Analisis Formasi Menyerang Kubu Prabowo ke Kandang Jokowi yang Berujung Blunder
Pasangan Prabowo-Sandi saat debat capres (Twitter @sandiuno)
MerahPutih.com - Jika ditilik dari hasil hitung cepat, pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tertinggal jauh dari rivalnya Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam Pilpres 2019 (54,5 persen: 45,5 persen). Yang menarik adalah menganalisa mengapa Prabowo-Sandi tertinggal dari lawannya. Padahal tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi begitu gencar ‘menyerang’ kandang atau basis-basis suara Jokowi-Ma’ruf sebelum pemilu. Sebut saja Jawa Tengah dan Bali.
Namun faktanya, berdasar hitung cepat di tiga provinsi itu suara Jokowi naik tajam meninggalkan Prabowo dibanding pemilu 2014. Di Jateng misalnya. Pada 2014 Jokowi mendapat 66,65 persen. Sedangkan 2019, dia unggul dengan 77,86 persen. Yang paling tajam adalah lonjakan di Bali. Dimana pada 2014 mantan Wali Kota Solo mengumpulkan 71,42 persen dan sekarang menyapu 91,82 persen.
Menurut analisa Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin, kekalahan paslon nomor 2 justru disebabkan penerapan strategi yang salah oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. Yakni “menyerang” basis suara Jokowi.
Yang paling mencolok adalah di Solo, Jateng. Seperti diketahui, BPN memindahkan posko pemengan Jateng di Solo. Bahkan posko itu berdekatan dengan gerai Markobar, bisnis kuliner anak Jokowi, Gibran Rakabuming Raka. Menurut Ujang, itu merupakan strategi yang tak efektif. “Masyarakat di Solo sangat kuat terhadap kubu 01 itu. Itu kan sulit digoyahkan. Kecuali dengan kekuatan full," kata Ujang kepada MerahPutih.com, Senin (22/4).
“Membuat basis-basis untuk menyerang di basis lawan itu belum cukup untuk merontokkan dan meruntuhkan lawan politiknya. Apalagi Prabowo belum mampu menawarkan program-program yang mampu memikat hati masyarakat Solo,” imbuh dia.
BACA JUGA: Momen Ketika Prabowo Sangat Percaya Quick Count tapi Kini Meminta Mereka ke Antartika
Apalagi mengetahui serangan kubu sebelah, tentu saja kubu Jokowi-Ma'ruf tak diam saja. Mereka bertahan dan makin gencar menawarkan program-program pemerintah yang pernah langsung dirasakan masyarakatnya di Solo. Di sisi lain, Jateng yang dipimpin Gubernur Ganjar Pranowo juga sangat all out memenangkan Jokowi.
Nah, keasyikan menyerang, kubu Prabowo justru melakukan blunder di Boyolali Jateng. Prabowo blunder kala pidato “muka Boyolali” yang dia lontarkan menjadi ramai dan viral. Kata Ujang, pidato Ketua Umum Partai Gerindra itu begitu meninggalkan luka menganga bagi orang Boyolali. Terbukti saat pencoblosan. Puluhan TPS di Boyolali tak memberikan suaranya sama sekali untuk Prabowo. Alias 0.
Nah, bisa jadi masyarakat di Solo, Boyolali dan Jateng justru terusik dengan formasi menyerang tim BPN. Mereka pun “mengamuk” dan dengan senang hati memberikan suara ke Jokowi. Alhasil, suara Jokowi di Jateng pun melonjak tajam di Pemilu 2019.
Blunder Sandi di Bali.
Selai itu, kubu Prabowo-Sandi juga banyak melakukan blunder selama masa kampanye. Salah satunya, ketika Sandi mendatangi Bali yang notabene adalah basis Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai pendukung utama Jokowi. Di sana sandi salah langkah dengan melontarkan akan mengembangkan wisata halal.
BACA JUGA: Luhut: Prabowo Bukan Pemimpin yang Tak Bisa Diajak Berpikir
Kata dia, sangat tidak relevan bila Sandi menawarkan program wisata halal di Bali lantaran mayoritas masyarakat Bali bergama Hindu. “Harusnya bicara saja program-program yang bisa mengentaskan kemiskinan masyarakat Hindu, tentang memperkuat agama Hindu, memperkuat ekonomi masyarakat Hindu. Jangan dibelokkan dengan alternatif wisata halal. Seharusnya masuk ke wilayah kebatinan mereka," beber dia.
"Kan saya sudah pernah katakan ada satu pepatah 'jika kita ingin mendekati suatu kaum, harus menggunakan bahasa kaumnya'. Harus menggunakan bahasa apa kebutuhan mereka, keinginan mereka. Tidak mungkin diberikan kampanye tentang wisata halal," sambung Ujang.
BACA JUGA: Kubu Jokowi Undang Alumni 212 Masuk Lingkaran Kekuasaan
Ujang menyimpulkan formasi menyerang agresif yang dilakukan kubu Prabowo-Sandi sendiri yang membuatnya kalah dari Jokowi. Menurutnya, kalkulasi kubu Prabowo kurang cermat dan cenderung grasa grusu. Hal tersebut terlihat dari berbagai blunder yang dilakukan Prabowo-Sandi yang berdampak pada perolehan suara di sejumlah tempat.
"Ya, grasa-grusu, tidak cermat, tidak tepat sasaran, sehingga bahasa saya 'sekedar rame saja'. Sehingga tidak mampu menarik suara. Tidak mampu menjadi magnet suara di lapangan. Bagaimana di permukaan rame, di bawah juga dapat menarik suara. Itu yang penting," pungkasnya. (Pon)
Bagikan
Thomas Kukuh
Berita Terkait
[HOAKS atau FAKTA]: Prabowo Stop Gaji Anggota DPR selama 3 Bulan, Uangnya Dipakai untuk Bantu Korban Bencana Alam
Dinilai Berisiko, Indonesia Harus Siap Mundur dari Board of Peace jika Abaikan Palestina
Indonesia Gabung Board of Peace, Eks Wamenlu Ingatkan Risiko Dominasi AS
Izinnya Dicabut Prabowo, 28 Perusahaan Perusak Hutan Diminta Bertanggung Jawab
Arahan dari Prabowo, BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Jabodetabek
Indonesia Gabung Badan Internasional Trump, Prabowo Dinilai Sedang Cari Celah untuk Bela Palestina
Prabowo Tandatangani Piagam Board of Peace, Indonesia Kawal Perdamaian di Gaza
Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Penyebab Banjir di Sumatra, ini Daftar Lengkapnya
Gerindra Bantah Prabowo Usulkan Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI
Presiden Prabowo Subianto Tiba di Inggris Perkuat Kemitraan Strategis dan Diplomasi Ekonomi Global