MerahPutih.com - Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi alias Pertamax dan sejenisnya, membuat masyarakat beralih ke pertalite untuk menekan pengeluaran.
PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) mengatakan peningkatan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar dan Pertalite menjadi penyebab utama antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Sumatera Barat (Sumbar).
Yang pertama pasti karena peningkatan demand untuk konsumen kendaraan solar maupun Pertalite,
kata Sales Area Manager (SAM) Retail Sumbar Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fakhri Rizal Hasibuan di Kota Padang, Sumbar, Senin (22/6).
Hal tersebut disampaikan Fakhri terkait antrean kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU di kabupaten dan kota di Ranah Minang. Selain di Kota Padang, hal serupa juga terjadi di Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Pariaman dan Kota Bukittinggi.
Baca juga:
[HOAKS atau FAKTA]: Prabowo Larang Rakyat Demo Kenaikan BBM Jenis Pertamax
Berdasarkan data yang dihimpun Pertamina Sumbagut, konsumsi kendaraan yang menggunakan Pertalite naik tiga persen dan Solar 10 persen. Jika ditelusuri lebih jauh, peningkatan ini diduga karena perpindahan konsumsi pemilik kendaraan.
Artinya, kendaraan yang awalnya menggunakan Pertamax beralih menggunakan Pertalite. Begitu juga dengan kendaraan yang semula mengonsumsi Dexlite atau Pertamina Dex beralih ke Solar.
Jadi memang ada peningkatan demand. Untuk Pertalite itu kurang lebih ada kenaikan tiga persen dan Solar 10 persen,
katanya.
Ia menyampaikan kenaikan konsumsi Solar hingga 10 persen sudah terjadi sejak Mei 2026. Sementara, peningkatan konsumsi Pertalite terjadi sejak 10 Juni 2026 atau bertepatan dengan kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Menurutnya, antrean panjang kendaraan baik yang akan mengisi Solar maupun Pertalite umumnya terjadi di daerah yang berada cukup jauh dari Integrated Terminal (IT) Teluk Kabung, Kota Padang.
Selain jarak yang lumayan jauh, antrean BBM subsidi di sejumlah SPBU juga terjadi karena faktor alam seperti longsor di beberapa titik hingga sejumlah kejadian di kawasan Sitinjau Lauik.
Sementara itu, Izul salah seorang pengendara mengatakan cukup kesulitan mendapatkan BBM jenis Pertalite sejak dari Kabupaten Pasaman Barat hingga ke Kota Bukittinggi.
Sejak dari Kinali hingga ke Bukittinggi kendaraan mengantre cukup panjang. Belum lagi beberapa SPBU tidak memiliki stok Pertalite,
ujarnya.