Amerika Berjuang Lawan Inflasi dan Resesi
Warga AS tengah belanja. (Foto: Tangkapan Layar/ VOA)
MerahPutih.com - Kenaikan suku bunga 75 basis poin yang diumumkan oleh The Fed pada Rabu (27/7), ditambah dengan tindakan sebelumnya pada Maret, Mei dan Juni, telah mendongkrak suku bunga acuan bank sentral dari mendekati nol ke level antara 2,25 persen dan 2,50 persen.
Kebijakan ini merupakan pengetatan kebijakan moneter tercepat sejak mantan Ketua Fed Paul Volcker berjuang melawan inflasi dua digit pada 1980-an di Amerika Serikat.
Baca Juga:
The Fed Naikkan Suku Bunga 75 Basis Poin, Amerika Hadapi Resesi
Federal Reserve mengatakan, pihaknya tidak akan gentar dalam pertempurannya melawan inflasi paling intens di Amerika Serikat sejak 1980-an sekalipun jika itu berarti "periode berkelanjutan" dari kelemahan ekonomi dan pasar pekerjaan yang melambat.
Ketua Fed Jerome Powell diserang dengan pertanyaan tentang apakah ekonomi AS berada dalam atau di puncak resesi. Namun, ia menolak gagasan tersebut karena perusahaan-perusahaan AS terus merekrut lebih dari 350.000 pekerja tambahan setiap bulan.
"Saya tidak berpikir AS saat ini dalam resesi, Tidak masuk akal bahwa AS akan berada dalam resesi," katanya kepada wartawan dikutip dari VOA.
Kebijakan menaikkan suku bunga ke tingkat sekarang ini menurut sebagian besar pejabat Bank Sentral memiliki dampak ekonomi yang netral, yang pada dasarnya menandai berakhirnya upaya era pandemi untuk mendorong pengeluaran rumah tangga dan bisnis.
Dengan data terbaru menunjukkan kenaikan harga konsumen lebih dari 9 persen maka investor berharap Bank Sentral akan menaikkan suku bunga setidaknya setengah point lagi dalam pertemuan September mendatang.
Berbagai perusahaan di Amerika Serikat seperti Walmart, Apple, Meta, Microsoft dan Amazon dan General Motors, telah mengumumkan menurunnya perkiraaan laba karena dampak inflasi pada barang kebutuhan pokok seperti makanan. Para pelanggan mengurangi pembelian kondisi ini mendorong turunya pembelian berbagai barang.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, probabilitas Indonesia untuk mengalami resesi akibat ketidakpastian geopolitik saat ini hanya 3 persen berdasarkan survei Bloomberg. Probabilitas Indonesia lebih rendah dibandingkan Jepang 25 persen, China 25 persen, Taiwan 20 persen, Malaysia 20 persen, Vietnam 10 persen dan Filipina 8 persen.
Untuk AS yang memiliki probabilitas resesi mencapai 40 persen karena mengalami inflasi mencapai 9,1 persen dengan consumer confidence index hanya di level 50. Sementara China mengalami pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 hanya 0,4 persen seiring penerapan lockdown di kuartal ini sehingga memiliki probabilitas resesi mencapai 25 persen.
"Probabilitas resesi terjadi karena adanya volatilitas global yang meningkat sehingga menimbulkan potensi pelemahan kinerja ekonomi negara-negara di seluruh dunia," ujarnya. (Asp)
Baca Juga:
Amerika dan Sekutunya Cari Cara Kurangi Keuntungan Rusia Dari Penjualan Minyak
Bagikan
Asropih
Berita Terkait
7 Tewas dan 800 Ribu Rumah tanpa Listrik saat Badai Musim Dingin Landa Amerika Serikat
Iran Mengaku Lebih Siap Hadapi Serangan AS
AS dan Kanada Makin Panas, Trump Ancam Terapkan Tarif 100 Persen
Isu Akuisisi Greenland oleh AS, Menlu: Indonesia Tegaskan Posisi Non-Align
Keluar dari WHO, Amerika Serikat Wajib Bayar Utang Rp 4,3 Triliun
Indonesia dan Negara Timur Tengah Bakal Tempuh Prosedur Internal Gabung ke Dewan Perdamaian Gaza Ala Trump
Demo Bela Venezuela di Depan Kedubes AS, Perhimpunan Ojol Sebut Amerika tak lagi Jadi Acuan Demokrasi
Unggahan di Truth Social, Trump Mengklaim Sebagai Presiden Sementara Venezuela
AS Siapkan Rencana Aneksasi, Pasukan NATO Bakal Ditempatkan di Greenland
Senat AS Loloskan Resolusi Kewenangan Perang, Tolak Ancaman Militer Donald Trump terhadap Venezuela