Apakah Masih Perlu Terapkan 3M jika Sudah Divaksin COVID-19?
Tetap terapkan 3M meski sudah diberikan vaksin. (Foto: Unsplash/CDC)
KEHADIRAN vaksin Pfizer-BioNTech menjadi ramai dibicarakan setelah dipesan oleh beberapa negara. Meski begitu, kamu yang mendapatkan vaksin tersebut harus tetap mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M) untuk melindungi diri dan orang lain dari COVID-19.
Internis di University of Illinois School of Public Health, Jay Bhatt dan dokter di Massachusetts, Shazia Ahmed sepakat protokol kesehatan menjadi alat utama unuk mencegah infeksi dan penularan virus. Mengenakan masker wajah misalnya, dapat mengurangi risiko infeksi hingga 70 persen.
Baca juga:
Tiongkok Hentikan Sementara Pengiriman Vaksin COVID-19 ke Luar Negeri
Mengutip laman ABC News, mereka mendapatkan vaksin mengajarkan tubuh cara berhasil melawan virus tanpa benar-benar sakit. Ini tentunya berbeda dengan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang mengandalkan pengurangan paparan virus.
Jadi, untuk mengatasi pandemi secara efektif, semua orang harus mengurangi paparan virus dan mendukung kampanye vaksinasi. Di sisi lain, ada alasan kamu perlu terus memakai masker selama dan setelah vaksinasi. Salah satunya adalah vaksinasi tidak memberikan kekebalan instan.
Mengutip ANTARA, vaksin Pfizer, BioNTech, dan Moderna membutuhkan dua dosis yang diberikan dengan jarak dua minggu. Tergantung pada vaksinnya, perlu waktu empat hingga enam minggu sejak pemberian dosis awal untuk mencapai tingkat kekebalan dan perlindungan yang sebanding dalam uji klinis.
Lebih lanjut, uji coba vaksin tidak melacak apakah peserta memakai masker. Mengingat kurangnya data, tidak jelas apakah kemanjuran vaksinasi ada hubungannya dengan peserta uji coba vaksin yang mengikuti langkah-langkah keamanan kesehatan masyarakat, seperti memakai masker.
Baca juga:
[HOAKS atau FAKTA]: Paus Fransiskus Sebut Vaksin COVID-19 Tiket Masuk Surga
Alasan lainnya, ada kemungkinan penyedia layanan kesehatan tidak meniru uji klinis terkontrol. Faktor-faktor seperti bagaimana vaksin disimpan, diangkut, dan diberikan dapat menentukan keefektifan vaksin.
Selain itu, ambang batas kekebalan kelompok untuk COVID-19 juga tidak diketahui. Kekebalan kelompok terjadi ketika cukup banyak yang terpapar virus, biasanya melalui vaksinasi, dan membatasi kemampuan virus untuk menyebar.
Hal lainnya yang menjadi pertimbangan, durasi kekebalan vaksin yang tidak diketahui. Kabar baiknya, sel memori sistem kekebalan tubuh yang mengidentifikasi infeksi dan meningkatkan respons kekebalan, bertahan lebih dari enam bulan pada pasein COVID-19 tertentu. (and)
Baca juga:
Obat ARV Tersendat, ODHA Berhadap Uji Klinis Vaksin COVID-19 Sukses
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo