata karena ada kemajuan dalam perundingan.
Draf nota kesepahaman berisi 14 poin tersebut sedang dinegosiasikan oleh dua orang utusan Trump, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, bersama dengan sejumlah pejabat Iran. Negosiasi itu dilakukan baik secara langsung maupun melalui mediator.
Rancangan itu juga mencakup penghentian perang dan dimulainya masa negosiasi selama 30 hari mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, pembatasan program nuklir Iran, serta pencabutan sanksi.
Perundingan lanjutan mungkin akan dilakukan di Islamabad atau Jenewa. Selama periode itu, pembatasan pelayaran Iran dan blokade laut AS akan dilonggarkan secara bertahap.
Axios juga melaporkan Amerika dapat kembali memberlakukan blokade atau melanjutkan aksi militer jika perundingan gagal mencapai hasil.
Namun, durasi moratorium pengayaan nuklir Iran masih menjadi perdebatan. Iran mengusulkan lima tahun, sementara Amerika menginginkan hingga 20 tahun, dengan perkiraan kompromi berkisar 12 hingga 15 tahun.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump menilai Iran sebagai ancaman utama yang datang dari Timur Tengah.
“Ancaman terbesar bagi Amerika Serikat yang berasal dari Timur Tengah datang khususnya dari Iran, baik secara langsung melalui kemampuan nuklir dan misilnya, maupun secara tidak langsung lewat miliaran dolar yang disalurkan kepada kelompok teror proksinya, termasuk Hezbollah,” katanya.