Ahli Gizi: Wahai Orang Indonesia, Susu Beruang Tak Bisa Sembuhkan Covid-19
Dokter dan pakar gizi angkat bicara tentang manfaat susu beruang (Foto: Pexels/Alex Green)
LONJAKAN kasus COVID-19 beberapa minggu belakangan membuat masyarakat diserang kepanikan. Di tengah kepanikan tersebut, muncul sebuah informasi bahwa susu steril kalengan bermerek Bear Brand atau dikenal dengan Susu Beruang mampu menangkal virus COVID-19. Tak lama setelah kabar tersebar, masyarakat berbondong-bondong menyerbu Susu Beruang di pusat perbelanjaan. Di sejumlah supermarket produk itu ludes.
Fenomena panic buying seperti hal itu biasanya disebabkan ketakutan akan kehabisan persediaan. Rasa takut itu dipicu emosi dan pengaruh sosial. Membeli dalam jumlah banyak memberi orang rasa kendali atas situasi. Meski demikian, panic buying bukan hal bijak dilakukan di saat krisis. Hal itu bisa menimbulkan efek negatif, seperti gangguan rantai pasokan hingga kehabisan stok dan kenaikan harga.
BACA JUGA:
"Pagi Kerja, Malam Party" Starter Pack
Namun, muncul pertanyaan, apakah benar Susu Beruang memang efektif menangkal virus COVID-19?
Fenomena Susu Beruang untuk menyembuhkan pasien COVID-19 menggelitik dokter asing untuk berkomentar. Vice President, Chief Quality Officer, Chief Division of Infectious Diseases of University of Maryland Dokter Faheem Younus, MD, menegaskan Susu Beruang tidak dapat menyembuhkan COVID-19. "My Indonesian friends, susu ini, atau vitamin atau ivermectin tidak memiliki peran dalam pengobatan COVID," jelasnya di akun Twitter miliknya.
Pernyataan Younus tersebut diamini dokter ahli gizi asal Indonesia, Dr dr Tan Shot Yen, M Hum. Ia menegaskan bahwa tidak ada hubungan antara jumlah vitamin dan risiko terinfeksi virus COVID-19. "Susu ngehits tidak membuat seseorang imun terhadap infeksi COVID-19. Kecuali ASI. Ibu yang terinfeksi atau telah vaksinasi terbukti menghasilkan antibodi dalam ASI," urainya.
Berdasarkan informasi yang dilansir BKA, antibodi dari vaksin COVID-19 terdeteksi di semua busui yang sudah mendapatkan vaksin. Proses transfer antibodi dari ibu ke anak optimal terutama dua hingga enam minggu setelah ibu menyusui divaksin. "Penelitian terbaru menunjukkan vaksin ini aman untuk ibu menyusui bahkan antibodinya pun muncul di dalam ASI," ujar dokter Adam Prabata, PhD. Ketika antibodi sudah ditransfer, tubuh bayi berpotensi kebal terhadap virus COVID-19.(Avia)
Bagikan
Berita Terkait
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah