MerahPutih.com - Sebanyak tujuh pegawai nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengalami peretasan.
Peretasan itu terjadi bertepatan dengan aksi demonstrasi yang dilakukan Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) di kantor KPK, Senin (27/9), sekitar pukul 14.30 WIB.
Pegawai nonaktif KPK Ronald Paul Sinyal membenarkan hal tersebut. Dia mengakui akun WhatsApp rekan-rekannya juga mengalami peretasan.
"Mereka diambil nomornya. Jadi kalau mau diaktifkan lagi harus ke pihak provider," kata Ronald kepada wartawan, di gedung ACLC KPK, Jakarta, Senin (27/9).
Baca Juga:
KPK Dinilai Makin Garang dan Kuat Tanpa Novel Baswedan Cs
Ronald mengungkapkan, ketujuh rekannya yang mengalami peretasan akun WhatsApp antara lain Farid Andhika, Benydictus Siumlala, Ambarita Damanik, Tri Artining Putri, Chriestie Afriani, Waldy Gagantika, dan Qurotul Aini Mahmudah.
Diketahui, BEM SI menggelar unjuk rasa di gedung KPK lantara ultimatum mereka tak digubris Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ultimatum yang dimaksud, terkait nasib pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dipecat akibat tak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK).
"Aliansi BEM Seluruh Indonesia dengan Gerakan Selamatkan KPK kembali bergerak, untuk menindaklanjuti dari ultimatum Jokowi yang telah melewati 3x24 jam dari ultimatum dikirimkan," kata Koordinator Media BEM SI Muhammad Rais dalam keterangannya, Senin (27/9).
BEM SI menilai, Jokowi tidak menunjukkan keberpihakannya kepada 56 pegawai KPK yang akan dipecat, dengan tidak menggubris ultimatum yang mereka berikan.
Di sisi lain, mereka menyebut KPK kini tidak lagi menjadi lembaga negara yang memberantas korupsi, melainkan berubah menjadi Komisi Perlindungan Korupsi.
"Bagaimana tidak? Pegawai-pegawai jujur telah disingkarkan dengan adanya TWK dengan dalih wawasan kebangsaan hingga timbul fitnah dugaan Taliban tanpa alasan," tegas Rais.
Baca Juga:
BEM SI Geruduk KPK, Firli Bahuri Pilih Terbang ke Jambi
KPK, kata Rais, yang seharusnya memberantas korupsi di negeri ini justru digembosi saat gencar-gencarnya memberantas kasus besar.
"Indonesia sedang tidak baik-baik saja, bukan ini reformasi yang kita mau. Maka dari itu, Aliansi BEM Seluruh Indonesia dengan Gerakan Selamatkan KPK mengajak seluruh mahasiswa di Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan seluruh elemen masyarakat untuk mengikuti Aksi Nasional," ujar Rais. (Pon)
Baca Juga:
KPK Ogah Tanggapi Demo BEM SI