Parenting

Anak Butuh Lebih Banyak Pelukan, Ini Cara Melakukannya dengan Benar

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Jumat, 18 Februari 2022
Anak Butuh Lebih Banyak Pelukan, Ini Cara Melakukannya dengan Benar

Selama pandemi, banyak anak hanya bisa mendapatkan kenyamanan fisik yang dibutuhkan dari keluarga terdekat. (Foto: freepik/pch.vector)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KETIKA seorang anak mengalami hari yang berat karena merasa sendirian dan stres, sepertinya pelukan dari seseorang yang mereka cintai bisa menjadi obatnya. Bukan sekadar perasaan, kata para ahli. Bukti menunjukkan pelukan penting untuk kesejahteraan seseorang dalam setiap tahap kehidupan.

"Kontak fisik yang baik membantu menenangkan sistem saraf dan memainkan peran penting dalam mengatur emosi," kata Lisa Damour, psikolog klinis berbasis di Ohio, AS yang mengkhususkan diri dalam perkembangan gadis remaja.

Dalam masa perubahan mendadak dan ketidakpastian berkepanjangan sekarang ini, dapat dikatakan bahwa banyak anak-anak dan orang dewasa membutuhkan pelukan lebih dari sebelumnya. Akses ke kasih sayang fisik yang menenangkan, bagaimanapun, telah menyusut karena orang menjaga jarak satu sama lain untuk tetap aman dari COVID-19.

"Tantangannya adalah anak-anak, dan terutama remaja, mendapatkan banyak kenyamanan dari kontak fisik dengan teman sebayanya," kata Damour, penulis buku Under Pressure: Confronting the Epidemic of Stress and Anxiety in Girls.

"Gulat fisik, saling bertabrakan, duduk berdekatan, itu semua berkurang akibat pandemi, karena harapan agar anak-anak untuk menjaga jarak dengan baik, dan itu semua juga diawasi. Bukannya mendapatkan bantuan, mereka malah disalahkan," Damour menambahkan.

Baca juga:

Sarkasme Bisa Jadi Tanda Kecerdasan pada Remaja

Tanpa banyak teman bermain, olahraga, dan kesempatan untuk bersosialisasi, banyak anak hanya bisa mendapatkan kenyamanan fisik yang mereka butuhkan dari keluarga terdekat, kata Damour. Namun, tidak setiap keluarga memiliki budaya yang sama seputar pelukan.

Dengan begitu, banyak hal yang perlu dikhawatirkan dalam pandemi ini, yaitu kemungkinan keluarga tidak menghiraukan tanda-tanda bahwa anak-anak membutuhkan sedikit kehangatan dan kasih sayang ekstra.

Sementara pelukan penting untuk kesejahteraan, penting juga untuk memastikan anak-anak mengerti bahwa mereka memiliki otoritas penuh atas tubuh mereka, kata psikolog klinis Lisa Damour seperti diberitakan CNN.

Membiasakan pelukan dalam keluarga

Anak Butuh Lebih Banyak Pelukan, Ini Cara Melakukannya dengan Benar
Pelukan penting untuk kesejahteraan, tapi pastikan anak mengerti tentang otoritas atas tubuhnya. (Foto: freepik/jcomp)

Budaya keluarga seputar pelukan serta preferensi pribadi anak dapat memengaruhi cara terbaik untuk menghadirkan lebih banyak kenyamanan ke dalam rumah.

"Beberapa anak lebih nyaman mencari kasih sayang. Anak-anak lain benar-benar mencari orang untuk menangkap isyarat dan sinyal mereka, seperti ketika mereka mungkin tertekan atau frustrasi," kata Sheri Madigan, seorang psikolog klinis dan profesor perkembangan anak di Universitas Calgary, Kanada.

"Syarat yang sangat penting bagi anak-anak untuk merasakan keselamatan dan keamanan sebenarnya adalah membuat orang memperhatikan isyarat itu," dia menekankan. Salah satu cara untuk memulai dan menyesuaikan diri dengan isyarat anak adalah dengan mengajukan pertanyaan.

