Makin Mudah, Akses Permodalan bagi Pelaku Usaha
Masih ada tantangan yang perlu dihadapi bagi para pelaku usaha. (Foto: Unsplash/Towfiqu barbhuiya)
POTENSI bisnis dalam sektor pendidikan bisa semakin lancar jika mendapatkan supply barang di bidang pendidikan dan mampu memasarkan dengan baik. Sistem Informasi Pengadaan Sekolah (SIPLah) pun membantu pertumbuhan bisnis pelaku usaha/UKM pada sektor pendidikan di Indonesia, sehingga adanya tren peningkatan.
Hal itu terlihat dari tingginya jumlah penyedia kebutuhan pendidikan yang bergabung dengan SIPLah Telkom yang merupakan salah satu e-commerce resmi SIPLah.
“Kami telah melihat adanya peningkatan tren secara positif dengan terus meningkatnya transaksi yang terjadi dan jumlah penyedia kebutuhan pendidikan. Hingga saat ini, ada sekitar lebih dari 20.000 penyedia kebutuhan pendidikan dengan jutaan produk yang dijual secara variatif bergabung bersama kami,” kata Dwi Meidianty, selaku tim bisnis SIPLah Telkom dalam keterangan resminya.
Hal itu menunjukkan bahwa ada keuntungan potensial yang dapat dicapai ketika para pelaku usaha/UKM Pendidikan mau beralih dari cara konvensional dan bergabung dengan mitra SIPLah.
Baca juga:
Meskipun transaksi meningkat, masih ada tantangan yang perlu dihadapi bagi para pelaku usaha, salah satunya akses permodalan. Perusahaan financial technology Pintek pun melakukan riset pada Juli 2021 pada lebih dari 80 pelaku usaha pendidikan. Terdapat 69 persen UKM Pendidikan membiayai usahanya mengandalkan pendanaan pribadi, sedangkan 57 persen kesulitan dalam mendapatkan pendanaan selama dua tahun terakhir.
“Adanya kekurangan informasi menjadi hambatan karena UKM biasanya tidak masuk audit lembaga keuangan konvensional. Oleh karena itu sejak awal 2021, kami memfokuskan strategi bisnis untuk pendanaan bagi pelaku usaha/UKM Pendidikan,” kata Tommy Yuwono, Co-Founder dan Direktur Utama Pintek.
Baca juga:
Sejalan dengan survei yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik 2020, sekitar 69,02 persen, UMKM mengalami kesulitan permodalan di saat pandemi COVID-19. Data tersebut menunjukkan bahwa bantuan permodalan bagi UMKM menjadi hal yang penting.
Pelaku usaha/UKM pendidikan dapat memanfaatkan peer-to-peer lending untuk memperoleh akses mudah dan cepat ke pinjaman modal tanpa agunan untuk mengembangkan usaha. Hasil laporan Roaring 20s: The SEA Digital Decade yang dilakukan oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, 59 persen pedagang digital di Indonesia sekarang mengadopsi solusi pinjaman digital.
“Dengan inovasi pembiayaan yang kami miliki, kami berharap dapat mendorong semangat pelaku usaha/UKM pendidikan untuk dapat mengembangkan bisnisnya, secara khusus di masa pandemi ini,” tutup Tommy. (and)
Baca juga:
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
Brosur hingga Billboard: Alasan Promosi Offline Masih Efektif Menjangkau Konsumen
'Summarecon Discovery', Pengalaman Visual Perjalanan 50 Tahun Bisnis Properti
Sosok Hans Patuwo yang Jebolan Universitas dan Perusahaan Ternama di AS, Calon ‘Orang Nomor Satu’ di GoTo
Alasan Prahara Banyak Startup Bangkrut & Gagal Versi BRIN
FLEI 2025 Dorong Jenama Lokal Tembus Pasar Global, Kadin Sebut Potensi Ekspor maki Terbuka
Dharma Jaya Catat Lonjakan Bisnis 190 Persen Sambil Jaga Ketahanan Pangan
‘KPop Demon Hunters’ Mewarnai Lorong Camilan di Korea Selatan, dari Mi Instan hingga Cake Bikin Perusahaan Cuan Besar
Tersangkut Kasus Pajak, Ketua Ferrari Jalani Hukuman Kerja Sosial
Unsur Politis Harus Dihindari Dalam Rencana Bisnis Kopdes, Bisa Gagal Jika Ambil Alih Bisnis Eksisting
Pendapatan KAI Melonjak 29 Persen, Catatkan Laba Bersih Rp 2,21 T di 2024