"Sesederhana mengatakan, kepada anak-anak yang lebih kecil, 'Apakah kamu ingin dipeluk?' Dan jelaskan bahwa kamu tidak masalah jika jawaban tidak. Tidak ada rasa tersinggung. Untuk remaja, terutama jika mereka terluka, saya pikir itu bagus untuk mengatakan, 'Bisakah saya memelukmu?'," kata Damour.

Namun, sama seperti anak-anak yang berbeda dalam cara mereka mengomunikasikan kebutuhan akan kasih sayang, mereka juga dapat berbeda dalam jenis kasih sayang yang mereka inginkan. Sebagai orang dewasa dalam kehidupan mereka, kamu masih dapat menyesuaikan diri untuk memenuhi kebutuhan emosional dengan cara yang kreatif.

Caranya bisa dengan mungkin catatan cinta kecil di kotak makan siang mereka, berdesakan di sofa sambil bercanda, atau naik bermain sembunyi di balik selimut bersama.

Baca juga:

Jadi Orangtua yang Baik, Ubah Pola Pikir dan Perilaku Terhadap Anak

Pelukan untuk kebutuhan anak, bukan orang lain

Anak Butuh Lebih Banyak Pelukan, Ini Cara Melakukannya dengan Benar
Orangtua dapat menyesuaikan diri untuk memenuhi kebutuhan emosional dengan cara yang kreatif. (Foto: freepik/pressfoto)

Salah satu komponen terpenting dari kasih sayang fisik yang baik dan bermanfaat adalah memastikan bahwa itu didorong oleh anak, bukan karena orangtua atau pengasuh menginginkannya, kata Damour.

"Itu akan memiliki efek kebalikan dari apa yang kita inginkan untuk anak-anak. Alih-alih kasih sayang fisik yang menghibur dan meyakinkan, itu malah memicu kecemasan," dia menekankan.

Di situlah membaca isyarat anak masuk, kata Madigan. Jika kamu dapat melihat anak merasa stres atau kesal, mungkin inilah saatnya untuk membangun kosakata emosional mereka dan menawarkan kasih sayang, bukan memaksakannya.

Memberdayakan otonomi tubuh anak-anak penting untuk membuat pelukan yang kamu berikan sekarang efektif dan menenangkan, tetapi juga untuk mendorong kemampuan mereka untuk mengingatkan kasih sayang yang tidak pantas dan tidak diinginkan untuk tahun-tahun mendatang.

Cara ini bukan untuk menakut-nakuti anak-anak, tetapi ada baiknya masukkan percakapan agar anak bisa memahami apa itu pelukan yang baik dan bagaimana pelukan yang buruk. (aru)

Baca juga:

Membangun Ikatan Kuat antara Ibu Sambung dengan Anak Tiri

#Parenting #Anak
Bagikan
Ditulis Oleh

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital yang memiliki latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan, gaya hidup, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat. Mahir menyusun artikel melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna memastikan kualitas informasi yang disajikan. Dalam aktivitas profesionalnya, Ananda fokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat. Setiap artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data yang cermat guna memastikan kualitas informasi yang disajikan.

Berita Terkait

Indonesia
Age Assurance Senjata Baru PP Tunas Tutup Celah Anak Manipulasi Umur Daftar Medsos
Pentingnya teknologi Age Assurance bagi PSE sesuai PP Tunas. Teknologi ini menutup celah verifikasi usia manual dan didukung program literasi digital untuk orang tua.
Wisnu Cipto - Jumat, 22 Mei 2026
Age Assurance Senjata Baru PP Tunas Tutup Celah Anak Manipulasi Umur Daftar Medsos
Indonesia
Cek Kesehatan Gratis di Sekolah Temukan Ribuan Siswa Alami Masalah Gigi dan Anemia
Program Cek Kesehatan Gratis di sekolah menemukan berbagai masalah kesehatan siswa, mulai dari gangguan kebugaran, gigi berlubang, anemia hingga tekanan darah meningkat.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 07 Mei 2026
Cek Kesehatan Gratis di Sekolah Temukan Ribuan Siswa Alami Masalah Gigi dan Anemia
Indonesia
Kasus Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta, Dosen dan Hakim Aktif Diminta Segera Dinonaktifkan
Beberapa anak terlaporkan mengidap penyakit seperti pneumonia, bronkitis, infeksi saluran kemih (ISK), hingga mengalami stunting akibat kekurangan gizi dan dehidrasi
Angga Yudha Pratama - Minggu, 03 Mei 2026
Kasus Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta, Dosen dan Hakim Aktif Diminta Segera Dinonaktifkan
Indonesia
Skandal Little Aresha Yogyakarta Picu Amarah, DPR RI Desak Reformasi Izin Daycare
Pemerintah daerah kini memikul tanggung jawab besar untuk menyisir kembali legalitas setiap satuan pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman penitipan anak
Angga Yudha Pratama - Selasa, 28 April 2026
Skandal Little Aresha Yogyakarta Picu Amarah, DPR RI Desak Reformasi Izin Daycare
Indonesia
Jika Daycare Lakukan Kekerasan ke Anak, Ini Yang Harus Dilakukan Orang Tua
Pengelola tempat penitipan anak yang baik seharusnya terbuka dan kooperatif dalam menanggapi kekhawatiran yang disampaikan oleh orang tua.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 27 April 2026
Jika Daycare Lakukan Kekerasan ke Anak, Ini Yang Harus Dilakukan Orang Tua
Indonesia
Ingat Ortu, Popok Itu Jangan Bikin Kulit Bayi Irotasi
Popok tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan dasar, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pencegahan untuk menjaga kenyamanan dan mendukung tumbuh kembang si Kecil dalam penggunaan sehari-hari.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 25 April 2026
Ingat Ortu, Popok Itu Jangan Bikin Kulit Bayi Irotasi
Indonesia
Akhirnya, YouTube Patuhi Aturan Batasan Usia Pengguna 16 Tahun di Indonesia
Kini halaman Bantuan YouTube di Indonesia, tertulis pernyataan resmi: “Jika Anda berusia di bawah 16 tahun di Indonesia, akses ke akun Anda di YouTube mungkin akan dinonaktifkan.”
Wisnu Cipto - Rabu, 22 April 2026
Akhirnya, YouTube Patuhi Aturan Batasan Usia Pengguna 16 Tahun di Indonesia
Olahraga
DPR Dukung Larangan Anak di Bawah 16 Tahun Punya Akun Media Sosial
Komisi I DPR mendukung kebijakan Komdigi, yang melarang anak di bawah 16 tahun memiliki akun media sosial.
Soffi Amira - Rabu, 11 Maret 2026
DPR Dukung Larangan Anak di Bawah 16 Tahun Punya Akun Media Sosial
Indonesia
Aturan Batas Usia Medsos di RI, Komisi I DPR Tekankan Platform Wajib Patuh!
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono menekankan keberhasilan kebijakan aturan batasan usia medsos bergantung pada implementasi di lapangan
Wisnu Cipto - Senin, 09 Maret 2026
Aturan Batas Usia Medsos di RI, Komisi I DPR Tekankan Platform Wajib Patuh!
Indonesia
Akun Medsos Anak Indonesia Mau Diperketat, Verifikasi Usia Online dan Wajib Disetujui Orang Tua
Pemerintah bersama platform digital kini tengah membentuk sistem pengawasan bersama untuk memperkuat perlindungan anak dari paparan konten negatif.
Wisnu Cipto - Selasa, 24 Februari 2026
Akun Medsos Anak Indonesia Mau Diperketat, Verifikasi Usia Online dan Wajib Disetujui Orang Tua
Bagikan